Opini

Agama Menghendaki Adanya Pengorbanan

Oleh : Sangaji Furqan Jurdi*

Sesungguhnya  sholatku, ibadahku,

hidup dan matiku hanya untuk Allah Semata

(al-An’am 162).

OPINI, EDUNEWS.ID – Kata-kata yang terkandung didalam Al-Quran tersebut mengandung nilai yang sangat tinggi bagi setiap orang yang mengatakan diri sebagai seorang muslim, seorang yang mengakui diri sebagai hamba Allah SWT dan ummatnya Nabi Muhammad SAW. Dengan ayat tersebut kita dapat membedakan mana seorang yang muslim dan seorang yang kafir. Seorang yang kafir adalah orang yang menolak perintah Allah dan seorang yang muslim adalah orang yang patuh kepada perintah Allah semata, dan ia menolak sama sekali kemauan hawa nafsunya dan kemauan nenek moyangnya, atau kemauan keluarga dan kemauan yang tidak berlandaskan pada al-Quran dan Hadits Nabi SAW. Itulah hakikat dari agama yang sebenarnya. Dalam penafsirannya terhadap Quran Surah Ali-Imran ayat 64 dan 83 al-Maududi mengatakan bahwa agama yang sesungguhnya adalah kepatuhan dan kepasrahan diri kepada Allah. Menyembah Allah kata al-Maududi bukan hanya dengan ritual ibadah sholat saja, tapi sebenarnya ialah melaksanakan perintah-perintahnya disetiap saat, siang dan malam.

Melaksanakan perintah Allah sebagaimana yang disebutkan di atas ialah melaksanakan seluruh perintahnya dan menolak serta menjauhi seluruh larangannya. Kalaulah Allah menyuruh kita untuk tidak memilih pemimpin kafir (yang berbeda agama), semasih ada seorang muslim yang bisa lebih baik dari si-kafir, maka itulah yang disebutkan sebagai konsekuensi dari iman kita kepada Allah. Tidak ada penawaran dalam beriman, berimana itu adalah keyakinan kita terhadap keabsolutan Tuhan yang kita sembah dan kepatenan ajaran yang disampaikannya, (paten bukan berarti tidak bisa ditafsirkan).

Baca juga :  Semiotika Politik-Hukum Oligarki pada Pasal 187 ayat 1 RUU Pemilu

Dalam surah al-Maidah ayat 44 Allah menyuruh kita untuk menetapkan sesuatu yang ditutunkan dari Allah, kalau tidak menetapkan sesuatu dengan apa yang ditutunkan dari Allah maka itu hanyalah orang kafir. Dan Allah berfirman kepada orang-orang yang beriman bahwa Dialah yang berhak untuk mentapkan hokum dan Dialah pemberi keputusan yang baik (Quran Surah, al-AN’am 57). Ini merupakan tugas kaum muslimin. Kalau tidak melakukan itu maka ia tengah menuju jalan kesesatan.

Jalan kesesatan yang pertama adalah mengikuti kemauan sendiri sebagaimana yang di sebutkan dalam surah al-Qashasha: 50, yaitu mengedepankan dorongan hawa nafsu untuk memuaskah hasratnya. Jalan menuju kesesatan yang kedua adalah mengikuti nenek moyang tanpa berpikir, sebagaimana yang disebutkan dalam Surah al-Baqarah ayat 170, surah al-Maidah 104-105 dan banyak lagi ayat yang melarang kita untuk mengikuti tradisi nenek moyang dengan membabi buta, karena kesesatan mengikuti nenek moyang tersebut menjadikan orang-orang bodoh disetiap zaman terkena cengramannya.

Kesesatan seperti inilah yang mendorong umat Nabi Musa as menolak ajakan Musa untuk beriman kepada Allah, begitu juga ketika Nabi Ibrahim membujuk kaumnya untuk meninggalkan kepercayaan syirik, mereka mgatakan bahwa itu adalah pekerjaan bapak-bapak mereka, yaitu menyembah patung. Jalan kesesatan yang ketiga adalah kepatuhan kepada selain Allah. Ini merupakan langkah kesesaran yang nyata yang tengah terjadi dalam kehidupan kita sekarang ini. Atas nama jabatan orang disembah-sembah, dan yang menyembah hanya membutuhkan sesuap nasi. Meniru bangsa yang lain dari budaya yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam adalah awal mula tetutupnya pintu petunjuk dari Allah. Bahkan al-Quran mengatakan bahwa “Apabila kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari petunjuk Allah…” (Qs. 6: 166)

