Opini

Ahok ; Antara Peran Engineer dan Marketer

Oleh : Ikhsan Kurnia*

OPINI, EDUNEWS.ID – Baru-baru ini sudah mulai bermunculan lembaga survey yang merilis hasil risetnya tentang elektabilitas calon gubernur DKI. Hasilnya, sementara ini Ahok masih unggul dari kedua pasang calon lainnya. Tulisan ini bukan untuk menanggapi hasil survey yang ada, namun hanya ingin menjawab pertanyaan kenapa Ahok cukup sukses memiliki elektabilitas tinggi.

Menurut saya, ada dua peran kunci (key roles) yang mendukung kesuksesan dalam memenangkan market, yakni engineer dan marketer. Peran engineer adalah melakukan desain dan rekayasa produk, sementara marketer bertugas memasarkannya. Jika salah satu dari dua peran ini pincang, sebuah produk tidak mungkin sukses menjadi market leader.

Demikian pula dengan figur politik. Mereka ibarat sebuah produk yang perlu didesain agar compatible dengan kebutuhan dan keinginan market. Engineer produk tidak sembarangan mendesain. Mereka melakukan dialektika terhadap pendekatan “inside out” dan “outside in”. pendekatan inside out berbasis pada nalar internal (yakni idealisme engineer), sementara pendekatan outside in berpusat pada nalar eksternal (yakni kebutuhan dan keinginan market). Engineer tidak hanya bekerja dengan perangkat teknis, namun juga dengan perangkat sosiologis dan antropologis.

Baca juga :  Menakar Manfaat Hak Angket Terhadap KPK

Setelah desain produk dihasilkan, tugas marketer adalah membangun koneksi antara produk dengan marketnya. Sistem marketing yang sudah mapan memiliki strategi komunikasi yang integratif dan holistik. Strategi ini disebut dengan Integrated Marketing Communication, yakni koordinasi seluruh perangkat & media komunikasi pemasaran untuk menghasilkan sebuah program yang terintegrasi yang memiliki dampak maksimal kepada target market. Program ini dilakukan melalui berbagai saluran (channel) secara massif dan integratif.

Ahok adalah figur politik yang didukung oleh resource yang cukup untuk membangun profil dirinya sebagai “produk” yang “well-designed” dan “well-communicated”. Engineer yang telah mendesain figur Ahok tidak berarti melakukan rekayasa terhadap karakternya. Ahok tetap didesain secara original. Karaternya yang khas memang terlihat genuine dan memiliki koherensi antara sikap dan tindakannya sebagai tipe eksekutor dan risk taker. Inilah impresi kuat yang dihasilkan dari desain figur Ahok. Desain figur Ahok tetap mempertahankan orisinalitas kepribadiannya. Tugas mereka kemudian adalah memastikan bahwa desain tersebut dihadirkan dalam “panggung” yang tepat.

Baca juga :  Hati-hati Membubarkan HTI

Sementara tugas marketer adalah membangun komunikasi dengan marketnya melalui Integrated Marketing Communication (IMC). Strategi ini “mengepung” market dengan agenda-agenda public relation, event, direct marketing, dan social media marketing (internet). Strategi ini menggabungkan antara komunikasi offline dan online.

Secara offline, Ahok melakukan jurus ampuh yang dinamakan dengan community involvement, yang dalam bahasa gaulnya disebut “blusukan”. Meski sering clash dengan warga, terutama dalam praktek agenda penggusuran, Ahok tetap membangun komunikasi dengan mereka. Ia tidak segan-segan berdebat dengan warga dan melontarkan kata-kata kasar. Namun sebagian orang justru melihatnya bahwa ia adalah pemimpin yang gentle. Ia berani berhadapan langsung (face to face) dengan “audience”. Ini adalah pola komunikasi horizontal yang memiliki value added dibandingkan dengan pendekatan vertikal. Rupanya komunikasi yang bersifat horizontal inilah yang dibutuhkan oleh market.

Baca juga :  Refleksi Kebangkitan Nasional : 'New Normal' dan Anomali Pendidikan Nasional

Secara online, Ahok memiliki channel komunikasi yang luar biasa kuat. Jika kita ketik nama “Ahok” di google, maka akan keluar 58,800,000 (dengan traffic 0.49 seconds). Bandingkan dengan figur lain yang menjadi kompetitor Ahok dalam Pilkada DKI; Anies Baswedan: About 5,510,000 results (0.56 seconds), Agus Harimurti Yudhoyono: About 979,000 results (0.55 seconds), Sandiaga Uno: About 4,600,000 results (0.70 seconds) dan Sylviana Murni: About 465,000 results (0.44 seconds). Angka informasi yang dimiliki oleh Ahok sungguh sangat fantastis. Bahkan, informasi tentang Presiden Jokowi kalah tipis dari Ahok: About 58,600,000 results (0.60 seconds). Sementara mantan Presiden SBY hanya berada di angka sekitar 28,200,000 results (0.84 seconds).

