Artikel

Mengembangkan Gagasan Kurikulum Profetik (1)

Oleh: Syafinuddin Al-Mandari

Pendahuluan

Inovasi pembelajaran untuk suatu proses pencerdasan kian bergerak maju. Sejumlah pendekatan digagas dan diujicobakan untuk menemukan cara terbaik mencerdaskan peserta didik. Pada akhir decade 1980-an, beberapa sekolah mulai digelisahkan dengan gugatan terhadap Intelligency Quotient (IQ) sebagai pemegang kendali kecerdasan manusia. Muncul gagasan baru yang menyatakan bahwa IQ bukan penentu bahkan perannya tidak terlalu besar dalam keseluruhan proses pencerdasan manusia. IQ boleh tinggi tapi segenap faktor lain perlu dikembangkan.

Bobbi dePorter dan Mike Hernackie (1992) kemudian menuliskan pengalamannya mengelola sebuah sekolah lapangan terbuka, SuperCamp. Sekolah para remaja yang dibukanya 10 tahun sebelum menuliskan gagasan tentang Quantum Learning itu dianggap terbukti sanggup melejitkan berbagai kemampuan peserta didiknya. Testimoni para orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah tersebut kebanyakan menyatakan ungkapan surprise karena di luar dugaan, anak-anak yang semula sangat lamban atau dalam bahasa umum dianggap bodoh ternyata mencapai kemajuan yang luar biasa.

Apa yang ditawarkan oleh SuperCamp itu? Cara belajar! Mengenali cara belajar dan mengembangkannya sebagai sebuah pijakan dalam proses pembelajaran merupakan semacam rahasia sukses kegiatan Bobbi dePorter itu. Teori-teori pembelajaran era 1960-an sebenarnya masih dimanfaatkan dalam konteks ini, seperti yang tergambar dalam konsep psikologi perkembangan yang mendudukkan cara berpikir sekuensial konkrit, acak konkrit, acak abstrak, dan sekuensial abstrak.

Hingga datangnya teori kecerdasan berganda dari Howard Gardner yang menyatakan bahwa tiap-tiap orang memiliki jenis kecerdasan yang berbeda-beda, inovasi pembelajaran dianggap mengalami perkembangan yang sangat berarti. Manusia tidak berlomba untuk satu jenis kecerdasan. Ini pulalah yang dikembangkan menjadi konsep “gaya belajar” peserta didik. Melejitkan kecerdasan menurut konsep ini dimulai dari kemampuan memanfaatkan gaya belajar tadi. Namun demikian, kalau proses perkembangan teori pendidikan diperhatikan dengan saksama tentu tidak salah apabila dikatakan bahwa pengaruh konstruktivisme yang mengasumsikan bahwa setiap orang dapat membangun sendiri kecerdasannya.

Pelajaran yang dapat diambil dari perkembangan teori pembelajaran tersebut adalah telah terjadi perubahan besar konsep pembelajaran dari segi cara atau metode dan instrumen belajar. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah inti pembelajaran (dan selanjutnya pendidikan) harus ditumpukan penuh pada metode dan instrumennya?

Hakikat Proses Belajar

Disiplin yang paling akrab dengan teori belajar dan pembelajaran atau sering disamakan dengan teori pendidikan adalah psikologi. Psikologi sangat berjasa memberikan perspektif tentang hakikat belajar untuk mencapai kecerdasan. Kecerdasan itu sendiri sebenarnya bukan suatu obyek yang statis sehingga orang cerdas hanya teridentifikasi dengan banyaknya pengetahuan yang ketahuinya. Kecerdasan adalah sebuah kemampuan menemukan sendiri pengetahuan baru sebagai resultante informasi yang diterimanya dengan kualitas pemahaman yang dicapainya.

Baca juga :  Pemprov DKI Disarankan Buat Kurikulum Pedidikan Bahaya Narkoba

Psikologi memberikan andil yang sangat besar dalam pembelajaran. Hingga saat ini teori psikologi telah berkembang sebanyak empat tahapan besar atau jika ditambah dengan variannya, sudah mengalami enam tahapan perkembangan. Makalah ini tidak memasukkan varian-varian tersebut. Masing-masing teori memiliki asumsi dasar tentang manusia dan perilakunya yang kemudian dikembangkan di dalam lapangan pendidikan sebagai konsep-konsep pembelajaran. Secara ringkas, perkembangan psikologi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, Psikoanalisis. Tokoh utama psikoanalisis adalah Sigmund Freud yang mengembangkan sebuah asumsi dasar tentang perilaku manusia yang dikendalikan oleh alam bawah sadar. Konsep alam bawah sadar adalah sebuah suasana asli tanpa pengaruh apapun yang membentuk kejiwaan manusia beserta perilaku yang ditimbulkannya. Manusia menurutnya adalah homo volens atau manusia berkeinginan. Kehendak manusialah yang menguasai dirinya. Implikasi asumsi ini dalam pendidikan adalah pengarusutamaan kebebasan seseorang untuk menemukan kecerdasannya. Tiada tabu yang dapat menghalanginya termasuk larangan budaya dan agama (dosa).

