Literasi

Manage Moslem

Oleh : Ikhsan Kurnia

Ada sebagian orang yang berpandangan bahwa agama tidak ada hubungannya dengan pembangunan sebuah bangsa. Maju tidaknya sebuah bangsa tidak ditentukan oleh jenis agama yang dianut oleh masyarakatnya, namun oleh kualitas dan kemampuan manusianya. Sebagian besar negara yang peradabannya maju (sebutlah Amerika dan Negara-negara Eropa) membangun masyarakat dan bangsanya tanpa melibatkan peran agama. Bahkan sebagian dari driver dan katalisator pembangunan adalah orang-orang sekuler.

Kita bisa berdebat panjang tentang peran agama dalam pembangunan, atau yang lebih besar lagi adalah peran agama dalam peradaban manusia. Dalam sejarah peradaban manusia, tidak ada sejarawan yang menyangkal bahwa peradaban manusia dibangun oleh kontribusi dan peran agama, terutama agama Abrahamik: Islam dan Judeo-Kristiani. Para ilmuwan Islam di zaman Dinasti Abbasiyah sangat berjasa dalam menghasilkan penemuan-penemuan di bidang sains dan teknologi, yang kemudian diadaptasi oleh para ilmuwan Barat. Namun setelah renaissance (aufklarung) lahir, Barat semakin jauh dari agama. Barat mengambil warisan keilmuan Islam, namun di saat yang sama mengabaikan warisan spiritualnya.

Di periode ini, rasionalisme menjadi agama baru yang menggantikan peran agama Abrahamik yang sebetulnya telah berkontribusi terhadap peradaban dalam waktu yang sangat panjang. Fikiran dan kemampuan logika manusia didewa-dewakan. Cogito ergo sum (aku berfikir maka aku ada), kata Rene Descartes. Mazhab Positivisme yang digagas oleh Auguste Comte juga menjadi cara pandang baru manusia dalam melihat realitas. Diperiode ini, agama nyaris tidak diperhitungkan sama sekali. Pada awalnya, agama dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Lama kelamaan, agama dipisahkan dari kehidupan sosial dan politik. Inilah sejarah sekularisme.

Baca juga :  Kambing Hitam Dalam Eksepsi Ahok

Dalam sejarah Indonesia, agama terutama Islam memiliki peran dan kontribusi besar dalam pembangunan masyarakat. Muslim masuk ke Indonesia sejak abad ke-7. Namun peran politiknya baru tampak dominan saat pengaruhnya masuk kedalam Kerajaan Majapahit. Hingga akhirnya Raja terahir Majapahit, Brawijaya V, memeluk Islam dan keturunannya, Raden Patah, mendirikan Kerajaan Islam sendiri yang independen, yakni Kerajaan Demak. Sejak itulah “Islam Politik” fase pertama dimulai. Eksistensi dan perannya sangat besar dalam perubahan masyarakat. Peran politik ini berlanjut hingga fase kedua “Islam Politik” yang berlangsung setelah Indonesia merdeka dan menganut sistem domokrasi, yakni saat Masyumi berdiri. Meskipun peran Muslim dalam politik bersifat pasang-surut, namun jasanya terhadap pembangunan bangsa tidak ada bandingannya.

 

Landscape Muslim Indonesia

Perubahan sosial, ekonomi dan politik membuat landscape Muslim Indonesia juga mengalami beberapa perubahan cukup signifikan.  Namun, perubahan landscape tersebut lebih banyak terjadi pada wilayah psikografi, bukan demografi. Hal ini karena secara demografis sesungguhnya prosentase jumlah penduduk beragama Islam secara keseluruhan tidak banyak mengalami perubahan ekstrem dalam beberapa dasawarsa terahir.

Baca juga :  Kemenkop Minta Pemda Tingkatkan Pengawasan Koperasi

Menurut data BPS, berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010, total jumlah Umat Islam di Indonesia sebanyak 207.176.162 dari total penduduk sejumlah 237.641.326. Artinya, jumlahnya masih 87,18%. Sementara jumlah penduduk muslim di perkotaan adalah 104.528.568 dari total 118.320.256, dengan komposisi Laki-laki 52.619.679 dari total 59.559.622, dan Wanita 51.908.889 dari total 58.760.634. Jumlah penduduk muslim di pedesaan adalah 102.647.594 dari total 119.321.070, dengan komposisi Laki-laki 51.576.104 dari total 60.071.291 dan Wanita 51.071.490 dari total 59.249.779.

