Artikel

Berhentilah Bermimpi!

Oleh: Sampean

Aku bermimpi jadi penulis, maka aku tukang tidur yang baik.

Sebermula aku tidak mengenal kata “mimpi” sebagai arti cita-cita dan pengharapan. Aku memahaminya sebagai “Bunga Tidur”. Arti istilah ini aku dekap sejak dari Sekolah Dasar (SD) dan kuyakini kebenarannya sampai tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Mimpi dan bunga tidur  mengental diingatanku, istilah kerap kali muncul di Ujian Nasional. Seiring waktu para ustads, motivator, dan guru menyebutnya ihkwal pengharapan.

Jika para ustads meriwayatkan mimpi. Mimpi itu jalan menuju kekafiran. Sebagaimana, petikan kata-kata yang terpagut dingitanku “Jangalah lekas mempercayai mimpimu karena itu bunga tidur. Jika kalian lekas percaya maka kalian dekat dengan kekafiran. Dan, janganlah kalian ke tukang nujum menafsirkan mimpi kalian. Itu adalah perbuatan orang-orang kafir”. Entah kenapa aku percaya saja perkataan ini. Tanpa pernah mempertimbangkan kisah Nabi Yusuf alaihissalam sebagai penafsir mimpi. Apakah Nabi Yusuf sebagai pendosa yang menafsirkan mimpi raja Firaun di kala itu? Mungkin para ustadslah yang akan menghakiminya. Nabi Yusuf kafir atau tidak.

Kata mimpi pun kerap didengunkan oleh guruku sebagai  peristiwa tidur. Mimpi hanya kita dapatkan dari keadaan tertidur. Tidak lebih dari itu. Peristiwa mimpi acap kali kita dapatkan karena tertidur terlalu nyenyak atau sugesti dari perjalanan keseharian manusia. Harun Nasution dalam bukunya Islam Rasional menukaskan mimpi bisa jadi bagian dari peristiwa mukjisat seorang nabi yang didapatkan dari tidurnya. Ini sejalan dengan para makjisat kaum awam, mimpi kadang mengantarkan dia mendapatkan kekuatan supranatural, atau mengobati orang sakit.

Bahkan, beberapa orang awam mendapatkan racikan obat dalam mimpinya. Sebagaimana, Ayah saya bermimpi diperintahkan Shalat Jumat dan mengahafal surat Al Fatiha, dan Surat Al Ikhlas. Berawal dari mimpi itu, beliau mulai menunaikan shalat. Sebelum mimpi itu datang, beliau tidak sekalipun tersentuh wudhu apalagi namanya bacaan al Quran. Peristiwa itu di usia menginjak kepala tiga. Itulah, mimpinya dia.

Lema mimpi, saat ini kerap kali kita temukan bukan sebagai bunga tidur Dan/atau peristiwa dalam tidur, Entri mimpi sudah bergerak jauh dari makna yang sebermula. Perubahan itu kita dapatkan ketika film laskar pelangi mekar di layar lebar tahun 2008. Dipuja banyak orang. Laskar Pelangi sendiri diangkat dari Novel Andrea Hirata dengan judul yang sama. Kesuksesan filem ini, mengankat karya Andrea selanjutnya yakni Sang Pemimpi turut difilemkan sebagai serial dari Laskar Palangi. Dari kedua film ini mengisakan anak-anak Bangka Belitung untuk mengejar mimpi-mimpinya.

Selain dari dua film ini terma mimpi digunakan dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, yang juga diadaptasi menjadi filem.  Dalam 5 cm menceritakan kelompok anak mudah yang menempatkan mimpinya di depan keningnya sejauh 5 centimeter. Dari ketiga film, mimpi bermakna pengharapan dan cita-cita yang ingin dicapai dengan kerja keras. Kata mimpi kian populer kita gunakan setelah filem-filem ini ditayangkan untuk memotivasi orang lain. Seperti itukah mimpi?

Baca juga :  Trump dan Putin

Dua peristiwa menempatkan mimpi dari dua kenyataan yang berbeda. Dari awal mimpi bermakna sebagai hiasan tidur dan kedua sebagai cita-cita dan pengharapan. Kedua pemaknaan terhadap kata “mimpi” akan turut mempengaruhi tata laku manusia. Sebab, kita tahu bahwa bahasa suatu sistem yang digunakan untuk menyampaikan ide, gagasan, pikiran, perasaan dan penyampai informasi kepada sesuatu. Dari definisi ini jelas bahwa bahasa adalah laku manusia.

Kata mimpi pasca pemutaran filem laskar pelangi dan serialnya, dan 5 cm turut mempengaruhi bahasa manusia. Dari sejak itu (2008) kata mimpi semakin populer sebagai pengharapan dan cita-cita. Di masa itupula guru-guru mengadopsinya menjadi sebagai bahasa kelasiman untuk memotivasi dan menggurui para muridnya. Langkah yang sama ditempuh oleh para motivator mengajak orang-orang bermimpi untuk sukses.