Kedua, Behaviorisme. Tokoh-tokoh seperti  Edward Throndike, Ivan Pavlov, Bhurrus Frederic Skinner, Robert Gagne, dan Albert Bandura tidak setuju dengan konsep itu. Mereka berpendapat bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan di sekelilingnya. Selama satu abad lebih lembaga-lembaga pendidikan mengadopsi teori ini sebagai dasar pengembangan proses belajar. Asumsi dasar teori ini terbaca pada konsep homo mechanicus, manusia mesin. Manusia berkembang sangat mekanistik tergantung pada lingkungannya.

Ketiga, Kognitivisme. Kognisi manusialah yang berpengaruh, bukan lingkungan. Asumsi dasarnya terdapat pada konsep manusia berpikir, homo sapiens. Tokoh-tokoh Psikologi Kognitif seperti Wilhelm Wudt dan Willian James menyatakan bahwa sebelum menerjemahkan informasi yang diperolehnya, manusia terlebih dahulu telah memiliki persepsi awal yang terdapat pada scheme dalam pikirannya. Inilah yang menentukan corak pengetahuan baru yang diperolehnya, bukan dari lingkungan. Justru sebaliknya, lingkungan sebagai sumber informasi harus terlebih dahulu ditakar oleh kognisi manusia untuk melahirkan konsep baru.

Keempat, Humanisme. Psikologi humanistik mengasumsikan manusia sebagai homo ludens, manusia bermain. Prinsip homo ludens adalah interaksi antar-personal. Pada dunia pendidikan konsep ini marak digunakan untuk meningkatkan keterampilan, namun selanjutnya dikembangkan menjadi konsep pembelajaran berkelompok untuk menemukan atau membangun sebuah konsep baru. Abraham Maslow, Carl Roger, Arthur Combs, Aldous Huxley, Davis Mills dan Stenley Sher berturut-turut mengembangkan teori-teori psikologi humanistik sebagai sebuah jawaban atas potensi pasifnya kecerdasan kognitif karena hasil olah pikir akan lebih banyak muncul justru saat manusia berinteraksi dengan manusia lain pada sebuah sistem kerja yang telah didesain untuk pencerdasan.

Apabila konsep psikologi humanistik ini dianggap sebagai konsep termaju dari proses pembelajaran, maka dapat dinyatakan bahwa prinsip pengembangan pendidikan adalah rantai pemerolehan informasi menjadi sebuah pemahaman dan kesadaran. Hakikat proses belajar adalah upaya “mengeksploitasi” perangkat-perangkat yang ada untuk menemukan sebuah pengetahuan baru. Biasanya, penemuan pengetahuan baru inilah yang menandai tingkat kecerdasan seseorang.

Baca juga :  Ajaran Tan Malaka Akan Dimasukkan ke Kurikulum Pendidikan Nasional?

Menurut hemat penulis, hakikat belajar haruslah berkembang dari sekadar upaya mengetahui banyak informasi, menemukan konsep baru, menerapakan konsep-konsep, dan menyelesaikan masalah. Kemampuan menerapkan suatu pengetahuan hingga menyelesaikan masalah akan mengantarkan seseorang kepada sebuah citra ilmuwan atau intelektual. Apakah ukuran-ukuran ini sudah cukup memadai untuk membawa manusia memanusia secara sebenarnya? Tentu saja  masih perlu pendalaman yang serius.

Konsep Membelajarkan dan Belajar

Apabila ukuran-ukuran itu diterima untuk menandaskan seseorang sebagai ilmuwan atau pemilik  otoritas keilmuan, akan berimplikasi pada proses pendidikan yang sangat eksperimentatif. Seperti diketahui bahwa prinsip eksperimentatif selalu berdasar pada konsep semesta pengetahuan yang empirik dan nyata. Ilmu pun hanya akan berasal dari kenyataan-kenyataan inderawi. Padahal, pengalaman manusia ternyata dapat menjelajah sumber-sumber transcendental yang maha kaya.

Di sinilah letaknya keperluan manusia menemukan prinsip pembelajaran baru, yang dalam makalah ini dinyakatakn sebagai konsep profetik. Konsep profetik nantinya diharapkan akan mengurai perbedaan mendasar antara mengajar, membelajarkan, dan mendidik. Demikian pula implikasinya pada struktur kurikulum dan citra pendidik yang harus hadir pada lembaga-lembaga pendidikan.

“Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dan orang-orang menyerap segala informasi dan mengikuti yang terbaik darinya. Mereka itulah ulil albab.” (Q.S. 39:18). Citra intelektual dalam konsep ulil albab yang diperkenalkan Al-Qur’an adalah sebuah idiom yang kadang-kadang sangat sloganistik seolah tidak memiliki ketersambungan dengan konsep-konsep intelektualistas yang berkembang di sekitar dunia pendidikan. Padahal, hal ini dapat dikonfirmasi mulai dari konsep psikoanalisis hingga psikologi humanistik.