Baca juga :  Penjelasan Al-Qur'an Tentang Ciptaan Berpasangan

Dari penjelasan diatas jelaslah bahwa orang yang beriman, yang menyatakan diri sebagai Hamba Allah dan Umatnya Nabi Muhammad harus betul-betul menyerahkan diri sepenunya kepada Allah dan Rasul-Nya kepada kitab yang diturunkan kepadanya kepada ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Oleh sebab itu setiap keputusan, setiap keinginan harus berlandaskan pada hokum yang ditutunkan oleh Allah dan yang diajarkan oleh Muhammad SAW.

Kondisi Umat Islam di Indonesia

Umat Islam Indonesia mungkin telah mampu meruntuhkan berhala-berhala batu dan berbagaimacam kesyirikan yang berbentuk penyembahan seremonial di negaranya. Namun gagal meruntuhkan berhala-berhala dari dalam dirinya, berhala-berhala sistemyang menindas dan mengeksplotasi kehidupannya. Kegagalan terbesar yang dialami oleh umat Islam di Indonesia dan umat Islam di seluruh dunia adalah meruntuhakn penyembahan mereka terhadap ketiga macam berhala yang saya jelaskan di atas.

Baca juga :  Menolak Munaslub Partai Berkarya

Yang perlu kaum muslimin atau umat Islam Indonesia sadari adalah sebab dari keninaan, keruntuhan dan bencana yang menimpa umat Islam adalah ketidakmampuan bebas dari berhala-berhala yang tiga tadi. Coba kita bayangkan, umat Islam di Indonesia ini memiliki kekuatan entitas yang besar, sekitar 87 Porsen rakyat Indonesia mayoritas Islam, dari 250 juta penduduk Indonesia. Namun jumlah besar itu hanya memiliki bobot kecil dan umat beragama lainnya yang memiliki jumlah kecil memiliki bobot yang besar.

Sebabnya adalah karena kita menghambakan diri pada kemauan sendiri, adat-istiadat kebiasaan keluarga dan suku bangsa seta kemauan sesama manusia dan mengesampingkan Allah, sehingga kekuatan kita dirongrong dari dalam. Maka tidak mengherankan munculnya kesenjangan ekonomi yang makin menggangga lebarnya, tanah rakyat dirampas oleh pengusaha-pengusaha asing dan aseng, serta seluruh sumber daya alam dieksploitasi secara jahat oleh konglomerat-konlomerat Asing. Coba lihat tanah dijakarta itu sekarang hanya dimiliki oleh sekitar 5 persen orang Jakarta dan pemegang kekayaan Indonesia ini 90 persen kekayaannya dipegan oleh sepuluh persen orang yang hidup di Indonesia dan sepuluh persen kekayaan untuk rakyat Indonesia. Coba anda sadari angka-angka ini.

Advertisement

Maka tugas kaum muslimin khusunya di Indonesia adalah memberikan jawaban terhadap kesenjangan yang luar bisa ini dengan konsepsi Islam yang rahmatan lil alamin. Langkah itu kita sebut sebagai langkah “jihad” dalam menegakkan amar ma’ruf dan mencegak kemungkaran, melawan kedzoliman, ekploitasi dan kolonialisme modern ini. Jihad jangan selalu dikaitkan dengan perang suci sebagaiman dalam pandangan umat kristiani, tapi jihad itu adalah kemauan dan kerja keras untuk mewujudkan satu tatanan social baru yang lebih baik bagi umat manusia.

Karena jihad dalam Islam baru bisa ditegakkan hanya dengan iman dan Islam. Oleh sebab itu jihad harus mengacu pada tujuan Islam yaitu melenyapkan penguasaan manusia atas manusia dan menegakkan pemerintahan Allah, sehingga tidak dibolehkan lagi manusia menyembah kepada manusia, tidak boleh lagi ada penindasan dan kekezaman karena manusia adalah sama di hadapan Allah, yang membedakan mereka hanyalah taqwa.

Jihad dalam Islam dimulai dari pokok-pokok kejahatan yang ada. Pokok-pokok kejahatan itu adalah sifat buruk pemerintah negara. Kekuasaan berada ditangan mereka, senjata dikendalikan oleh mereka,hokum dan undang-undang dibuat oleh mereka. Oleh sebab itu kejahatan bisa merajalela dan bisa juga lenyap tergantung kepada pemerintah.

