Literasi

Ikhtiar Menambal Devisa

Tawaf T. Irawan. Mahasiswa Program PhD Universiti Utara Malaysia

 

Oleh: Tawaf T. Irawan*

OPINI, EDUNEWS.ID-Suasana panik mulai terasa sejak nilai tukar menyentuh angka Rp 15 ribu per dollar AS. Terbayang peristiwa krisis ekonomi 1998 terulang kembali. Bahkan para pakar ekonomi pun mulai menyodorkan angka-angka perbandingan makro ekonomi ketika krisis dengan kondisi saat ini.

Padahal penyebab utama krisis ekonomi Indonesia tahun 1998 esensinya adalah kepanikan (panic disease). Kalau kita perbandingkan kondisi ekonomi Indonesia pada 1998 dengan negara-negara lainnya, seperti Thailand, Malaysia dan Korea Selatan, realitasnya tidak jauh berbeda. Relatif sama-sama baik. Pertumbuhan ekonomi rata-rata saat itu adalah7-8% per tahun. Bahkan nilai tukar rupiah dengan dollar tercatat stabil.

Namun percepatan pemulihan ekonomi ketiga negara tersebut jauh lebih singkat daripada Indonesia. Kuncinya adalah negara dan rakyatnya bersatu untuk menengani krisis ekonomi. Dan yang menjadi catatan penting disini adalah tidak menggantungkan nasib kepada IMF. Indonesia adalah korban terapi IMF, structural adjustment, sehingga penyakitnya berumur lama. Persis seperti yang dialami Argentina, Bolivia dan negara Amerika latin lainnya.

Penyebab Rupiah Melemah

Secara teoritis, pelemahan rupiah dapat dipahami melalui hukum supply – demand. Pelemahan nilai tukar rupiah karena pasokan dollar berkurang di pasaran, sementara permintaannya meningkat. Ada dua penyebab kurangnya pasokan dollar di pasar uang Indonesia, pertama, karena faktor ekonomi eksternal. Kedua, karena faktor ekonomi internal.

Faktor ekonomi eksternal sebagai penyebab disini adalah Amerika telah menghentikan kebijakan Quantitative  Easy (QE) dan pengurangan pajak penghasilan perusahaan. Penghentian QE berakibat pada naiknya suku bunga di Amerika. Kebijakan pengurangan pajak di AS berakibat pada relokasi investasi dari negara emerging market ke AS. Kondisi inilah yang menyebabkan capital outflow dari negara-negara emerging market ke AS. Sehingga dapat dipastikan negara emerging market seperti Indonesia akan mengalami kebocoran devisa. Hampir 65% investor pasar modal di Indonesia adalah pemodal asing. Bisa dibayangkan dampaknya kalau shorterm portofolio itu mengalir keluar.

Faktor ekonomi domestik sebagai penyebab disini adalah menurunnya kinerja transaksi berjalan Indonesia. Data Bank Indonesia menunjukkan, sejak 2016 hingga kuartal II-2018, neraca perdagangan Indonesia selalu surplus. Tetapi, surplus perdagangan itu tidak sanggup menambal defisit di neraca jasa.

Catatan defisit transaksi berjalan sudah terjadi sejak 2012 akhir hingga sekarang. Kuartal I-2018, defisit transaksi berjalan sudah mencapai 2,21 persen dari produk domestik bruto (PDB). Dan kuartal II-2018, defisit makin membangkak 3,04 persen dari PDB. Sementara itu, saldo di neraca modal tidak sanggup menutup defisit transaksi berjalan. Sehingga neraca pembayaran Indonesia defisit 4,3 milliar US dollar.

Dua sumber tekanan ekonomi diatas itulah yang menyebabkan kenapa rupiah menjadi tertekan. Dalam jangka pendek, strategi pemerintah menghemat devisa sudah tepat. Pemerintah ingin mengurangi impor dan mendorong ekspor. Strategi mengurangi impor dilakukan pemerintah dengan menerapkan kebijakan pajak penghasilan (PPh) 22 impor untuk 1.147 barang. Kemudian penerapan mandatori pencampuran B-20 atau pencampuran 20% biodiesel pada setiap liter solar. Selain itu, adanya kenaikan tarif pajak dan bea masuk untuk barang mewah dari 7,5% menjadi 10%, dan bea masuk menjadi 50% (Kompas, 07/09/2018).