Bagaimana dengan data demografi politik? Pada Pemilu 2014, data jumlah pemilih partai-partai (berbasis massa) Islam sebagai berikut: PKB sebanyak 11.298.957, PAN sebanyak 9.481.621, PKS sebanyak 8.480.204, PPP sebanyak 8.157.488 dan PBB sebanyak 1.825.750. Jika dijumlahkan kita mendapatkan angka total sebanyak 39.244.020 orang. Jumlah ini adalah 31,40% dari jumlah total pemilih sebanyak 124.972.491 orang.

Apakah jumlah tersebut mengkhawatirkan? Tergantung bagaimana kita memandang angka tersebut. Rasio prosentase jumlah penduduk Muslim sebesar 87,18% dengan prosentase jumlah pemilih Partai (berbasis massa) Islam sebesar 31,40% memang cukup signifikan. Secara angka ini cukup memprihatinkan. Karena sekitar 2/3 dari Umat Islam rupanya tidak memilih Partai yang memiliki Brand Islam. Rupanya bukan sekadar sikap pilihan terhadap Partai. Fenomena ini juga terjadi pada sikap pilihan terhadap tokoh atau pemimpin Muslim.

Baca juga :  Serangan ke Nomor Rekening Amien Rais

Banyak riset dan opini yang menjelaskan tentang fenomena ini. Rata-rata membenarkan teori bahwa Muslim Indonesia kebanyakan beraliran sekuler (Islam KTP). Sebagian dari mereka merasa kecewa dan apatis terhadap partai-partai Islam, karena mereka dinilai tidak ada bedanya dengan partai lain. Identitas dan Brand Islam yang melekat pada partai Islam hanyalah simbol tanpa esensi moralitas dan integritas perilaku. Agama hanya dijadikan alat dan sarana untuk mendukung kepentingan pribadi. Sebagian yang lainnya memang secara ideologis berpandangan bahwa partai politik tidak perlu membawa embel-embel agama, karena agama adalah wilayah privat.

Saya memiliki pandangan yang agak berbeda terhadap data-data di atas. Pertama, Seperti apapun kualitas dan kekuatan Muslim Indonesia, jumlah 87,18% adalah potensi besar yang tidak bisa dipandang remeh. Kita hanya butuh manajemen untuk membangun kekuatan dari jumlah tersebut. Kedua, 31,40% jumlah pemilih Partai (berbasis massa) Islam bukan pula jumlah yang kecil. Jumlah tersebut adalah modal yang sangat besar untuk membangun kembali kedahsyatan peran Muslim dalam panggung politik. Ketiga, problem terbesar Muslim Indonesia hanyalah masalah quality, bukan quantity. Kita patut khawatir jika problemnya adalah keduanya: problem kualitas sekaligus kuantitas. Namun jika problemnya hanya kualitas, kita tinggal memperbaiki sistem dan manajemennya.

Advertisement

Muslim Indonesia adalah fakta sosiologis. Kita tidak perlu menghujat fakta dengan mengutuk kekurangan yang dimilikinya. Kita seringkali sibuk dan kehabisan energi untuk memendam rasa kecewa, lantas kita lupa bahwa di balik kekurangan ada potensi yang tersembunyi. Potensi luar biasa besar dan dahsyat ini dimiliki oleh Muslim Indonesia.

Saya berpendapat bahwa Manajemen adalah solusi paling aktual dan konkrit dalam menghadapi permasalahan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Landscape demografi Muslim Indonesia tidak mengalami banyak perubahan dari komposisinya. Namun landscape psikografi-nya memang mengalami beberapa pergeseran yang cukup signifikan.

Untuk menggambarkan landscape psikografi Muslim Indonesia di era demokrasi, saya membuat 8 tipologi yang menggambarkan karakter komunitas Muslim Indonesia. 8 tipologi tersebut dihasilkan dari 3 pasang variabel, yakni: Orthodox-Heterodox, Social-Political dan High Resource-Low Resource.

  1. Orthodox-Social-High Resource (OSHR)

Adalah komunitas atau organisasi Muslim yang secara pemikiran keagamaan cenderung ortodoks. Mereka hanya bergerak di wilayah sosial kemasyarakatan dan tidak berpolitik praktis. Mereka memiliki sumberdaya ekonomi yang cukup kuat dan mandiri.

 

  1. Orthodox-Social-Low Resource (OSLR)

 

Adalah komunitas atau organisasi Muslim yang secara pemikiran keagamaan cenderung ortodoks, Mereka hanya bergerak di wilayah sosial kemasyarakatan dan tidak berpolitik praktis. Namun mereka memiliki sumber daya ekonomi yang cenderung lemah.

