Literasi

Intervensi Covid-19 dengan Kuliah Online

Andi Badrudthamam AR, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia

Oleh : Andi Badrudthamam AR/bayukuren*

OPINI, EDUNEWS.ID-Covid-19 tiba tiba merebak dan beradaptasi di Indonesia dengan begitu cepat, kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh perguruan tinggi negeri (PTN) maupun Perguruan tinggi swasta (PTS) setelah covid datang yakni menyusun ulang metode pembelajaran bagi mahasiswa/i yang sebelumnya bertatapan muka didalam kelas. Universitas yang biasanya melaksanakan kuliah dengan berinteraksi langsung oleh dosen dan mahasiswa/i, kini tiba-tiba mengeluarkan kebijakan untuk kuliah online di seluruh Indonesia. Walaupun kebijakan belum maksimal, akan tetapi hal ini kita sebagai mahasiswa harus mengapresiasi kan kebijakan tersebut di tengah wabah covid ini.

Banyak nyawa terhanyut dengan kedatangan wabah Virus yang secara tiba-tiba muncul tanpa sebab. Dan membuat seluruh Universitas harus memutuskan mengeluarkan kebijakan yang tak merugikan mahasiswa walaupun kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah belum bisa membuat mahasiswa/i dapat terealisasikan dalam metode kuliah online ini. salah satu cara mengurangi wabah pandemi coronavirus-19 dengan menerima himbauan dari pemerintah agar membatasi interaksi langsung, maka kuliah online menjadi salah satu alternatif untuk tidak tertinggal mata kuliah. Mau meliburkan tentu tidak mungkin analogi nya secara administratif ada tapi ilmu nya tidak ada. Maka dari itulah kuliah online/daring menjadi salah satu metode pembelajaran yang alternatif tanpa harus bertatapan muka secara langsung.

Baca juga :  Anggaran KPU dan Bawaslu Sumsel Menggunung, Larinya Kemana?

Semudah itu kah kuliah online/daring? Sejatinya itu tidak mudah. Ada yang mengganjal dari sistem atau kebijakan yang dikeluarkan perguruan tinggi (PT) yakni dosen dan mahasiswa harus tidak mau standby didepan gadget atau laptopnya masing masing hal ini agar tidak ketinggalan oleh mata kuliahnya.

Masalahnya metode pembelajaran online ini sangat membutuhkan pengetahuan teknis untuk mengirim materi dalam bentuk pdf, word ataupun powerpoint. Dan hal ini membuat dosen-dosen atau tenaga pengajar harus kerja ekstra dalam mentransfer kan ilmu agar dapat terealisasikan kepada mahasiswa/i nya walaupun metode pembelajaran ini belum efisien bagi kalangan mahasiswa.

Mahasiswa sekarang sudah merasakan bagaimana canggihnya teknologi sekarang diera kontemporer ini dan tidak perlu dipertanyakan lagi dengan sistem yang berkaitan dengan media online ataupun tidak perlu banyak waktu bagi mahasiswa untuk bisa beradaptasi soal teknisi sistem online ini.

Baca juga :  Telaah Kritis Mahasiswa Kontemporer, Api Reformasi Yang Mulai Padam (I)

Akan tetapi muncul permasalahan soal kebijakan yang dilakukan oleh perguruan tinggi (PT), metode pembelajaran online ini memerlukan kecepatan akses internet dan tentu tidak segampang itu. Mempermudah bagi mahasiswa yang melakukan kuliah online jikalau provider Internet sepenuhnya milik universitas atau (provider internet private). Jika pihak universitas harus mengakses dari layanan lain, Dan sementara itu jika mahasiswa harus online sendiri harus tidak mau memakai paket internetnya sendiri.

Apabila mahasiswa harus mengakses internet agar bisa terhubung dan melaksanakan kuliah online ia harus berupaya untuk kekurangan paket nya itu sendiri dalam hal ini dengan adanya kebijakan perguruan tinggi (PT) membuat mahasiswa harus gigit jari dengan rela untuk melibatkan provider gadgetnya pribadi.

Dengan diterapkannya kuliah online/daring oleh perguruan tinggi (PT) belum tentu semua mahasiswa bisa mengakses dengan provider gadgetnya masing-masing karena selama covid menghantam Indonesia secara tiba-tiba membuat orang tua mahasiswa terisolasi dan menghimpit ruang geraknya untuk bekerja ekonominya stabil.

Baca juga :  Kebijakan Mendikbud ; Sumbangan Pendidikan, Efektifkah?

Masalah lain diluar dari provider internet adalah keterlibatan mahasiswa/i untuk bisa serius menyimak pembelajaran yang di sampaikan oleh dosennya selama melakukan kuliah online seperti fokus dengan game onlinenya, penghuni rumah dengan skala jumlah besar membuat orang sering tak bisa berkonsentrasi dalam berkomunikasi dan sebagainya.

Bagi universitas tentu pembelajaran dengan metode online ini menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi pertemuan tatap muka sementara itu proses belajar mengajar harus tetap jalan sesuai dengan administratif birokrasi. Sementara itu pula, pemerintah harus memberikan bantuan semacam sembako atau paket internet bagi mahasiswa yang perekonomian nya harus terganjal dengan adanya covid ini yang semakin hari semakin menyebar dengan skala banyak sampai menimbulkan hilangnya nyawa seseorang.

Andi Badrudthamam AR, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com