Literasi

Komunitas Belajar Mahasiswa (KBM) Dalam Bingkai Multikulturalisme

YOGYAKARTA, EDUNEWS.ID-Indonesia adalah salah satu negara yang majemuk dengan beragam etnis, agama, budaya dan lainnya. Tercatat di tahun 2016, Indonesia diperkirakan memiliki 1.340 jenis suku atau etnis.

Oleh karenanya, multikulturalisme menjadi sebuah keniscayaan di Indonesia. Namun akhir-akhir ini spirit keutuhan negara terancam oleh dampak negatif multikulturalisme tersebut. Bibit-bibit konflik dengan membawa etnis tertentu, kerap kali menjadi faktor pemicu ditambah lagi hadirnya kepentingan politik tertentu yang sering menunggangi peristiwa tersebut.

Hadirnya perbedaan di antara masyarakat terutama etnis atau suku tertentu kerap memicu perseteruan yang berdampak terhadap lahirnya konflik-konflik baru dalam masyarakat. Tercatat beberapa peristiwa konflik di Indonesia yang didasari atas dasar etnis, agama dan kesukuan.

Baca juga :  Oligarki dan Lesu Darah Demokrasi

Konflik yang terjadi di tahun 1998 di penghujung era orde baru antara etnis pribumi dan Tionghoa, tahun 1999 terjadinya peristiwa kerusuhan Ambon yang melibatkan dua agama yang berkonflik yakni Islam dengan Kristen, tahun 2000an konflik agama yang melibatkan Ahmadiyah dan Syiah, dan kasus yang terbaru di Indonesia tahun 2019 yang menyita perhatian publik adalah peristiwa Papua. Ketegangan horizontal terjadi antar kelompok dengan beragam identitas dan etnis.

Dikotomi pribumi dan non-pribumi di tanah Papua masih menjadi narasi yang tajam dalam struktur kehidupan sosial politik. Kerusuhan Wamena yang menyerang kelompok pendatang (non-pribumi) adalah fakta empiris akan munculnya konflik identitas. Kasus kekerasan dan konflik identitas tampaknya tidak pernah padam dalam realitas kebangsaan di Indonesia.

Baca juga :  Pemilik Media dalam Arena Pilkada Makassar

Berangkat dari masalah-masalah inilah, Dr. Ahmad Sahide beserta Ahdiana Yuni Lestari.,S.H.,M.H dan Rezki Satris, S.IP.,M.A melakukan sebuah kegiatan dalam bentuk pengabdian masyarakat kepada salah satu kemunitas di Yogyakarata yakni komunitas Belajar Menulis.

Sebuah komunitas yang merepresentasikan multikulturalisme di mana anggotanya terdiri dari berbagai suku, ras dan agama.

Advertisement

Kegiatan ini berlangsung pada, Sabtu 18 Juli 2020 lalu, yang bertempat di Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Dari hasil survei Pra Pengabdian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa 63,3 persen mahasiswa yang hadir dalam kegiatan tersebut belum mengerti tentang konsep multikulturalisme.

“Sehingga, kurangnya pemahaman tentang konsep multikulturalisme inilah kami berdua mengambil langkah untuk melakukan sosialisasi kepada komunitas KBM sebagai bagian dari komunitas yang beragam budaya, agama dan daerah,” kata Ahmad Sahide ke edunews.id, Selasa (21/7/2020).

Dirinya menuturkan, hanya dengan mengerti dan memahami konsep multikulturalismelah permasalahan tentang isu-isu Suku, Agama dan Ras (SARA) serta lainnya bisa dihindari.

Dalam ranah yang lebih besar, masalah multikulturalisme ini perlu dikaji secara tuntas, agar masyarakat Indonesia tidak terbuai dan hanyut dalam slogan, seolah-olah keanekaragaman itu lebih merupakan berkah dan bukan pekerjaan rumah. Hal ini harus dipahami oleh segenap masyarakat Indonesia.

“Dalam kerangka inilah letak relevansi multikulturalisme untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” tuturnya.

Berdasarkan permasalahan yang dijabarkan sebelumnya, terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan melalui program Pemberdayaan Komunitas Belajar Menulis melalui konsep multikulturalisme.

“Multikulturalisme merupakan paradigma yang baik dalam upaya merajut kembali hubungan antarmanusia yang belakangan selalu hidup dalam suasana penuh konfliktual,” terangnya.

Apalagi pasca pemilukada, masyarakat terpecah ke dalam kubu-kubu dari masing-masing pengikut. Secara sederhana, multikulturalisme dapat dipahami sebagai suatu konsep keanekaragaman budaya dan kompleksitas dalam masyarakat.

“Melalui multikulturalisme masyarakat diajak untuk menjunjung tinggi toleransi, kerukunan, dan perdamaian bukan konflik atau kekerasan dalam arus perubahan sosial,” pungkas Ahmad Sahide.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com