 

  1. Orthodox-Political-High Resource (OPHR)

Adalah komunitas atau organisasi Muslim yang secara pemikiran keagamaan cenderung ortodoks, Mereka memiliki visi dan gerakan politik praktis, baik berpartisipasi dalam demokrasi maupun tidak. Mereka memiliki sumberdaya ekonomi yang cukup kuat dan mandiri.

 

  1. Orthodox-Political-Low Resource (OPLR)

Adalah komunitas atau organisasi Muslim yang secara pemikiran keagamaan cenderung ortodoks, Mereka memiliki visi dan gerakan politik praktis, baik berpartisipasi dalam demokrasi maupun tidak. Namun mereka memiliki sumberdaya ekonomi yang cenderung lemah dan ketergantungan dengan pihak lain.

 

  1. Heterodox-Social-High Resource (HSHR)

Adalah komunitas atau organisasi Muslim yang secara pemikiran keagamaan cenderung heterodoks. Mereka hanya bergerak di wilayah sosial kemasyarakatan dan tidak berpolitik pratis. Mereka memiliki sumberdaya ekonomi yang cukup kuat dan mandiri.

 

  1. Heterodox-Social-Low Resource (HSLR)

Adalah komunitas atau organisasi Muslim yang secara pemikiran keagamaan cenderung heterodoks, Mereka hanya bergerak di wilayah sosial kemasyarakatan dan tidak berpolitik praktis. Namun mereka memiliki sumber daya ekonomi yang cenderung lemah.

 

  1. Heterodox-Political-High Resource (HPHR)

Adalah komunitas atau organisasi Muslim yang secara pemikiran keagamaan cenderung heterodoks, Mereka memiliki visi dan gerakan politik praktis, baik berpartisipasi dalam demokrasi maupun tidak. Mereka memiliki sumberdaya ekonomi yang cukup kuat dan mandiri.

 

  1. Heterodox-Political-Low Resource (HPLR)

Adalah komunitas atau organisasi Muslim yang secara pemikiran keagamaan cenderung heterodoks, Mereka memiliki visi dan gerakan politik praktis, baik berpartisipasi dalam demokrasi maupun tidak. Namun mereka memiliki sumberdaya ekonomi yang cenderung lemah dan ketergantungan dengan pihak lain.

Dari 8 tipologi tersebut, ada beberapa tipe komunitas atau organisasi yang penting dan dapat menjadi katalisator dalam agenda mengelola potensi Muslim Indonesia (manage Indonesian Moslem). Terutama yang secara praktis dan aktual sangat dibutuhkan adalah tipe komunitas (baik ortodoks maupun heterodoks) yang memiliki High Resource. Dengan resource ekonomi yang cukup besar, mereka dapat me-leverage (mengungkit) komunitas atau organisasi lain yang memiliki Low Resource.

Hubungan antara 8 tipe komunitas/organisasi harus dibangun dengan baik. Ada beberapa level komunikasi yang dapat dilakukan, dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling tinggi.

  1. Composure
  2. Conversation
  3. Coordination
  4. Collaboration
  5. Consolidation

 

Setidaknya, jika ketegangan dan perbedaan kepentingan antar kelompok belum dapat di-manage dengan baik, antar kelompok tidak perlu saling berkonflik dan saling menjatuhkan. Hal paling minimal yang bisa dilakukan adalah Composure, yakni sikap diam tanpa mengganggu. Namun alangkah baiknya jika antar kelompok melakukan Conversation, sehingga ketegangan yang ada dapat diredam. Level Consolidation adalah tingkat yang paling tinggi, yang sesungguhnya jika dilakukan akan memberikan benefit yang besar terhadap masing-masing kelompok.

Sayangnya, potensi yang tersembunyi dari 8 tipe komunitas atau organisasi tersebut memang belum diberdayakan dengan efektif dan optimal. Masing-masing tipe masih cenderung berjalan dan beraktualisasi secara terpisah. Padahal, antar tipe dapat saling melengkapi dan menguatkan jika dilakukan konsolidasi fungsi dan peran. Jika diibaratkan tubuh manusia, ada fungsi yang memerankan sebagai mata, hidung, telinga, leher, tangan, kaki dan sebagainya. Namun jika masing-masing fungsi tersebut tidak berperan secara integratif, Muslim Indonesia akan terus berada di posisi yang lemah. Namun, saya yakin situasi ini akan berbalik setelah Muslim Indonesia terkelola dengan lebih baik.

 

Ikhsan KurniaPemerhati Manajemen, Sosial dan Politik; Alumni FISIPOL UGM.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com