Literasi

Biografi Teh dan Sebuah Pagi

 

 

Oleh : Adam Radjulan*

OPINI, EDUNEWS.ID – Dulu, tradisi ngeteh adalah ritual pagi dan sore hari. Sebelum aktifitas fisik dimulai, teh wajib ditenggak untuk menghangatkan tubuh. Di desa-desa beriklim dingin, teh biasanya diracik dengan campuran bunga atau rempah-rempah untuk menambah aroma di pagi hari.

Selain dianggap memberikan kesegaran tubuh, orang-orang terdahulu meyakini teh hangat memiliki kandungan tertentu untuk meredakan masuk angin. Kebiasaan ngeteh kemudian menjadi rutin dan dijumpai di mana-mana. Teh telah menjadi minuman sosial.

Teman perbincangan walau tampa seucap sekalipun. Secangkir teh bisa menjadi pendengar bahasa hati. Masyarakat China dan Jepang mempunyai tradisi minum teh secara turun temurun. Mereka melakoninya sebagaimana beribadah, sangat khusuk. Konon, ritual ini membutuhkan ketenangan, jauh dari hiruk pikuk.

Barangkali ngeteh menjadi semacam terapi relaksasi pikiran. Teh juga menjadi pilihan bersama kolega karena bisa diseruput sambil berlama-lama ngobrol, baik dengan teman, keluarga, relasi bisnis maupun bersama kekasih. Bertahun-tahun menjadi sahabat keluarga.

Teh dalam iklan-iklan biskuit selalu tampilkan sebagai pasangan mesra. Sepiring biskuit akan kehilangan pikat tanpa secangkir teh di sebelahnya. Rasanya, selalu ada yang kurang bila mengawali pagi atau pun menghabiskan sore tampa secangkir teh.

Di Indonesia, teh awalnya dikenal sejak zaman kolonial. Mulanya tanaman teh pertama kali muncul di pulau Jawa berkisar di tahun 1684. Konon, biji teh dibawa dari Jepang dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Baru pada tahun 1826 percobaan varietas ini pun berhasil ditanam di Kebun Raya Bogor (Ansari, 2005).

Teh lalu menyebar ke beberapa wilayah seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Produksinya pun masih terbatas dan sering dikenal dengan nama Daun Teh, berupa daun yang diolah menjadi serbuk, lalu dibungkus menggunakan plastik. Meraciknya pun orang-orang memerlukan tips-tips tertentu. Ada proses yang harus dilalui untuk mendapatkan minuman teh bercita rasa.

Teh kemudian masuk industri dengan kemasan kertas yang menarik. Kita mulai mengenal nama-nama teh seperti; Goalpara, Teh Naga, dan Teh lain yang dikenal secara luas bahkan menjadi identitas di beberapa daerah seperti Teh Poci di Tegal, Teh Nasgitel di Solo. Masyarakat pun menjadinya minuman kedua setelah air putih dan hampir semua rumah dan warung makan menyediakannya.

Umumnya teh diseduh dan diminum selagi masih panas. Kita pun bersepakat, teh adalah minuman penghangat tubuh. Sebabnya penyebutan teh sudah pasti merujuk kepada minuman yang diseduh dengan air panas. Menyuguhkan teh dingin kepada tamu adalah aib bagi tuan rumah.

Bertahun-tahun teh menjadi simbol keakraban sekaligus penghormatan kepada tamu. Saat teh diletakan diatas meja, pemilik rumah biasanya langsung berujar, “Silakan diminum selagi masih hangat”. Pemilik rumah nampaknya khawatir bila teh yang disuguhkan keburu dingin dan merusak suasana.

Kini, teh telah hilang. Orang-orang menganggap teh sebagaimana minuman lainnya: sama!, sebatas pelepas dahaga. Tradisi ngeteh bagi masyarakat urban barangkali hanya membuang waktu dan berlama-lama di meja makan atau pun di ruang tamu. Kesibukan dan padatnya aktivitas masyarakat, utamanya soal perkerjaan nampaknya membentuk watak manusianya menjadi praktis.

Hidup serasa diburu waktu. Kebiasaan minum teh yang tertanam sejak dulu tercerabut dan berganti selera minuman cepat saji dan langsung tenggak. Masa lalu ngeteh tertinggal dalam nostalgia ketika industri perkebunan teh mulai bangkit dengan produk terbarunya, menawarkan minuman kemasan yang dapat diminum setiap saat.

Produk-produk seperti, Tea Pucuk harum, Teh Gelas, FresTea, Teh Melati, Teh Botol Sosro, Teh Kotak, Green Tea, Teh Gelas, dan lainnya dipajang dalam lemari es dan berderet di toko-toko. Teh Botol Sosro bahkan memilih tag line “Apapun makanannya, minumnya teh botol sosro”.

Promo yang ambisius sekaligus saling menegasikan. Minuman kemasan ini hadir sekaligus memberangus kebiasaan ngeteh yang sudah bertahun-tahun itu, membawa pengertian baru; Teh bukan lagi minuman hangat pagi hari dalam keluarga atau pun saat bertamu, melainkan minuman dingin pelepas dahaga yang diminum kapan saja.

Orang bisa berolahraga sambil meminumnya, teh bisa dibawa dan disimpan di dalam tas, ditampilkan dengan kemasan yang unik dan terus diperbaharui sesuai minat konsumen. Pertumbuhan minuman teh kemasan ini didorong dengan iklan secara masif melalui media massa dan melibatkan publik figur sebagai model promosi.

Sasaran utama adalah anak muda sebagai penghubung tradisi. Promosi secara masif itu menurut Barthes, dirancang untuk konsumen dan menjadi alat pemasaran yang efektif untuk menciptakan dorongan, secara tematis yang mengandung makna kepada khalayak, untuk membangkitkan citra mitis tentang produk tersebut (Peter P. Trifonas, 2003).

Industri teh perlahan-lahan merusak tata kehidupan pagi dan sore kita. Dan perkebunan teh kini tumbuh subur hanya memuaskan dahaga para pemodal industri teh kemasan, selebihnya menjadi tempat wisata bagi orang-orang untuk berswafoto. Kebun teh menjadi penyejuk mata dalam daftar destinasi.

Padahal, sejak kecil kita disuguhi teh setiap pagi. Kebiasaan ini berlangsung bertahun-tahun. Tidak sekadar saat sarapan, melainkan juga hadir di ruang tamu, pada acara-acara keluarga, sunatan, kawinan, rapat RT, bahkan urusan-urusan di Kantor Kelurahan. Joko Pinurbo dalam nostalgia ngeteh, menghadirkan kembali tradisi minum teh dalam Buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), lewat gubahan puisi berjudul Cita-cita.

Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja: ingin sampai rumah saat senja, supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela. Saat teh panas disodorkan, peristiwa itu tidak sebatas ritual tapi juga mengandung ingatan tentang keluarga, teman, ataupun kisah-kisah yang kelak terkenang.

Teh bahkan mengandung biografi ibu sebagai peracik ulung, bapak sebagai penikmat pagi sambil membaca koran, atau kekasih yang kedinginan selepas hujan. Teh tidak sekadar minuman tradisi, tapi juga mengandung kehangatan sejarah. Tanpa teh kita seperti kehilangan sebuah pagi.

Adam Radjulan, Santri KBM Yogyakarta & Independensia Ycc

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!