Literasi

Hatiku Tertawan Di Timur Indonesia

Sekar Hapsari Martodiharjo, Peneliti PUSARAN Indonesia

Oleh: Sekar Hapsari Martodiharjo*
Terlibat dalam “Sail Morotai 2012” merupakan momen penting yang tak terlupakan dalam hidup saya. Momen ini, selain mempertemukan kami dengan perwakilan pemuda se-Asia Tenggara juga memberikan pengalaman mengarungi laut Indonesia yang menyimpan berbagai pesona keindahan.

Perjalanan ini kami lakukan dengan menumpang KRI Surabaya 591 milik TNI AL yang merupakan salah satu partisipan “Sail Morotai 2012” . Mengusung tema “Pemuda bersatu  dan Bangkit dengan Semangat Kebaharian kita Wujudkan Komunitas Asean 2015”, sejumlah pemuda direkrut di tiap provinsi untuk mengikuti kegiatan yang dinamakan “Program Lintas Nusantara Remaja Pemuda Bahari/Kapal Pemuda Nusantara (LNRPB/KPN)”.

Program ini selain untuk meningkatkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme kaum muda Indonesia, juga bertujuan untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan dan industri kebaharian pemuda Indonesia.  Saya sendiri merupakan perwakilan dari Kementrian Sosial RI utusan Karang Taruana yang lolos seleksi. Senang rasanya bisa berpartisipasi dan menjadi duta pemuda bahari sail morotai sebab melakukan perjalanan keliling nusantara telah menjadi impian saya sejak kecil.

Sebelum memulai perjalanan, kami  terlebih dahulu mendapatkan pembekalan di Jakarta. Setelah itu perjalanan pun dimulai. Berawal dari Jakarta, kemudian ke Ambon, Sorong, Raja Ampat, Ternate, Morotai, Makassar, dan kembali berakhir di Jakarta. Walau melelahkan namun banyak cerita tersisa yang ingin sekali kami bagi kepada pembaca.

Baca juga :  Reduksi Kebijakan Full Day School

Selama di pelayaran sejumlah kegiatan menarik pun kami dapatkan untuk mengisi waktu mulai dari diskusi, pemaparan materi dari narasumber yang berkompeten, bahkan pentas seni pun kami tampilkan. Singkat cerita, kami saling pamer budaya dan kearifan lokal masing-masing daerah kepada seluruh peserta sail morotai.

Indonesia yang Mengesankan

Persinggahan pertama kami adalah Ambon, Maluku. Setelah 3 hari mengarungi lautan tibalah kami di salah satu wilayah timur Indonesia ini.  Disambut gubernur Maluku, kami pun dijamu dengan makan siang dengan kuliner khas Maluku, papeda.

Di Ambon, kami melakukan beberapa kegiatan sosial diantaranya penanaman pohon dan bakti sosial korban Banjir di ambon. Di waktu senggang, kami menyusuri kota ambon yang damai. Beberapa tempat yang kami kunjungi diantaranya alun-alun kota ambon, Gong Perdamaian Dunia, museum dan tentunya pantai di ambon yang terkenal indah. Menyenangkan sekali persinggahan pertama kami ini.

Destinasi berikutnya setelah Ambon adalah Sorong. Besarnya ombak di laut Banda sempat membuat beberapa peserta mabuk laut, termasuk saya. Persinggahan kami di sorong  disambut oleh pemerintah daerah setempat dengan jalan santai ke perbukitan dan penanaman pohon bersama masyarakat sorong. Selain itu, kami juga disuguhi pentas budaya Sorong yang begitu menawan. Karena kedatangan kami bersamaan dengan digelarnya Pentas Budaya Sorong 2012 sehingga berbagai kegiatan budaya khas Sorong dapat kami nikmati.

Baca juga :  Berhentilah Bermimpi!

Dari Sorong, perjalanan kami lanjutkan menuju Raja Ampat. Sebagai seorang yang menggemari travelling, tentu tempat ini menjadi salah satu tempat favorit saya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini, saya pun memuaskan hasrat saya di tempat ini. Diving dan snorkeling sepuasnya. Rasanya tak ingin pergi dari tempat ini, namun apa daya perjalananan harus dilanjutkan. Ternate merupakan tujuan kami selanjutnya.

Di ternate, kami tinggal di rumah keluarga angkat yang merupakan warga setempat. Kami tinggal di kelurahan Tafure, tabam,sango, tarau dan kulaba. Kegiatan homestay ini diisi dengan kegiatan kemasyarakatan berupa bakti sosial, pemeriksaan kesehatan, seni budaya  dan olahraga. Senyum ramah warga Ternate menjadi sambutan kedatangan kami sekaligus pelepas kerinduan kami dari rumah. Gemulai tarian soya-soya yang dipertontonkan pada kami membuat saya tak tahan untuk ikut menari.

Walau serasa tak ingin meninggalkan keramahan Ternate, jadwal perjalanan tetap harus ditaati. Sesuai rute awal, tujuan selanjutnya adalah pulau Morotai. Acara puncak sail morotai diselenggarakan disini. Sebagai salah satu kabupaten baru di provinsi Maluku, Morotai sedang gencar-gencaranya melakukan pembangunan. Morotai merupakan kepulauan yang berada di kawasan perbatasan pulau terluar yang berada pada ALKI III (Jalur pelayaran Internasional).

Baca juga :  Islam dan Informasi

Terletak di semenanjung pasifik dan memiliki sejarah perang pasifik/perang dunia II yang pada masa itu didududki oleh jepang dan sekutu. Benda benda peninggalan Perang Dunia II banyak terdapat disini. Acara puncak di morotai dihadiri oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, beserta sejumlah menteri dan para pensiunan Veteran dan perwakilan Negara-negara tetangga. Pertunjukan seni tradisional, sailing pass (parade kapal) dan aktrasi terjun payung pun turut mewarnai pagelaran ini.

Setelah selama kurang lebih 3 hari di Morotai, perjalanan kami lanjutkan menuju Makassar. Di Makassar kami disambut gubernur Sulsel dan dilanjutkan dengan berpesiar. Kami mengunjungi batu murung, museum Rotterdam, serta tempat wisata lainnya disana. Setelah 2 hari kami di Makassar kami kembali berlayar menuju Jakarta. Dan setibanya kami di Jakarta sail morotai di tutup oleh bapak Andi Malarangeng selaku menpora RI .  Pelayaran kami pun berakhir namun menyisakan berjuta kesan indah. Ya, Hatiku tertawan di timur Indonesia.

 

Sekar Hapsari Martodiharjo, Peneliti PUSARAN Indonesia

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com