Konsep iman sesungguhnya adalah perbendaharaan kemampuan meluapkan keinginan yang tertuntun oleh keinginan “manusiawi” berdasarkan standar ilahiah. Artinya, konsep homo volens yang mengerangkeng manusia pada keinginan yang tak terbatas seharusnya sampai pada kehendak mengembaranya manusia menuju pemilik ilmu yang Maha Tak Terbatas, Allah SWT. Kalau saja Freud sampai pada konsep ini tentulah beliau akan menyumbang sangat banyak temuan proses pendidikan dan dasar-dasar pencerdasan yang berarti.

Selanjutnya, penyerapan informasi (yastami’un al-qawla) sesungguhnya adalah kombinasi penting antara konsep homo mechanicus dengan homo sapiens. Tak dapat ditampik bahwa manusia sedang ada dalam gilingan mesin lingkungan. Itu benar. Hanya saja, dalam perspektif ulil albab, mekanisme lingkungan untuk perubahan perilaku manusia hanyalah semacam resouces informasi sahaja, bukan hal yang utama dan paling berpengaruh. Scheme dalam konsep homo sapiens haruslah ditempatkan sebagai alat takar untuk dapat memilah dan memilih informasi terbaik. Keputusan dalam pemilihan informasi terbaik itulah yang sesungguhnya dimaksud dengan pemerolehan konsep baru pada khazanah keilmuan modern.

Baca juga :  Hasrat Penyesuaian Kurikulum Picu Kontroversi

Inilah kebaikan yang dimaksud dalam konsep ulil albab. “Diberikan kepada siapa sahaja al-hikmah itu. Dan sesiapa yang telah beroleh al-hikmah maka sungguh ia telah beroleh kebaikan yang banyak.” (Q.S.:2:269). Konsep-konsep baru itulah ilmu pengetahuan baru. Al-Qur’an menggunakan idiom yang lebih dalam maknanya, yakni al-hikmah. Padanannya dalam Bahasa Indonesia adalah kearifan. Pemerolehan kearifanlah sesungguhnya yang dituju oleh setiap kegiatan pendidikan, apapun ranahnya; in-formal, formal, maupun non-formal.

Inilah visi pendidikan integratif yang hendak diperkenalkan pada konsep pendidikan profetik. Penulis hanya akan menyinggung secara ringkas wacana ini mulai dari paradigmanya dahulu. Aspek-aspek terapannya tentu membutuhkan waktu untuk dapat menguraikannya lebih lanjut.

Intrinsik atau Ekstrinsik?

Kecerdasan manusia tidak selalu ekstrinsik, melainkan juga intrinsik. Sisi intrinsik kecerdasan manusia, justru memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendidikan. Al-Qur’an menjelaskan hal ini dengan dua idiom besar yakni; “’allama bil-qalam dan ‘allama ma lam ya’lam”. Perspektif ini menggambarkan dua hal penting, yakni; sumber pengetahuan dan proses pemerolehannya. Ringkasnya, sumber pengetahuan hanya dari Tuhan. Alam dan kenyataan-kenyataan empirik hanyalah perantara.

Proses pemerolehannya dengan dua cara; pencarian dan penyerapan langsung dari Tuhan. Inilah yang akrab dikenal dengan knowledge by correspondence (Al-‘ilm al-hushuli) dan knowledge by presence (al-‘ilm al-hudhuri). Yazdi menerangkan bahwa knowledge by presence merupakan konsep ilmu dan berilmu yang menyatukan antara subyek dan obyek keilmuan. Yazdi mendefinisikan knowledge by presence is the knowledge that results from immediate and intuitive awarenes, advocated by the author as a viable modern philosophical position. Berbeda dengan knowledge by Diskursus tentang hal ini pernah berkembang dan mencapai suatu tahap yang cukup menggembirakan karena banyak perubahan dalam pemahaman tentang kembalinya peran agama dalam proses keilmuan.

Patut disayangkan, konsep ini kandas di tingkat metodologis. Pengungkap-pengungkap konsep ini memiliki kelemahan dalam menurunkan konsep abstrak pada realitas metodis. Dalam beberapa tahun berikutnya, diskursus ilmu hudhuri akhirnya menguap begitu saja.

Seolah-olah perspektif kecerdasan intrinsik kembali menjadi sub-ordinat dari pembicaraan pencerdasan. Arus pencerdasan kembali lagi kepada perspektif kecerdasan ekstrinsik yang memandang bahwa kecerdasan manusia terekonstruksi dari luar dirinya, yakni dari lingkungannya.

Perangkap metodologis tak dapat diremehkan begitu saja karena metode adalah bagian utuh dari pendidikan. Memandang bahwa hanya hakikat konsepsionalnya yang lebih penting, kelihatannya tidak relevan dengan diskursus pendidikan. Konsep pendidikan adalah kesatuan prinsip-prinsip pendidikan hingga materi, metoda, dan pelaku pendidikan.

Bersambung ke bagian kedua: Mengembangkan Gagasan Kurikulum Profetik

Syafinuddin Al-Mandari, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!