Namun strategi pemerintah ini baru menyentuh aspek impornya. Sementara untuk ekspornya, strateginya belum terlihat sama sekali. Mestinya disini sudah ada peta jalan untuk mendongkrak kinerja ekspor. Sepertinya pemerintah sadar, peningkatan ekspor yang signifikan tidak mungkin dilakukan dalam jangka pendek ini. Data terakhir menunjukkan bahwa komoditi sawit Indonesia dikenai bea masuk yang tinggi di pasar Eropa karena dianggap tidak ramah lingkungan. Beberapa produk ekspor Indonesia juga dikenai tarif tinggi dan pengenaan status damping oleh Pemerintah AS. Konflik dagang AS-China, AS-Eropa tensinya masih tinggi. Pasar ekspor tradisional Indonesia daya belinya juga sedang anjlok. Jadi kecil kemungkinan dalam waktu dekat mendorong ekspor, meski anjloknya rupiah sebenarnya menjadi peluang.

Tidak Sekedar Pariwisata

Strategi inward looking sepertinya cara paling jitu yang diambil pemerintah untuk menambal devisi. Meningkatkan peran sektor pariwisata memang dirasakan paling mudah dan pragmatis. Dengan peningkatan nilai tukar dollar, sektor pariwisata Indonesia dipastikan lebih kompetitif. Menurut data Organisasi Pariwisata dunia PBB (UNWTO), pada 2017 turis asing internasional sebanyak 1,323 miliar orang, dan telah membelanjakan uangnya sebesar 1,34 triliun dollar AS. Dan turis asing yang melancong ke wilayah Asia Pasifik sebanyak 323 juta orang, dengan nilai belanja sebesar 390 miliar dollar AS.

Pada triwulan II-2018, neraca jasa perjalanan Indonesia surplus 1,1 miliar dollar AS. Neraca jasa ini diperoleh dari biaya perjalanan wisatawan domestik ke luar negeri  dan wisman ke dalam dalam negeri.

Jika sektor pariwisata dijadikan tumpuan utama menambal devisi, maka yang perlu diperhatikan adalah pertama, siapkah aksesibiltas wisata. Perlu dipikirkan apakah wisatawan setelah mendarat di Indonesia, dimudahkan aksesibilitas menuju ke tempat-tempat tujuan wisata. Apakah sudah siap rutenya, kenyamanan moda transportasinya, keamanannya, ketepatan waktunya, dan tarifnya.

Kedua, siapkah amenitas wisatanya. Dukungan akomodasi, tempat ibadah, taman, fasilitas kesehatan, toilet, kios kerajinan, dan kulinernya. Tugas pemerintah daerah cukup berat untuk menyediakan semua ini. Hal ini pun tidak mungkin direalisasikan dalam waktu dekat.

Ketiga, atraksi wisata. Lokasi wisata di Indonesia masih banyak yang kalah bersaing dengan negara-negara Asean lainnya. Tempat wisata yang baik membutuhkan orginalitas, kebersihan,  penataan yang baik, kenyamanan dan keamanan. Kinerja positif daerah wisata diukur dari lama tinggal wisatawan dan  besaran pengeluarannya. Rata-rata tinggal wisatawan di Indonesia adalah 2 hari dengan pengeluaran 966,64 dollar AS.

Data UNWTO menunjukkan, tahun 2017 wisman ke Indonesia berjumlah 12,948 juta orang, dengan devisa masuk sebesar 12,52 miliar dollar AS. Wisman yang berlibur ke Thailand sebanyak 35,381 juta orang, dengan devisa yang masuk 57,477 miliar dollar AS. Keunggulan sektor pariwisata Thailand terhadap Indonesia, karena negara ini telah menyiapkan dengan baik 3 unsur diatas yaitu aksesibilitas wisata, amenitas wisata dan atraksi wisata.

Tapi yang perlu diingat adalah strategi jangka pendek ini harus disinergikan dengan strategi jangka panjang. Beberapa waktu yang lalu Indonesia menghadapi deindustrialisasi dan rendahnya daya saing. Pelaku usaha di Indonesia sebagian besar lebih menyukai menjadi pedagang daripada produsen, karena pertimbangan resiko dan benefit. Pemerintah harus mampu merubah mindset ini. Industri hilir harus dikembangkan dengan penggunaan teknologi yang tepat guna dan inovatif. Nilai tambah ekonomi Indonesia banyak diambil negara lain, karena kurang berkembangnya industri pengolahan dan minimnya anggaran penelitian.

 

Tawaf T. Irawan. Mahasiswa Program PhD Universiti Utara Malaysia

 

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!