Coba kita lihat, pelacuran yang merajalela dengan dibuatnya lokalisasi WTS, karena dalam anggapan pemerintah pelacuran bukan kejahatan. Kalau seandainya pemerintah mau memberantas maka akan musnah pelacuran itu. Coba kita lihat perlakuan immoralitas yang semakin meningkat. Semata-mata karena pemerintah memberikan pendidikan itu kepada rakyatnya, dengan pendidikan-pendidikan yang tidak berbobot.

Kalau kita mau mendirikan pendidikan yang berbentuk lain, maka dari mana sumber dayanya? Bahkan kalau kita berhasil mendidik manusia yang baik, dimana kita mau mempekerjakannya? Semua pekerjaan dan sumber daya berada di tangan pemerintah yang buruk maka bagaimanapun kita ingin mempertahankan kebaikan maka akan runtuh seketika. Coba saksikan pertumpahan darah terjadi secara meluas, Jakarta sebagai kota besar menghasilkan “kanibal-kanibal” yang menakutkan. Ilmu pengetahuan dipakai hanya untuk kepentingan kekuasaan dan ilmu pengetahuan yang baik dibakar, nyawa, harta benda dan kehidupan manusia dimusnahkan, digusur dan dihancurkan. Hal itu terjadi karena yang memegang kekuasaan adalah orang yang paling jahat dan keji.

Tugas Umat Islam Indonesia

Bahwa pokok-pokok kejahatan itu adalah kebusukan pemerintah, yang mengotori pikiran rakyat, degenerasi moral, penyimpangan kemampuan manusia ke saluran yang salah, berkuasannya konsep bisnis dan perdagangan yang tidak adil, cara hidup yang buruk, meratanya penindasan, penyelewengan dan pengrusakan penciptaan tuhan, semua itu bersumber dari kekuasaan yang dipegang oleh orang-orang yang salah.

Sudah saatnya umat Islam Indonesia bersatu padu dalam satu konsepsi Islam, melupakan pertentangan masa lalu dan menjadikan sejarah sebagai pelajaran bukan sebagai doktrin dan akidah. Umat Islam adalah umat yang satu (wahid) dan agama Islam adalah agama kedamaian, keamanan, kesejahteraan dan kemajuan (wasatha) sehingga setiap pertentangan harus diselesaikan dengan konsepsi Islam.

Saatnya umat Islam kembali kepada Al-Quran dan Sunnah yang autentik sehingga betul-betul memahami ajaran Islam ini. Karena perpecahan akan interpetasi terhadap sejarah dan doktrin maka umat Islam berada dalam kehinaan sepeti ini. Umat Islam adalah umat yang diberikan kemenangan oleh Allah untuk memakmurkan dunia dan mendamaikan perbedaan.

Namun sekarang umat Islam berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Kenapa itu bisa terjadi? Karena mereka telah dzolim terhadap ayat al-Quran dan hadits nabi serta ulama dan para pewaris nabi. Umat Islam telah menghina mereka, tidak lagi takut kepada Allah, mereka telah takut peda thogut-thogut dari tiongkok dan amerika. Mereka tidak lagi mempelajari al-Quran dan Hadits, mereka telah terlena dengan dengan teori-teori thogut yang propagandis, mereka tidak lagi menjadi umat penengah, mereka saling memusuhi sesamanya hanya untuk membela kaum kafir hanya karena persoalan nafsu pribadi.

Maka demikianlah Allah akhirnya menghinakan umat Islam dan umat Islam terlena dalam kehinaan itu tanpa mau memperbaiki diri. Sekaran saatnya umat Islam untuk menyerukan panggilan jihad, hanya kepada Allah kita takut, menghargai al-Quran dan Hadits, menghormati Rasulullah SAW, menghargai ulama-ulama, mempersatukan langkah dan meninggalkan pertentangan untuk menuju Islam yang berkemajuan dan umat Islam yang menang. Kemenangan umat Islam harus diketahui adalah kembalinya keadaban dan kemajuan di dunia ini. Insaa Allah. Allahu Akbar!

 

Sangaji Furqon JurdiKetua Bidang Organisasi PC IMM Makassar Timur

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com