Advertisement

Ini menunjukkan bahwa Ahok memiliki awareness yang paling kuat saat ini. Meskipun awareness tidak menentukan likeness dan elektabilitas, setidaknya ia sudah menang 1 babak. Namun yang dimiliki Ahok rupanya tidak hanya itu. Tim marketernya telah membangun dan mengimplementasikan IMC dengan serius. Sebagian informasi utama tentang profil dan performance Ahok dikomunikasikan melalui website pribadinya: ahok.org. Situs ini memiliki tagline: Bersih, Transparan, Profesional. Di dalamnya berisi informasi cukup lengkap tentang program dan kinerjanya sebagai seorang gubernur DKI. Selain itu juga ia menginformasikan gajinya sebagai seorang gubernur. Situs ini cukup dapat menjadi advocator yang dapat mengklarifikasi dan menjelaskan berbagai hal tentang kinerjanya sebagai gubernur.

Selain itu, Ahok memiliki akun sosial media (fabecook, twitter, fanpage, youtube) yang memungkinkannya dapat berkomunikasi secara horizontal dengan konstituennya. Bahkan ia menerima SMS pengaduan. Dalam akun Twitternya ditulis: “SMS pengaduan: 0811944728, 081927666999, 085811291966 (sms ke satu nomer saja sesuai kartu yang dipakai agar lebih murah). [email protected]”. Bahkan ia sangat detail memperhatikan biaya SMS sekalipun. Sementara di Deskripsi akun Facebooknya ditulis: “Like halaman ini untuk meninggalkan pesan dan komentar anda. Salam dan selamat berdiskusi. Terima kasih”. Marketernya menyadari bahwa untuk membangun engagement dengan pemilih, Ahok harus melakukan “conversation”, tidak hanya branding. Conversation ini penting dalam strategi marketing kontemporer. Dan hasilnya memang sangat efektif.

Ahok dan tim marketernya rupanya mampu membangun strategi marketing yang sistematis, integratif dan holistik. Apakah ini dimiliki oleh kompetitornya? Mungkin analisis terhadap strategi komunikasi marketing calon gubernur lainnya harus ditulis secara khusus. Saat ini, berdasarkan data internet, memang Ahok adalah figur yang paling dikenal. Namun bukan berarti media capital yang dipegang Ahok menentukan hasil akhir dari pertarungan ini.

Tantangan Penantang Ahok

Para penantang Ahok harus mampu menjawab tantangan awareness dan popularity di media. Masalahnya, media sangat menentukan kemenangan, meski bukan satu-satunya variabel penentu. Namun jika kesadaran akan pentingnya komunikasi horizontal ini tidak dimiliki oleh figur-figur penantang Ahok, maka wassalam. Mereka hanya menggali lubang kekalahannya sendiri.

Engineer dan Marketer lawan Ahok memiliki PR besar untuk mendesain dan memarketingkan figur yang dicalonkannya. Desain figur tidak bisa diciptakan hanya berdasarkan pertimbangan perbedaan dan keunikan, namun juga kualitas. Saya ingin memberikan contoh yang menarik dari produk FMCG yang ada di Indonesia. Contohnya adalah Indomie versus Tara nasiku. Mie instan sesungguhnya tidak memiliki basis kultural dalam masyarakat kita. Namun entah kenapa, ia mampu menjadi market leader dalam kontestasi makanan instan di tanah air. Ia adalah “produk impor” dari China dan Korea. Sementara, Tara nasiku sesungguhnya bermaksud untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia sesuai kulturnya sebagai pemakan nasi (rice eater). Namun rupanya produk ini gagal total. Ia tidak laku di pasaran? Sedangkan Indomie masih menjadi raja makanan instan hingga hari ini.

Kenapa pendatang baru (Tara nasiku) tidak mampu memukul mundur the Giant (Indomie)? Karena taste-nya tidak strong. Rasanya kalah enak dari Indomie. Ini sudah bukan lagi persoalan variabel financial capital, marketing strategi ataupun faktor lainnya. Persoalan rasa (taste) adalah variabel yang paling basic. Bagaimana dengan “taste quality” para penantang Ahok?

Hal ini menunjukkan bahwa kerjasama antara Engineer dan Marketer politik harus kuat dan saling mendukung. Engineer bertugas mendesain profil, karakter, dan “kualitas rasa” secara jenius. Sementara marketer mengkomunikasikan produknya secara integratif dan horizontal. Karena, sekali lagi, Ahok hanya bisa “dipukul” oleh figur yang “well-designed” dan “well-marketed” melebihi dirinya.

 

Ikhsan KurniaPengamat Marketing Politik; Mahasiswa Pascasarjana MBA ITB

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com