Kalimat yang paling sering aku dapatkan jika berhadapan orang-orang besar, orang masyhur, dan motivator hal pertama diperintahkan “Bermimpilah!” “bermimpilah karena mimpi itu gratis”, atau “gantungkanlah mimpimu setinggi langit”. Pernyataan ini sangat tegas kepada penerima instruksi. Dan, itu akan diserap sesuai persepsi yang diterima. Kata ini sangat jauh berbeda pada instruksi pidato Presiden Sukarno kepada generasi mudah “Gantunglah cita-cita kalian setinggi langit”. Presiden Sukarno lebih memilih mengunakan “cita-cita” daripada “mimpi”, mengapa demikian?

Apa itu Mimpi dan Cita-Cita

Kebermaknaan kata mimpi, bergantung pada budaya berkamus. Tapi, bisa jadi kata yang kita gunakan tidak lebih dari budaya ikut-ikutan. Sebagaimana, aku hanya mengikuti apa saja yang laris digunakan. Tapi, kata ini sangat mengubris ketenanganku saat berjodoh dengan bunda Uun Nurcahyanti di kelas bahasa Indonesia.

Bagi dia, lema “mimpi” sama halnya memerintahkan sesesorang untuk pergi tidur. Dalam kamus Oxford “mimpi” diartikan “dream” berkelas “kata benda” artinya 1. series of images and events that happen your mind while you are asleep (gambaran dan peristiwa yang terjdai dalam pikiran seseorang dalam keadaan tidur). 2. wish to have or to be something especially  one that seems difficult to achieve (keinginan memiliki atau menjadi namun sulit tercapai). 3. Dream berkelas “kata kerja” have a dream;experience something in a dream (bermimpi: mengalami sesuatu dalam mimpi) (2008;136). Mimpi dalam kata kerja lebih dekat dengan “kata benda” pertama yakni gambaran dan peristiwa dalam mimpi. Seperti inilah kata mimpi pada oxford.

Baca juga :  Kembali Mengurus Desa

Sementara, cita-cita dalam kamus John Echols (2003;119) edisi Indonesia-Inggris diartikan sebagai desire dan Hope , yang jauh sekali perbedaannya dengan kata mimpi di Oxford. Kedua kata ini lebih dekat dengan hasrat dan harapan. Desire  dalam kamus Oxford  strong wish to have or to be something (keinginan memiliki atau menjadi sesuatu)(2008; 121). Definisi lebih dekat dengan arti lapisan kedua dari kata dream di Oxford. Kemudian, Hope di Oxford yakni desire and expectation that something good will  happen. (keinginan dan harapan bahwa sesuatu yang baik akan terjadi) (2008:213).

Dalam kamus besar bahasa Indonesia sendiri mimpi/mim·pi/ n 1 sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur; 2 ki angan-angan;memimpikan/me·mim·pi·kan/v 1 bermimpi akan sesuatu:2ki mencita-citakan (sesuatu yang susah atau tidak mungkin dicapai): mengkhayal. Definisi ini aku kutip langsung (Copy) dari KKBI versi Online. Sedangkan “Cita-cita” dalam KBBI online cita1/ci·ta/ n 1 rasa; perasaan hati; 2 kl cipta; 3 cita-cita; 4 cinta; 5 ide; gagasan; bercita-cita/ber·ci·ta-ci·ta/ v 1 berkeinginan sungguh-sungguh: 2 mempunyai tujuan yang sempurna: mencita/men·ci·ta/ kl v menciptakan (membuat sesuatu dengan kekuatan batin). Kedua ini dalam KBBI sangat jauh berbeda dari segi arti dan pemaknaan terhadap istilah mimpi dengan cita-cita. Begitupun, di Oxford.

Sedangkan, di Tesaurus Bahasa Indonesia Eko Endarmoko “mimpi”n sinonim 1. bunga tidur, rasian (Mk) 2.a angan-angan, delusi, fatarmogana, ilusi, impian, khalayan, lamunan, utopia, visi b. ambisi (Endarmoko, 2016;455). “Cita”n sinonim perasaan, rasa (hati). Cita-cita sinonim a. angan-angan, aspirasi, dambaan, harapan, idaman, khitah, obsesi b. Azam (Mk), hasrat, kehendak, keinginan, maksud, niat (Endarmoko, 2016;145)

Dari ketiga kamus ini “mimpi” lebih lekat dengan peristiwa dalam tidur atau kenyataan tidur. Sungguh, sangat jauh padanan katanya dengan kata cita-cita yang lebih mengedepankan keinginan hasrat atau rasa yang dimiliki oleh manusia. Bahkan, dalam bahasa Indonesia sendiri cita-cita sebagai pengungkapan kualitas kemanusiaan atau mahluk berbudaya dari artinya  rasa; perasaan hati; 2 kl cipta; 3 cita-cita; 4 cinta; 5 ide; gagasan. Ini sejalan definisi budaya hasil cipta, rasa dan karsa.

