Artikel

Perjuangan Rakyat Massenrempulu Melawan Pasifikasi Belanda

Oleh : Andi Rahmat Munawar SSos MSi*

OPINI, EDUNEWS.ID – Setelah Makassar dan daerah-daerah tetangga, yakni Ajatappareng, Tellumpoccoe dan Luwu diserang pasukan Belanda, Massenrempulu mendapat giliran berikutnya. Namun kondisi alam yang berbukit dan pegunungan serta banyak hutan, tentu akan menyulitkan siapapun yang mencoba menyerang Massenrempulu. Kondisi tersebut menyebabkan Massenrempulu adalah pertahanan ideal dan terakhir bagi kerajaan tetangga yang bersahabat dengan Massenrempulu.

Massenrempulu adalah konfederasi kerajaan-kerajaan di daerah Enrekang sekarang. Terdiri dari Enrekang, Kassa, Batulappa, Duri dan Maiwa. Kabar buruk yang menimpa kerajaan dan konfederasi sahabat Massenrempulu menyadarkan bahwa Massenrempulu untuk segera memperkuat pertahanannya. Londe-londe, Kaluppini, Rangnga, Bambangpuang dan Kotu adalah benteng pertahanan Massenrempulu untuk menyambut pasifikasi Belanda.

Enrekang yang merupakan ibukota Massenrempulu, menjadi target pertama serangan pasukan Belanda. Namun untuk dapat merebut Enrekang, pasukan Belanda harus menaklukkan benteng Londe-Londe, Rangnga dan Kaluppini. Setelah melalui pertempuran sengit selama berhari-hari dan memakan banyak korban, akhirnya ketiga benteng itu jatuh. Mayor de Wijs datang sendiri ke Enrekang, pada tanggal 1 Maret 1906.

Melalui La Patiroi Arung Soreang, suami We Pancaitana Arung Enrekang, Mayor de Wijs membujuk agar ratu Enrekang menandatangani Korte Veklaring, sebagai bentuk pengakuan kekuasaan Belanda. Demi menghindari korban lebih banyak, dengan berat hati ratu We Pancaitana Arung Enrekang menandatangani Korte Veklaring.

Namun perang belum usai. Rakyat Enrekang bersama rakyat Massenrempulu masih mengangkat senjata. La Rangnga, seorang Maddika menggalang kekuatan bersama Duri dan Maiwa, anggota konfederasi Massenrempulu lainnya. Melalui sebuah serangan dadakan saat malam 24 Maret 1906, La Rangnga dan laskarnya berhasil menewaskan banyak pasukan Belanda di tangsinya di Enrekang.

La Rangnga pun berhasil merebut banyak senjata untuk memperkuat perlawanannya. Kemenangan yang disambut suka cita oleh rakyat Massenrempulu dan berhasil memperkuat semangat perlawanan. Perjuangan rakyat Massenrempulu menjalar ke Maiwa, Kotu, Mandatte, Duri, dan Buntu Batu.

Menanggapi perlawanan rakyat Massenrempulu yang semakin menghebat, Komandan tertinggi pasukan Belanda Kolonel Michielse di Makassar tiba ke Enrekang membawa pasukan besar di tanggal 24 Maret 1906. Empat hari kemudian, Mayor de Wijs langsung memimpin sebuah pasukan menyerang benteng Kotu. Menggunakan meriam, de Wijs menembaki benteng Kotu dan dilanjutkan pertempuran sengit dalam benteng. Banyak korban berjatuhan, hingga benteng Kotu jatuh setelah dipertahankan mati-matian.

Benteng Mandatte, dipertahankan oleh pejuang perempuan Massenrempulu yaitu Indo Cabba dan Indo Rangnga. Benteng ini baru dapat direbut pasukan Belanda setelah jatuh korban yang banyak dikedua belah pihak, akibat perlawanan mati-matian rakyat Massenrempulu.

Benteng Ranga dan Benteng Kaluppini pun jatuh ditangan pasukan Belanda. Hingga akhirnya, pemimpin laskar rakyat Massenrempulu, yaitu Maddika La Rangnga memindahkan pusat pertahanannya ke Benteng Bambapuang. Mempertimbangkan banyaknya korban, Belanda mencoba mengajak La Rangnga berdamai. Namun ditolak dengan tegas. Pasukan Belanda mau tidak mau, harus merebut Benteng Bambapuang jika ingin menguasai Massenrempulu secara menyeluruh.

April 1906, pasukan Belanda menyerang Benteng Bambapuang. Namun pasukan Belanda butuh waktu 3 bulan untuk mengepung benteng tersebut untuk bisa direbut. Itupun setelah kembali mendatangkan pasukan tambahan serta tembakan meriam dalam jangka waktu lama.

Di pihak laskar, banyak korban berjatuhan termasuk salah seorang komandan pasukan yaitu Puang Sappu setelah menewaskan seorang Letnan Belanda. Akhirnya Benteng Bambapuang jatuh, La Rangnga semakin melemah dan memaksanya untuk meneruskan perang secara gerilya. La Rangnga akhirnya ditangkap tahun 1915, setelah sembilan tahun bergerilya dan tak tersentuh pasukan Belanda. Beliau wafat tahun 1928 di usia 98 tahun. Berakhirnya perlawanan La Rangnga, bukannya mengakhiri perjuangan rakyat Massenrempulu melawan pasukan penjajah Belanda. Namun menyemai perjuangan berikutnya ditahun 1946-1949 melawan pasukan NICA-Westerling.

Andi Rahmat Munawar SSos MSi, Budayawan Sulsel dan Dewan Pendiri LSM Sempugi

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!