Literasi

Gerakan Literasi, Solusi Tingkatkan Kapasitas Intelektual Mahasiswa

Proses sosialisasi dan motivasi gerakan literasi mahasiswa (Foto : Doc Rezki Satris)

Oleh : Rezki Satris*

 

OPINI, EDUNEWS.ID-Gerakan literasi merupakan salah satu proses kognitif yang berupaya untuk menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan. Salah satu bentuk dari gerakan literasi adalah gerakan membaca dan menulis. Membaca merupakan keterampilan berbahasa dan faktor yang penting dalam proses pembelajaran karena dengan membaca informasi akan diperoleh. Membaca merupakan salah satu kegiatan dalam literasi. Literasi tentu tidak dapat dipisahkan dengan dunia pendidikan. Hadirnya gerakan literasi ini diharapkan mahasiswa/komunitas dan masyarakat secara luas mampu menggali potensi yang ada dalam diri mereka. Gerakan literasi merupakan aspek penting dalam pengembangan dan peningkatan sumberdaya manusia yang berimplikasi terhadap kemajuan bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang rakyatnya memiki kesadaran akan pentingnya literasi.

Baca juga :  IKAPI Luncurkan Program 'Pojok Literasi Anak'

Mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan mampu merubah paradigm masyarakat untuk sadar akan pentingnya literasi. Namun pada kenyataannya, mahasiswa sebagian besar justru larut dalam perubahan global yang meninggalkan nilai-nilai budaya literasi. Kegiatan literasi dilakukan untuk menggali kembali nilai-nilai budaya literasi di kalangan mahasiswa.  Pada prosesnya gerakan literasi ini memberikan motivasi kepada mahasiswa dan pemahaman tentang pentingnya menghidupkan kembali dunia literasi. Selain itu, memberikan simulasi proses literasi berupa kepercayaan diri dalam membaca terutama menulis di bidangnya. Sehingga, dengan demikian, mahasiswa akan kembali menemukan dirinya sebagai agen perubahan di tengah arus globalisasi.

Arti Pentingnya Literasi

Sejarah telah menunjukkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang ditandai dengan hadirnya peradaban intelektual di mana masyarakat berada pada posisi yang mencintai dunia literasi. Literasi akan memunculkan sebuah paradigm masyarakat yang kreatif, berpikir kritis sehingga mampu berdaya saing. Penguasaan literasi tidak hanya menuntut partisipasi dari salah satu pihak seperti kaum terpelajar saja tetapi semua elemen masyarakat. Seperti yang disepakati oleh World Economic Forum 2015 yang menekankan partisipasi seluruh warga masyarakat melalui enam literasi dasar yaitu Literasi baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial budaya dan kewargaan (Atmazaki, dkk. 2017).

Baca juga :  Sang Nabi, Teladan Abadi (1)

Berdasarkan data studi Most Littered Nation in The World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University 2016, menyatakan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang di survei terkait dengan minat baca dunia (Gewati, Mikhael.2016). Survei ini menunjukkan bahwa dalam konteks literasi, Indonesia masih sangat jauh dari negara-negara lain. Salah satu penyebab kurangnya minat dalam dunia literasi adalah kurangnya motivasi untuk membaca. Sebagian besar orang merasa tidak mengerti dengan manfaat membaca sehingga ketertarikan dalam dunia membaca sangat rendah. Selain itu, metode yang dilakukan di sekolah-sekolah sampai dengan perguruan tinggi lebih cenderung menggunakan metode ceramah, sehingga ada kecenderungan bahwa dengan mendengarkan dari guru atau dosen sudah cukup untuk mendapatkan informasi.

Baca juga :  FTBM Banyumas, Bangkitkan Literasi dengan Komunikasi
Advertisement

Indonesia harus cepat berbenah untuk mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain.Salah satu cara yang efektif untuk mengejar ketertinggalan ini menurut Anis Baswedan adalah dengan membuat movement atau gerakan sosial. Gerakan sosial biasanya lebih cepat menyebar dibanding program (Atmazaki, dkk. 2017).  Gerakan sosial dari Anthony Giddens menyatakan bahwa “suatu upaya kolektif untuk mengejar suatu kepentingan bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif (collective action) di luar lingkup lembaga-lembaga yang mapan” (Fadillah Putra Dkk.2016).

Mahasiswa menjawab tantang zaman

Himpunan Mahasiswa Islam merupakan salah satu gerakan organisasi sosial yang ada di lingkungan mahasiswa yang bersifat nasional. Himpunan ini memiliki tujuan dalam pengembangan dan peningkatan kualitas mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang melakukan studi di Yogyakarta. Hadirnya Himpunan ini sebagai bentuk atau wadah bagi mahasiswa dalam mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki anggota yang dari beberada daerah se-Indonesia. HMI telah membuktikan bahwa gerakan mahasiswa dituntut untuk kembali melakukan perubahan signifikan guna memperbaiki kerusakan yang terjadi di negeri ini. Mahasiswa semestinya berada dalam posisi yang menyalurkan berbagai aspirasi rakyat sebagai bentuk advokasi terhadap masyarakat. Mahasiswa dianggap sebagai actor yang mengaggregasikan kepentingan masyarakat kepada pemerintah.

Namun beberapa tahun terakhir ini, pola kehidupan mahasiswa mengalami perubahan yang signifikan. Mahasiswa cenderung terkooptasi oleh berbagai kepentingan sesaat sehingga pola gerakan dan isu yang dibangun sudah tereduksi oleh kepentingan golongan. Ini merupakan gejala kemunduran yang dialami oleh beberapa gerakan mahasiswa termasuk Himpunan Mahasiswa Islam. Daya juang dan kekritisan mahasiswa sudah melemah. Hal ini disebabkan karena dunia literasi cenderung mulai ditinggalkan. Pola-pola diskusi sudah mulai memudar. Semangat untuk membangun gerakan intelektual sebagai basic organisasi kini sudah mulai ditinggalkan. Mahasiswa cenderung bersifat individual dan egoistic. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan sosialisasi dan transfer informasi kepada mahasiswa tentang dunia literasi. Selain itu kegiatan ini juga memberikan pengetahuan tentang pentingnya pembelajaran yang berorientasi proses.

 

Penulis adalah  Dosen Hubungan Internasional  Universitas  AMIKOM   Yogyakarta, ([email protected])

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com