Artikel

Mengembangkan Gagasan Kurikulum Profetik (2)

Oleh: Syafinuddin Al-Mandari*

Ikhtiar Baru; Kurikulum Profetik

Konsep yang memandang utuh segala komponen pendidikan perlu dipertimbangkan dalam penyusunan rencana pengembangan pendidikan. Komponen yang dimaksud adalah pendidik, peserta didik, materi, ruang, waktu, serta strategis dan metode pembelajaran. Pendidikan modern tidak menyebut komponen-komponen ini sebagai kurikulum. Kurikulum dipersempit pada seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU. No.20/2003).

Definisi itu kemudian berimplikasi pada berjaraknya sejumlah komponen pembelajaran dengan kurikulum itu. Sementara, jika diperhatikan secara saksama hakikat kurikulum menurut definisi itu berporos pada dua kata kunci yaitu rencana dan tujuan pembelajaran. Kalau ini disepakati, maka tentu sulit ditolak bahwa komponen lain seperti pendidik dan peserta didik beserta waktu dan ruangnya sangat perlu dipertimbangkan. Lebih jauh lagi, segenap pra-kondisi untuk mencapai pembelajaranj yang produktif, sangat perlu diperhitungkan.

Khazanah keilmuan peradaban-peradaban masa lalu memberikan inspirasi bahwasanya pendidikan berjalan melalui suatu proses transfer pengetahuan hingga kemandirian pembelajar (peserta didik) untuk membangun sendiri kemampuan dan pengetahuannya. Para ilmuan niscaya melahirkan ilmuan baru atau para ‘arifin. Ini disebabkan karena persentuhan guru dan murid adalah persentuhan inspirasi yang mengalirkan gagasan sekaligus cara menelusuri sumber-sumber ilmu.

Kurikulum modern, nampaknya abai dengan raihan untuk mencapai kemampuan peserta didik melahirkan konsep baru dan kemampuan menelusuri sumber pengetahuan dari mata arinya yang sebenarnya. Oleh sebab itu, konsep pendidikan modern kaget tentang konsep Tuhan, kecuali hanya pada pengetahuan teknis-akademis (menurut istilah Suharsono:1986) yakni bagaimana mengetahui informasi kitab suci dan menjalankan aturan agama secara mekanistik. Itulah yang terjadi di pesantren dan sekolah agama lainnya akhir-akhir ini. Hal yang termaju dari kurikulum modern, di samping mengantar peserta didik mengetahui atau memahami sesuatu, adalah mampu melaksanakan.

Kurikulum profetik tidak memisahkan komponen-komponen pendidkikan yang ada. Kehadiran guru profetik sama halnya dengan kurikulum hidup yang amat inspiratif. Hadir di hadapan guru profetik laksana sedang mengikuti kuliah dengan sistematika yang apik. Itu baru hadir dan bertatap muka di hadapannya. Tentun akan labih dahsyat lagi seandainya sudah melakukan pembelajaran dengan sistem administrasi yang terencana dengan baik.

Terbiasa dengan cara berpikir akademik yang eksperimantatif, mungkin saja menjadikan konsep ini dilirik hanya sebatas mimpi utopia. Hanya menunjuk pengalaman sejarah tokoh-tokoh dan ilmuwan atau filosof masa lalu bukan sesuatu yang memadai dalam rangka pemberi penjelasan atas konsep kurilukum profetik ini. Masih tetap dituntut perwujudan ril berupa teknis penerapannya secara tertulis.

Baca juga :  Membangun Budaya Membaca Melalui Sudut Baca

Makalah ini memang masih harus dilanjutkan pada breakdown teknis, namun yang terpenting adalah rasionalisasi akan kemungkinan menerapkannya pada pendidikan ril masa kini dan mendatang. Beberapa langkah yang dapat ditawarkan adalah:

Pertama, Menyiapkan guru yang mumpuni. Guru mumpuni adalah guru yang sudah atau tengah mengalami sebuah proses penyucian diri demi mematri kemampuan menyerap ilmu Tuhan. Jalaluddin Rakhmat (2000) memberikan kritik terhadap psikologi humanistik dengan menawarkan konsep Psikologi Agama. Konsep ini membangun asumsi bahwa manusia adalah insan ilahiyah. Imam Khomeini dalam bukunya Syahr-e Hadits-e Junud-e Aql va Jahl yang telah ditermahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Insan Ilahiyah: 2004 menjelaskan hal ini. Jika manusia yang tampil sebagai guru adalah mereka yang sudah atau tengah melakukan proses penyucian maka tentu satu tahap kurikulum akan selesai, yakni inspirasi hidup. Guru bukan pelaku transfer pengetahuan saja tapi pelaku transfer nilai sejati kemanusiaan. Jalaluddin Rakhmat menjelaskan bahwa konsep psikologi agama mengandaikan bahwa kualitas manusia maju bukan tidak berpijak pada alam bawah sadar, lingkungan, kognisi, dan keterampilan komunikasi antar-personal (bermain), melalinkan sejauhmana ia sanggup menyerap sifat-sifat Tuhannya secara benar.

