Literasi

Mengapa Bencana Terus Menelan Banyak Korban ?

Akbar
Akbar, Mahasiswa UNM

Oleh : Akbar*

OPINI, EDUNEWS.ID-Secara geografis, Indonesia memijaki posisi yang rawan akan Bencana dimana pertemuan tiga lempeng besar dunia, Eurasia, Indo-Australia dan lempeng Pasifik. Indonesia juga dilalui oleh dua jalur pegunungan besar dunia, pegunungan sirkum Pasifik dan Mediteria oleh karena itu cukup banyak gunung yang aktif di Indonesia. Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 3.814 bencana tahun 2019 dan 2.925 bencana terjadi tahun 2020. Meskipun jumlahnya menurun, bencana alam yang baru-baru ini terjadi sudah membuat Pemerintah Kewelahan. Dengan catatan panjang bencana alam yang terus menerus terjadi, nampaknya belum membangunkan kita sepenuhnya untuk sadar, bahwa Antisipasi Penanggulangan Bencana Indonesia jauh dari kata siap. Belum lagi baru-baru ini, BNPB mencatat sebanyak 197 bencana terjadi pada Januari 2021.

Belajar Dari Bencana

Tiap tahun dan tiap peristiwa bencana, kita selalu di perhadapkan dengan narasi yang selalu sama dan tidak berubah. Kita tidak mau belajar dalam hal manajemen bencana. Meskipun pemerintah sudah mendirikan BNPB sebagai lembaga yang bergerak dan terfokus pada Bencana dimana dalam Peraturan Kepala BNPB No 4 Tahun 2008 menjelaskan ada tiga tahap manajemen Bencana yaitu, tahap pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana. Meski demikian, aturan ini masih sebatas teks semata. Kita masih saja mengidam pola pikir kolot yang terkesan menunggu dan bertindak pada saat tanggap darurat dan pasca bencana. Penulis menilai pemerintah tidak pernah serius dalam menyiapkan segala sesuatu pada tahap pra bencana, meskipun jumlah alokasi anggaran cukup besar. Mengutip kompas.com, anggaran mitigasi bencana 2020 sebesar 4 trilliun hingga 5 trilliun. Padahal pada tahap ini kita dapat menekan resiko akibat bencana jika mampu memanfaatkan anggaran tadi dengan optimal pada tahap pra-bencana. Dengan sekelumit kelambanan (ketidakcekatan) sikap kita dalam menghadapi bencana, sebenarnya kita tidak perlu terlalu jauh memikirkan bagaimana agar efektif dalam mencegah bencana alam, khususnya bencana akibat perbuatan manusia.

Baca juga :  Full Day School dan Ful Fulan School

Yang Lebih Memilukan Dari Bencana Alam

Gempa bumi yang mengguncang Mamuju dan Majene pada awal Januari 2021, menelan korban jiwa dan kerusakan materil yang tidak sedikit. Informasi terbaru BNPB, sebanyak 105 korban meninggal, 3 orang dinyatakan hilang, 6.489 luka-luka dan ribuan warga mengungsi. Beberapa hari yang lalu, penulis berkesempatan berkunjung ke titik bencana dan pengungsian. Selain jejeran bangunan dengan kondisi beragam, penulis juga menemukan pemandangan memilukan di halaman gedung rumah jabatan Bupati Majene.

Pemandangan memilukan itu adalah sekumpulan tumpukan donasi hasil dari empati masyarakat luas. Penumpukan itu dengan alasan masih menunggu pendataan dari pihak berwenang sebelum dibagikan dengan dalil agar tepat sasaran dan tidak double. Namun bagi menulis, ketertiban administrasi disituasi seperti ini sangat tidak tepat dan amat keliru. Selain karena situasi yang darurat dimana donasi itu (sembako dan kebutuhan lainnya) sudah sangat diperlukan oleh korban terdampak bencana, menunggu penyelesaian pendataan korban juga menjadi bukti ketidaksigapan pemerintah setempat dalam tanggap dan setelah bencana. Bagi penulis penumpukan bantuan mengesampingkan sisi kemanusiaan pemerintah yang kemudian penulis sebut dengan bencana sosial. Sehingga hal yang lebih memilukan dari bencana alam adalah bencana sosial.

Baca juga :  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Integritas (1)

Menghidupkan Kembali Kearifan Lokal Ekologi

Bagi penulis tidak perlu belajar manajemen bencana dari negara-negara maju yang berlomba-lomba membangun menara tinggi anti bencana dan segala macamnya seperti yang dilakukan Jepang dan Belanda. Dengan keragaman suku dan kearifan lokal Indonesia, kita bisa dan semestinya belajar bagaimana memperlakukan alam sebagai kawan hidup.

Misalnya saja Suku Kajang yang terletak di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Suku Kajang sampai hari ini masih mempertahankan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya yang mencintai alam. Mereka menganggap hutan selayaknya ibu sendiri karena itu alam sangat dihormati dan dilindungi. Warna hitam yang juga sangat identik dengan Suku Kajang, memiliki makna bagaimana memperlakukan lingkungan dan melestarikan hutan.

Masyarakat Suku Kajang memandang hutan sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga kelangsungannya. Untuk menjaga alam agar tetap lajang, Suku Kajang membuat aturan yang dituangkan dalam Hukum Adat yang disebut Pasang Ri Kajang. Hukum adat ini berisi larangan menebang pohon tanpa memiliki izin dari pemangku adat setempat dan untuk menebang pohon harus menggunakan kapak atau alat sederhana lainnya. Tiap pelanggar hukum adat akan dikenakan sanksi yang telah ditentukan oleh Ammatoa.

Baca juga :  Tjokro Menyulap Salim, dari Mata-Mata ke Pejuang

Paling tidak, bagaimana cara Suku Kajang dalam memperlakukan alam menjadi referensi dan paradigma terbaharukan yang sudah seharusnya kita gunakan agar bencana dan kerusakan alam bisa dihindari. Hemat penulis, sudah saatnya pendidikan nilai-nilai kearifan lokal kita terapkan baik dalam pengambilan keputusan pemerintah maupun juga dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang dilakukan oleh pemerintah kita akhir-akhir ini berbanding terbalik dengan nilai-nilai kearifan lokal, alih-alih pemerintah mengakampayekan Konsep Pembangunan Ramah Lingkungan dan turut berkomitmen menciptakan Ekosistem Biru ala Jokowi, faktanya pemerintah justru melonggarkan segalanya terkhusus bagi perusahaan dan pemilik modal untuk menggoalkan kepentingannya, sehingga komitmen menjaga lingkungan hanyalah sebatas Narasi Konyol yang pada kenyataanya malah membabat habis alam.

Untuk menyalamatkan Indonesia, sudah seharusnya konsep pembangunan ramah lingkungan digalakkan dengan penuh kesadaran oleh pemerintah dan mendapatkan kontrol ketat oleh masyarakat publik.

Penulis berpandangan, untuk apa sibuk membangun kehidupan baru di planet lain, jika kita mampu memperbaiki dan mempertahankan bumi kita sendiri. Bukankah Allah sendiri telah menyatakan, suatu kaum tidak akan berubah kecuali mereka sendiri yang melakukan perubahan itu.

Keramahan akan dibalas dengan Keramahan, Alam dan Manusia Berdamailah.

 

Akbar. Mahasiswa Sosiologi UNM, Kader HMI Cabang Makassar

 

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com