Artikel

Pengaruh Faktor Knowledge dan Gaya Hidup Mahasiswa terhadap Minat Investasi Saham di Pasar Modal

Oleh: Ismi Amin Wigesti*

ARTIKEL, EDUNEWS.ID – Menurut Jack Clark Francis dalam buku lawasnya, Investment: Analysis and Management (5th edition, McGraw-Hill Inc., Singapore, 1991, hal. 1), “Investasi adalah penanaman modal yang diharapkan dapat menghasilkan tambahan dana pada masa yang akan datang.”

Saham (stock) merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrument investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik.

Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Keuntungan investasi antara lain : Dividen, yaitu bagian keuntungan dari perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS); Capital Gain, yaitu keuntungan yang berasal dari jual-beli saham berupa selisih antara harga jual yang lebih tinggi dari harga beli; Fleksibel, berarti pemegang saham dapat menjual sebagian sahamnyaapabila tiba-tiba membutuhkan dana; dan Liquid yang berarti prinsip good delivery dan good fund dalam pasar modal menjamin investor mendapatkan saham dan dananya.

Adapun resiko yang dapat terjadi dalam investasi saham, antara lain: Capital Loss; Tidak mendapat deviden; Saham dikeluarkan dari bursa (delisting); Saham suspend; dan Resiko Likuidasi.

Investasi Saham merupakan suatu strategi yang dilakukan oleh sebagian orang untuk menyimpan aset berupa selembar kertas yang dimiliki oleh investor dengan harapan mndapatkan keuntungan berupa deviden di masa mendatang.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida di Bursa Efek Indonesia, Jumat (28/2/2014) berkata bahwa: “Investor pasar modal belum sesuai harapan. Investor hanya 0,2 persen dari jumlah penduduk. Ini belum sesuai harapan”.

Nurhaida mengatakan Lebih lanjut bahwa, “Dari 4 persen yang memanfaarkan investasi pasar modal hanya 0,1 persen. Akses kepada pasar modal masih terbatas. Bagaimana mendapatkan fasilitas untuk masuk pasar modal. Selain itu, masyarakat atau investor pasar modal juga bertanya tentang perlindungan konsumen”  (Setiawan S. R., 2014).

Indonesia masih menjadi daya tarik bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia bahkan mengalahkan negara ASEAN seperti Thailand dan Malaysia. Faktor yang mempengaruhi besarnya minat investasi, karena penyederhaan perizinan investasi di dalam negeri, termasuk birokrasi regulasi yang tumpang tindih.

Data harian ekonomi terkemuka asal Inggris, The Economist, menyebutkan untuk tahun 2015 Indonesia bertengger di peringkat kedua setelah China sebagai tujuan investasi dunia. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada semester pertama 2015 naik dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya. Jumlah tenaga kerja yang terserap pun cukup signifikan, sekitar 685 ribu orang.

Realisasi investasi (PMA dan PMDN) pada semester pertama 2015 naik 16,6 % (dibanding semester pertama 2014) dengan nominal Rp 259,7 triliun. Bila dihitung dari triwulan pertama 2015, realisasi investasi meningkat 8,4 %. Target tahun ini, nominal realisasi investasi mencapai Rp 519 triliun, atau  naik sekitar 14 % dari pencapaian 2014 (Minat Investasi di Indonesia Meningkat, 2015).

ICAEW Economic Insight: South East Asia memprediksi pertumbuhan investasi Indonesia akan meningkat sebesar 6,2 persen di 2017. Wacana penambahan investasi umum itu seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi meningkat hingga 5,2 persen. “Meningkatnya daya saing Indonesia telah mendorong bertambahnya aliran perdagangan, lapangan kerja, investasi bisnis, dan tingkat belanja konsumen,” ujar Regional Director ICAEW South East Asia, Mark Billington, dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 6 September 2016 (Tempo.co, 2016).

Saat ini investor yang medominasi Pasar Modal Indonesia adalah seseorang yang sudah berpenghasilan. Mahasiswa indonesia sebagian besar belum menggunakan sebagian uangnya untuk berinvestasi, tetapi mereka menggunakan sebagian uangnya untuk ditabung atau bahkan menggunakannya untuk gaya hidup yang hedon seperti berbelanja dan makan di cafe. Mungkin ada beberapa Mahasiswa yang ingin berinvestasi tetapi mereka tidak memiliki atau kurangnya pengetahuan mengenai investasi di Pasar Modal. Hal ini terbukti dengan data yang dimiliki oleh Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan data baru Bursa Efek Indonesia (BEI), tenaga kerja muda dengan usia 26-30 tahun masih mendominasi investor di pasar modal tanah air. Kepala Perwakilan BEI, Early Saputra mengatakan, hal ini menunjukkan berinvestasi di pasar modal ketika seseorang sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Early berpendapat bahwa, “Di Indonesia trennya seperti itu, beda dengan negara-negara Eropa dan negara maju yang malah mengenal pasar modal dari usia SMA”.”

Diketahui, berdasarkan data BEI terbaru per awal Februari 2016 bahwa jumlah investor berusia 26-30 tahun mencapai 4.573 orang, kemudian untuk usia di bawahnya yakni 21-25 tahun mencapai 2.187 orang, dan usia 17-20 tahun 853 orang.