Penyiapan guru dimulai paling tidak setahun sebelum berinteraksi dengan para peserta didik sedemikian sehingga telah dinilai dapat menampilkan sosok teladan yang baik dalam segi tutur kata dan sikap yang lemah lembut, penyayang, peduli dan memiliki perhatian yang tinggi, tulus menerima keberadaan orang lain, jujur, tegas dan berani, berdedikasi tinggi, raji dan bersungguh-sungguh, tekun beribadah, rendah hati, cerdas dan terampil dalam hal-hal teknis pembelajaran, serta komunikatif dan memiliki artikulasi konsep-konsep yang tepat dalam konteks proses pembelajaran.

Citra guru yang menarik para peserta didik di awal proses pembelajaran itu hanya langkah awal. Mereka harus diproses dan memproses diri terus-menerus sedemikian sehingga sosok paripurna seorang yang siap “dijiplak” makin mengkristal. Indikator guru demikian ini adalah jika peserta didik merasa nyaman, berminat untuk menirunya, dan merasa terinspirasi kendatipun sang hanya tampil di hadapan para peserta didik dalam keadaan diam (belum menyampaikan materi pembelajaran). Sebelum komunikasi verbal dilakukan sang guru sudah melakukan komunikasi intuitif dan reflektif yang mungkin saja justru memantik neuron-neuron otak peserta didik untuk memberi jalan bagi lancarnya materi pembelajaran mengalir ke dalam benaknya. Demikian juga sosok sang guru sudah memberi kekuatan lewat pikiran jernih para peserta didik untuk melahirkan analisis yang tajam atas berbagai konsep untuk dapat melahirkan konsep-konsep baru.

Baca juga :  Berawal dari KKN, Mahasiswa Unpad Bikin Kelas Inspirasi

Guru yang demikian inilah kurikulum hidup. Sosoknya yang menarik atom-atom jiwa peserta didik amat penting. Demikian pula interaksi pembelajaran yang dirancang dengan niat beribadah kepada Allah Sang Pemilik Ilmu dan kemampuan menerapkan metodologi permbelajaran yang handal. Keduanya ini tentu bukan saja akan memindahkan ilmu kepada peserta didik namun melipatgandakannya dengan kemampuan peserta didik membangun perspektif baru bahkan konsep-konsep pemikiran yang baru.

Kedua, Peserta didik yang memiliki niat belajar dalam rangka mencapai keridhaan Allah. Prestasi, kompetensi dan keahlian lainnya hanyalah efek dari pengalaman belajar mengejar keridhaan Allah. Keridhaan Allah bukanlah suatu yang abstrak. Indikatornya dapat dikonstruksi secara empirik dengan melihat keceriaan dan terarahnya peserta didik pada konfidensi menghadapi kehidupan. Penilaian belajar pada kurikulum ini melekat pada individu peserta didik, bukan pada kemampuan menjawab dan memberi forto polio pembelajaran belaka di akhir masa pembelajaran. Suatu kekeliruan evaluasi pendidikan adalah rendahnya perhitungan tentang individual assessment ini.

Konsep kurikulum profetik harus mengintegrasikan suatu target kurikuler yakni kompetensi peserta didik dalam pengembangan perspektif dan konsep-konsep baru. Kompetensi tersebut dilatihkan dengan pembiasaan mengembangkan sikap ilmiah; kritis, analitik, inovatif, dan pembiasaan mengasah potensi intuisi serta kemampuan reflektif.

Ketiga, Materi pembelajaran adalah segenap informasi yang dimulai dari kitab suci kepada realitas semesta. Berangkat dari pembentukan sikap individu untuk menguatkan scheme kognisi, sikap sosial untuk membentuk kemampuan berinteksi dalam rangka membentuk pengetahuan baru, hingga keterampilan-keterampilan sesuai dengan talenta peserta didik.

