Artikel

Menakar Obat Krisis Multilateralisme

Gambar : Ilustrasi

Oleh: Mahbi Maulaya*

EDUNEWS.ID-Multilateralisme merupakan salah satu konsep penting yang ada dalam ruang lingkup studi hubungan antarnegara. Menurut John Gerard Ruggie, seorang pakar studi Hubungan Internasional di Universitas Harvard, multilateralisme adalah sebuah formasi tersusun yang mengkoordinasikan hubungan antara tiga atau lebih negara dalam dasar prinsip perilaku yang searah (Ruggie, 1992). Penulis lebih cenderung menganggap bahwa multilateralisme adalah sebuah ‘sistem’ di dalam tatanan hubungan antarbangsa yang menyelaraskan kepentingan banyak negara dan mentransformasikannya menjadi sebuah kepentingan bersama’. Ada banyak perwujudan dari multilateralisme, yakni; Summit Meeting, Konferensi Internasional antar-pemerintah negara, Perjanjian Internasional, International Governmental Organization (IGO) dan institusi internasional.

Diadakannya Perjanjian Westphalia di tahun 1648, Pembentukan Central Commission for Navigation on the Rhine pada 1815 dan Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1920 menandakan bahwasanya multilateralisme sudah muncul di waktu yang sangat lampau. Tetapi, multilateralisme baru menjadi produk populer bagi masyarakat internasional setelah Perang Dunia ke-2. Bilateralisme, yang mendominasi hubungan global sebelum Perang Dunia tersebut, dianggap sebagai kerangka diskriminasi dan media bagi negara kuat untuk mencari keuntungan yang tak merata dengan negara kecil yang menjadi rekan kerja sama bilateralnya (Kahler, 1992).

Baca juga :  Pengalihan Isu dari Nobar Nasional G30SPKI ke DI/TII: Kecebong Kebanyakan Minum Buah Pohon Mojo

Oleh karenanya, kehadiran multilateralisme yang memiliki nilai non-discriminatory dan memberikan hak yang sama kepada setiap negara anggota tanpa memandang latar belakang apakah negara tersebut maju atau masih berkembang, dianggap sebagai rumus penting dalam menjaga perdamaian dan stabilitas internasional. Hasil penelitian Robert Owen Keohane, seorang ahli studi Institusi Internasional di Universitas Princeton, telah membuktikan kecintaan masyarakat internasional yang besar terhadap multilateralisme. Pada kurun waktu 1945, ada lebih kurang 100 perwujudan multilateralisme (Perjanjian Internasional, Summit Meetings, IGO, dsb) yang terdeteksi, meningkat menjadi 200 pada 1960 dan 600 pada 1980 (Keohane, 1990).

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, ada banyak peneliti hubungan internasional yang menulis karya tulis dengan tema “Keruntuhan Multilateralisme”, contohnya adalah Recent Threats to Multilateralism oleh Johannes Linn, Multilateralism in Freefall oleh Richard Gowan, Marcelo Rech dengan tulisannya yang berjudul Multilateralism under threat, dan Multilateralism under change? oleh Edward Newman, Ramesh Thakur, and John Tirman. Setiap tulisan yang mereka tulis, termasuk tulisan ini, adalah respons dari beberapa kejadian dalam beberapa tahun terakhir dimana ada banyak negara yang mulai meninggalkan multilateralisme. Amerika Serikat telah menarik diri dari Paris Climate Change Agreement (2017), Trans-Pacific Partnership (2017), Iran Nuclear Deal (2018), International Arms Trade Treaty (2019), United Nations Human Rights Council (UNHRC) pada 2018, United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2019. Tak hanya sampai disitu, Afrika Selatan, Burundi dan Filipina juga memutuskan keluar dari salah satu institusi multilateralisme, yakni International Criminal Court pada tahun 2017 dan 2019. Dan yang tak kalah krusialnya adalah usaha Inggris Raya yang bersikeras untuk keluar dari Uni Eropa, sebuah organisasi internasional paling progresif di dunia.