Jumlah investor Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya melimpah kalah dengan jumlah investor asing. Investor asing mendominasi investasi Indonesia sepanjang tahun ini. Menurut data investasi yang dirilis oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi semester I-2016 mencapai Rp. 298,1 triliun. Dari jumlah itu, Penanaman Modal dalam Negeri hanya mencapai Rp. 102,6 triliun. Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) hampir dua kali lipatnya, Rp.195,5 triliun atau sebesar 65,6 persen. Guyuran dana yang melimpah ini, menurut hitung-hitungan BKPM, mampu menyerap 458.310 orang tenaga kerja  (Rochmi, 2016).

Solusi untuk menambah investor dalam negeri yaitu, program BEI kampanye Yuk Nabung Saham yang akan menarik minat mahasiswa dan masyarakat untuk mulai berinvestasi, dan mengubah paradigma dari budaya menabung menjadi berinvestasi. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi salah satu Universitas yang dipilih oleh BEI untuk menyelenggarakan sosialaisasi Yuk Nabung Saham Goes To Campus yang diselenggarakan pada 28 November 2016 lalu. Program ini mampu menarik minat mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dan berinvestasi di Pasar Modal, dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa yang hadir baik mahasiswa UMY ataupun Universitas lain.

Dalam rangka meningkatkan jumlah investor, kata Nickya, dirinya bersama manajemen bursa akan mengeluarkan permainan investasi di pasar modal ‘Nabung Saham Go dan Stocklab’ kepada seluruh mahasiswa yang tergabung dalam 10 ribu galeri investasi. Permainan ini memiliki tujuan untuk menarik antusiasme masyarakat dalam mengenal investasi di pasar modal, baik di sektor saham maupun reksa dana.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Nicky bahwa, “Kita undang mahasiswa lebih dari 10 ribu galeri Investasi, ikut investasi di permainan Nabung Saham Go dan Stocklab. Ini sama kayak seperti Indosat Stock Trading Contest (ISTC), tapi kalau indosat simulais transaksi, ini simulasi game untuk investasi. Game ini akan bisa dimainkan semua orang, ini seperti Pokemon Go”

Permainan game investasi ini tidak hanya dikenalkan untuk mahasiswa, Nicky mengakui, tapi juga dikenalkan untuk masyarakat Indonesia secara luas. Dengan begitu, orang Indonesia mengenal investasi di pasar modal, dan diharapkan bisa bergabung menjadi investor di pasar modal  (TOPSAHAM.COM, 2016)

Selain itu, UMY memiliki organisasi KSPM yaitu Kelompok Studi Pasar Modal yang memberikan tambahan pengetahuan dan pelatihan mengenai investasi. Organisasi KSPM sudah bekerja sama dengan First Asia Capital sebagai pialang dan BEI, sehingga terjamin informasinya akurat. Tidak ada alasan bagi mahasiswa UMY untuk tidak berinvestasi hanya karena kurangnya pengetahuan. Kita sebagai mahasiswa seharusnya aktif mencari informasi.

Pengetahuan atau knowledge sangat diperlukan dalam investasi karena jika seorang mahasiswa yang sedang belajar menjadi investor asal memilih emiten tanpa melihat peluang, resiko dan faktor-faktor lain maka bisa saja tidak mendapatkan keuntungan karena harga sahamnya yang turun. Investasi dapat dilakukan dengan Investasi yaitu kita duduk diam dapat uang (pasif saja), tetapi hasil yang diperoleh biasanya kurang signifikan (kalah dengan trading) dan tergantung pengelola uang atau trading yaitu anda harus ikut aktif, tetapi hasil yang diperoleh bisa sangat besar ataupun justru merugi.

Sebagai mahasiswa kita juga harus pandai mengatur manajemen keuangan. Kita harus menyisihkan sebagian uang untuk berinvestasi di masa depan. Seorang mahasiswa harus bisa menahan perilaku konsumtif, karena hal tersebut tidak membawa manfaat dalam jangka panjang. Dengan menahan perilaku konsumtif, mahasiswa dapat mengalihkan dananya untuk berinvestasi untuk jangka panjang yang akan menghasilkan keuntungan dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi indonesia.

Ketika mahasiswa menyadari akan kebutuhan jangka panjang maka dia akan hidup hemat dan menyisihkan uangnya untuk investasi. Ia rela mengenakan pakaian dan makan seadanya. Seorang mahasiswa tidak akan menyesal telah berinvestasi walaupun harus berhemat dahulu.

Investasi tidak memerlukan banyak uang, saat ini cukup dengan uang Rp 250.000,00 kita sudah bisa investasi. Sebelum investasi calon investor harus melakukan opening account. Cara melakukan opening account juga mudah, kita hanya perlu datang ke pialang resmi dengan membawa persyaratan yang telah ditentukan dan mengisi formulir.

 Dari paparan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor penting dalam melakukan investasi yaitu knowledge (pengetahuan) mengenai investasi di Pasar Modal. Kemudian faktor lain yang mempengaruhi minat investasi mahasiswa adalah kebutuhan gaya hidup.

Maka memotivasi dan mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk investasi agar membantu perekonomian indonesia adalah hal yang penting untuk dilakukan. Selain itu, motivasi perlu dibarengi dengan pemberian panduan dan latihan mengenai investasi di Pasar Modal. Mengubah kebiasaan menabung menjadi berinvestasi.

Ismi Amin Wigesti. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!