Meteri pembelajaran bukan saja segala hal yang terbentang pada fakta-fakta empirik melainkan segala sesuatu yang mungkin dipikirkan. Materi tersebut dikonsepsikan dalam rumusan-rumusan tersturktur melalui sillabus yang gampang dipedomani.

Keempat, Waktu dan tempat belajar adalah pilihan-pilihan waktu dan tempat yang tepat sesuai materi yang hendak disampaikan. Faktor ini tidak dapat diabaikan. Waktu dan tempat belajar tidak saja harus menjadi sebuah suasana yang segar dan menyenangkan namun juga merupakan kondisi paling optimal untuk jiwa peserta didik dan gurunya untuk membahas materi pembelajaran. Pilihan waktu-waktu utama yang dianjurkan dalam sumber-sumber suci atau lebih lazim dikenal dengan waktu afdhal harus dioptimalkan fungsinya. Demikian juga tempat-tempat yang afdhal berdasarkan sumber-sumber suci.

Kelima, Metoda pembelajaran dilakukan bersama-sama oleh guru, murid (peserta didik), bahkan orang tua murid. Titik tolaknya adalah penyucian diri (tazkiyatun-nafs). Metoda ini sepenuhnya merupakan membangunan karakter yang dimulai dari pembentukan motivasi berbuat (lazim disebut niat), hingga etika sosial dan ekologis yang konstruktif. Pada tahap-tahap awal, pembinaan siswa (peserta didik) harus berfokus pada aspek afektif dalam Taksonomi Bloom. Metoda pengembangan kognitif adalah mengasah ekspresi atas sejumlah inspirasi dengan media tulisan dan pengungkapan-pengungkapan lisan.

Baca juga :  Magnet Pilkada dan Gairah Tokoh Nasional

Keenam, Struktur perencanaan pembelajaran tertulis, teradministrasi, dan terkontrol secara berkala akan menjadi lanjutan dari konsep profetik ini. Prinsipnya adalah upaya memudahkan teknis dan mekanisme proses pembelajaran hingga evaluasi dan tindak lanjut atau pengembangan materi dan proses pembelajaran.

Penutup

Deskripsi gagasan ini adalah suatu langkah awal. Kritik konsepsional sangat terbuka dilakukan untuk menemukan sebuah konsepsi yang lebih utuh dan matang serta memungkinkan untuk dilaksanakan. Gagasan ini sebenarnya bukan suatu yang baru melainkan sebuah rekonstruksi dan reformulasi pengalaman-pengalaman ilmuwan muslim baik di era klasik maupun mutakhir. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini masih ada yang mencoba mempertahankan iklim keilmuan zaman para filosof muslim era klasik dan mendapat apresiasi yang amat tinggi karena kecemerlangannya. Gagasan ini adalah upaya untuk melengkapi dengan komponen keunggulan lainnya sedemikian sehingga mudah dilembagakan dan kelak dapat menjadi model dalam pembaharuan sistem pembelajaran.

Kurikulum profetik adalah konsep tentang menyatunya kurikulum hidup dan kurikulum tertulis yang mengkonstruksi sebuah model baru seperti bergandenganya setiap kitab suci dengan para nabi dan sosok penggantinya yang kompeten. Kitab suci selalu didampingi penafsir otoritatif yang diutus Tuhan. Mereka adalah kitab suci yang berjalan. Sebagaimana kitab suci yang tidak dibiarkan turun ke khalayak umat tanpa sang kitab suci yang berjalan, kurikulum juga seyogyanya didampingi oleh guru-guru yang menguasai batin, filosofi, dan materi pembelajaran secara utuh.

Bacaan:

  1. DePorter, Bobbi, dkk. Quantum Learning, Kaifa, Bandung, 1999.
  2. Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Agama, Mizan, Bandung, 2002.
  3. _________. Psikologi Komunikasi, Rosda Karya Bandung, 1986.
  4. Suharsono. Berpikir Islami, Yogyakarta. 1986.
  5. _________. Gerakan Intelektual, Jihad Masa Depan Islam, Yogyakarta. 1992.
  6. Khomeini. Insan Ilahiah. Pustaka Zahra, Jakarta, 2004.
  7. Yazdi, Mehdi Ha’iri. The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence. Albany, NY: State University of New York Press, 1992.

Sambungan dari bagian pertama: Mengembangkan Gagasan Kurikulum Profetik 

Syafinuddin Al-Mandari, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!