Baca juga :  Makna Pertemuan Jokowi-Prabowo

Fakta-fakta yang penulis cantumkan sebelumnyalah yang mengarahkan penulis untuk ikut mendukung pendapat-pendapat pengamat internasional di atas (pendapat bahwa Multulateralisme sedang runtuh). Tetapi penulis lebih memilih diksi ‘sakit’ unuk disandingkan dengan multilateralisme saat ini. Berdasarkan perspektif penulis, penyebab multilateralisme sedang ‘sakit’ adalah karena berkembang biaknya virus ‘sinisime’ dalam hubungan antarnegara (sinisime adalah sebuah sifat psikologis manusia atau negara yang cenderung berpikir negatif terhadap sifat dan perilaku aktor lain). Pendapat ini berangkat dari fakta dimana banyak negara-negara keluar dari multilateralisme hanya berlandaskan pendapat sinis.

Advertisement

Ada beberapa kasus yang mendukung penulis untuk berpendapat bahwa sinisime merupakan akar permasalahan dari ‘sakitnya’ multilateralisme. Yang pertama, ketika Afrika Selatan dan Burundi yang mengatakan bahwasanya International Criminal Court adalah sebuah alat yang digunakan bangsa Eropa untuk mendiskriminasi bangsa Afrika (Mesele, 2019). Yang kedua, Amerika Serikat keluar dari Paris Climate Change Agreement karena beranggapan bahwasanya negara-negara lain menggunakan perjanjian itu untuk melemahkan perekonomiannya (Chakraborty, 2017). Yang ketiga, Amerika Serikat keluar dari United Nations Human Rights Council (UNHRC) karena mereka berpendapat bahwa badan tersebut bersifat munafik dan telah sering mengolok-olok Hak Asasi Manusia itu sendiri (US Withdraws, 2018). Yang keempat, keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari Perjanjian Nuklir Iran dengan alasan bahwa perjanjian tersebut adalah sebuah bencana, perjanjian terburuk yang pernah dibuat, dan bisa mengarahkan pada perang nuklir yang dahsyat (Torbati, 2016), dan masih banyak kasus sinisime yang terdeteksi oleh penulis dibalik keputusan negara-negara tersebut keluar dari perwujudan multilateralisme.

Dalam penentuan takaran sebuah obat, maka analisa yang teliti untuk menemukan penyakitnya sangat penting. Untuk kasus ini, penulis berpendapat bahwa ‘sinisime’ adalah virus penyebab sakitnya multilateralisme. Sinisisme disebabkan oleh rasa ketidakpercayaan yang berlebihan. Maka obat yang tepat untuk menyembuhkan penyakit itu adalah “rasa percaya”. Multilaterlaisme mengedepankan upaya bersama untuk mencapai tujuan, maka rasa percaya yang dimiliki oleh sebuah negara terhadap negara lain dalam keterlibatannya di sistem multilateralisme merupakan suatu hal yang utama. Oleh karenanya, penyediaan sebuah obat yang bermerk “rasa percaya” bisa menjadi solusi bagi kesembuhan multilateralisme yang sedang sakit.

 

Penulis adalah : Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Email: [email protected]

 

Referensi

Ruggie, J. (1992). Multilateralism: The Anatomy of an Institution. The MIT Press. 46(3), 561-598. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/2706989

Kahler, Miles. (1992). Multilateralism with Small and Large Numbers. International Organization, 46(3), 681-708. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/2706992

Keohane, O., Robert. (1990). Multilateralism: An Agenda for Research. Sage Publications, Ltd. On behalf of the Canadian International Council, (45)4, 731-764. DOI: 10.2307? 40202705

Mesele, Z., Abreha. (2019, June 17). International Criminal Court and the African Union: Selective Justice? Abyssinia Law. Retrieved from             https://www.abyssinialaw.com/blog-posts/item/1513 international-criminal-court-and-african-union-selective-justice

Chakraborty, Barnini. (2017, June 1). Paris Agreement on climate change: the US withdraws as Trump calls it ‘unfair’. Fox News. Retrieved from             https://www.foxnews.com/politics/paris-agreement-on-climate-change-us-withdraws- as-trump-calls-it-unfair

US withdraws from the UN Human Rights Council. (2018, June 20). Aljazeera. Retrieved from https://www.aljazeera.com/news/2018/06/withdraws-human-rights-council-180619173311272.html

Torbati, Yeganeh. (2016, November 9). Trump election puts Iran nuclear deal on shaky ground. Reuters. Retrieved from https://www.reuters.com/article/us-usa-election-      trump-iran/trump-election-puts-iran-nuclear-deal-on-shaky-ground-idUSKBN13427E

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com