Literasi

Gerakan Literasi Menolak Mati di desa Kindang Kabupaten Bulukumba

Diskusi yang dilaksanakan pada hari Rabu (5/08/2020)  di areal perkebunan Cengkeh yang menjadi pusat kegiatan Tanda Baca

BULUKUMBA, EDUNEWS.ID-Titik mangsa perjalanan literasi di Desa Kindang dimulai pada tahun 2010. Gerakan literasi ini diinisiasi oleh dua bersaudara, Ramli Sahide dan Ahmad Sahide. Mereka sadar terhadap ketertinggalan daerah asalnya, Bulukumba terhadap budaya literasi dengan kota – kota besar di Indonesia seperti Makassar, Yogyakarta, dan Kota besar lainnya.

Meretas batas ketertinggalan budaya literasi ini dimulai dari batas terluar dari kabupaten Bulukumba, Desa Kindang, Kecamatan Kindang. Desa ini berada di tepi terluar dan terjauh dari pusat kota Bulukumba. Posisinya yang tidak menguntungkan memberikan kesulitan – kesulitan terhadap akses bacaan, jaringan komunikasi, informasi, dan diskursus keilmuan.  Mereka mengatasi ketertinggalan ini dengan menyelenggarakan kegiatan rutin Latihan Dasar Kepemimpinan  (LDK) dan pelatihan penulisan ketika para anak muda desa ini pulang kampung. Anak muda ini menularkan minat baca, diskusi, dan menulis yang telah mereka dapatkan dari lingkungan perkuliahan selama mereka menempuh pendidikan.

Baca juga :  Kembali Mengurus Desa

Selain itu, mengejar ketertinggalan mereka memanfaatkan para seniornya yang berada di kota – kota yang sedang menempuh pendidikan untuk menyuplai bahan bacaan dari kota Bogor, Makassar, dan Yogyakarta. Komunitas yang senantiasa konsisten menyediakan bahan bacaan adalah komunitas Sanggar Baca Bawakaraeng yang dibina oleh Ahmad Sahide. Komunitas ini menyuplai bahan bacaan anak Kindang berupa bacaan sastra, filsafat, budaya, sosial dan politik. Komunitas ini memanfaatkan jaringannya yang berada di Yogyakarta untuk mengakses bahan bacaan terbaru.

Desa ini menolak keterbelakangan dan ketertinggalan dengan terus mendorong budaya literasi baik di kalangan orang tua dan anak – anaknya. Selain itu, selama dekade terakhir di desa ini terus tumbuh komunitas – komunitas literasi yang dimulai dari lembaga kursus, Ala Pare English Course (APEC), Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta, Aliens Comunnity (LC), Sanggar Baca Bawakaraeng, Komunitas Pelajar Pemuda Kindang (KP2K), Tanda Baca, dan Rumah Tahfis.  Meskipun, gerakan literasi di desa ini mengalami pasang – surut. Pengaruh budaya literasi terus mengakar dengan mempertahankan tradisi diskusi dan silaturahmi dengan para perintis gerakan literasi di Desa Kindang.

Baca juga :  Pesona Tubuh

Kali ini, Tanda Baca dan KP2K yang berada di Dusun Sapayya, memperpanjang umur budaya literasi di Desa Kindang. Komunitas Tanda baca yang digawangi Irhyl Makkatutu dan KP2K yang dinahkodai Arni, kembali mengadakan diskusi dan Silaturahmi dengan salah seorang inisiator penggerak literasi desa Kindang, Sampean yang sudah berdomisili di Kota Bogor dan tim redaksi Buletin Adatta. Diskusi ini dilaksanakan pada hari Rabu (5/08/2020)  di areal perkebunan Cengkeh yang menjadi pusat kegiatan Tanda Baca.  Acara diskusi ini berlangsung di bawah Tenda Biru yang dihadiri oleh anak – anak muda dan penggerak literasi Desa Kindang. Kegiatan diskusi ini dilaksanakan ala kadarnya ala pedesaan di atas bukit Sapayya. Di tempat kegiatan berlangsung kita dapat menyaksikan hamparan areal persawahan, horizon perkebunan Kopi, dan Cengkeh, dan Gunung Lompobattang.

Baca juga :  Tips Anak Membaca di Masa Covid-19, Liputan DAAI TV ke Taman Bacaan Lentera Pustaka
Advertisement

Selama diskusi berlangsung, Tanda Baca dan KP2K menyuguhkan minuman khas Sulawesi Selatan, minuman Sarabba yang terbuat dari Jahe, Santan kelapa, dan Gula Aren. Sarabba ini menghangatkan suasana diskusi dari suhu dingin puncak Sapayya. Di dalam diskusi, Sampean selaku pemantik diskusi berbagi pengalaman dalam teknik – teknik dasar penulisan dalam menulis puisi, cerpen, esai, resensi, artikel opini maupun makalah akademik. Di pertemuan ini juga, sekaligus ajang konsultasi tulisan dari karya para peserta diskusi, Anggota Tanda Baca dan KP2K. Selain itu, Sampean menyampaikan kepada peserta diskusi untuk terus menjaga asa literasi di Kindang dan terus berkarya. Menurutnya, orang – orang yang tinggal di desa adalah orang – orang yang tinggal di  lumbung inspirasi dalam menulis. Di desa ada banyak hal yang harus dituliskan misalnya, kisah – kisah orang kecil seperti kisah para petani, komoditasnya, dan budaya – budaya yang terlekat di dalam desa. Desa tidak memberikan keterbatasan untuk menggali ide dalam melihat cakrawala dunia.

Irhyl Makkatutu juga menyampaikan bahwa kebun cengkehnya, sudah diwakafkan untuk kegiatan literasi di Kindang. Oleh karena itu, setiap kegiatan literasi siap mengawal dan berkarya untuk Kindang. Dia mengakui bahwa selama pandemi ini, beberapa kegiatan literasi yang tertunda dan pusat kegiatan ini banyak terbengkalai. Kegiatan diskusi dan silaturahmi adalah kegiatan pertama selama pandemi. Pasca kegiatan ini, kami sudah mulai mempersiapkan kembali acara 17 Agustus 2020 untuk membicarakan hasil karya anak – anak Bulukumba, khususnya karya teman – teman desa Kindang. Irhyl Makkatutu juga berharap diskusi seperti ini tetap bertahan dan diminati anak – anak muda sebagai kerja – kerja peradaban.

Citizen report : sampean

 

 

 

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com