Pemaknaan terhadap suatu kata akan mempengaruhi cara hidup seorang. “Kata” tiada lain dari laku manusia. Perilaku keberkamusan seorang akan mempengaruhi bahasa dan perilakunya. Mentalitas seorang pun turut berpengaruh. Sukarno menginstruksikan untuk bercita-cita berarti dia menginginkan generasi yang berbudaya atau berkeadaban. Sebagaimana terkandung dalam arti kata “cita-cita” itu sendiri. Sukarno sejatinya tidak sembarang memetik kata itu. Sejatinya dia sudah tahu konsekuensi kata-kata yang digunakan. Maka, karakater orang-orang di masa Sukarno sangat jauh dengan genarasi saat ini. Di masa Sukarno adalah generasi yang melek aksara, bisa dilihat dari karya-karya dilahirkannya. Di masa itu, apapun profesi anda, yang pastinya anda menulis. Apalagi dikalangan terdidik. Adapun, kebutaan aksara tidak lebih dari rekayasa kolonial.

Baca juga :  Pendidikan Dinilai Belum Mengantarkan pada Cita-cita Kemerdekaan

Ini jauh berbeda dengan generasi saat ini, anak-anak diarahkan bermimpi setinggi langit, manggantung mimpinya dilangit, dan menyimpang mimpinya sejauh lima centimeter di depan matanya. Generasi ini tidak lebih dari generasi tukang tidur. Sebab, selalu diajak untuk bermimpi. kalimat perintah itu sama halnya dengan ajakan untuk pergi tidur, dan mewujudkan mimpi yang besar di dalam tidur.

Sebagaimana definisi Oxford lapis pertama. Sehingga generasi saat ini lebih memilih menjadi Tukang fokus di layar gawai (Smartphpone) atau phone-phone yang lain. Sementara, mereka memiliki ambisi besar dan lebih banyak tidurnya. Jika  impiannya tidak tercapai. Kadang mengunakan segala cara untuk meraihnya. Sebab, dari awal diinstruksi mengejar mimpi. Sementara, anak-anak masih dalam keadaan tertidur. Maka, mentalitas anak-anak sekarang lebih memilih dunia mangkul dan sangkil. Praktis mudah dicapai, kejahatan yang dilakukan anak mudah menjadi praktik keseharian seperti kejahatan seksual, kekerasan dijalan. Mereka lebih banyak berkhayal, beralusinasi sebagaimana pengertian mimpi. Maka mencapai itu perlu cara untuk menyalurkan sesuai ambisi dimilikinya.

Sungguh berbeda dengan kata yang terkandung dalam kata cita-cita. Dan anekdot yang mengikutinya. Seperti pada pepatah Jawa mengatakan pelan-pelan saja yang penting terlaksana. Ini seturut dengan mewujudkan cita-cita yang lebih mengedepankan rasa (rasa). Atau biasa kita dengar, biarlah lambat yang penting selamat. Anekdok ini  tidak cukup ambisius karena lebih mengutamakan proses daripada hasil.

Seperti inilah, aku yang selalu bermimpi menjadi seorang penulis, yang lebih banyak tidurnya daripada usaha untuk menjadi penulis. Sejak dari awal aku hanya bermimpi jadi seorang penulis. Bisa jadi, aku masih dalam keadaan tertidur. Adapun, mimpiku yang lain sedang kukejar membutuhkan kecepatan. Maka, aku gunakan jalan pintas dianggap pantas. Sekiranya untuk mengaplikasi kata mimpi.

Dari kisah yang kututurkan boleh menjadi pelajaran bagi pembacanya. Dan, tidak dibaca sekalipun itu tidak jadi bermasalah. Tugasku hanya menuliskan yang kurasakan. Aku tidak ingin apa yang menimpaku, terjadi ke yang lain. Harapan terbesarku, para guru dan siapapun itu. Sebaiknya, mengganti kata-kata “mimpi” menjadi “cita-cita” sebagai ikhwal pengharapan dan keinginan mencapai sesuatu.

Sebab, hidup ini bukan hanya sekedar makan, kita juga butuh buang hajat untuk  menjaga keseimbangan. Pembuangan hajat pun harus beradab. Menggunakan kata-katapun harus beradab. Sekali-lagi penggunaan kata-kata seseorang menentukan karakter penuturnya. Berhentilah bermimpi, bangunlah dengan membuat cita-cita.

Tulisan ini diinspirasi dari kelas menulis Bunda Uun Nurcahyanti kelas Bahasa Indonesia Smart ILC.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!