Opini

Ahok, Kanker NKRI

Oleh : Harianto Minda*

OPINI, EDUNEWS,ID – Perjalanan panjang bangsa nusantara sebagai jalur rempah-rempah telah menarik perhatian saudagar di dunia. Baik saudagar yang berasal dari negeri Arab, Gujarat, Persia, dan China dimana jalur tersebut masuk dalam zona Asia-Timur Tengah saat ini. Tidak hanya itu, nusantara yang memiliki kekayaan alam telah sampai beritanya ke telinga raja-raja di belahan barat dunia. Setelah mendapatkan berita itu, mereka berbondong-bondong datang ke bumi pertiwi nusantara seperti VOC dan Portugis.

Hubungan perdagangan yang terbangun antara kerajaan atau kesultanan secara perlahan telah berubah menjadi perebutan kekuasan dimana akhirnya mengambil alih dan menjajah bangsa nusantara dengan menggunakan strategi devide at impera (pecah belah) antar kerajaan atau kesultanan saat itu dan menjauhkan rakyat dari keyakinannya. Misalnya, menjauhkan umat Islam dari nilai nilai Al-Qur’an sehingga berhasil menjajah bangsa nusantara dalam kurung waktu tiga setengah abad lamanya.

Baca juga :  Saintisme dan Okultisme Marwah Daud pada Visi Nusantara Jaya

Perjuangan bangsa nusantara yang dipimpin oleh raja-raja dan para ulama telah menuai hasil dengan memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945, yang diwakili oleh Soekarno-Hatta untuk selanjutnya menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berasaskan Pancasila, bersemboyankan Bhineka Tunggal Ikha dengan Konstitusi UUD 1945. Kemenangan ini dapat dicapai karena adanya persatuan yang dibangun oleh bangsa Indonesia dengan spirit kepercayaan dan keyakinan oleh seluruh elemen bangsa terutama umat Islam dengan energi Qur’ani yang mengalir dalam jiwanya.

Dalam perjalanan bangsa Indonesia, rongrongan dari dalam pun tidak dapat dihindarkan, dimana gerakan filosofi materialisme dialektika yang berideologikan komunisme (Atheisme) berkiblat pada Uni Soviet dan China saat itu melalui kekuatan PKI ingin mengambil alih kendali kekuasaan. Akan tetapi, gerakan itu tidak berhasil karena alim ulama dan organisasi Islam seperti HMI, PII dan Lain lain telah melakukan perlawanan bersama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Baca juga :  The True Face of America

Pada fase selanjutnya, Indonesia mengalami perubahan yang signifikan sejak gerakan reformasi berhasil mendesak Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Era reformasi telah bergulir dengan segala kesuksesan dan kegagalannya telah membawa Indonesia dalam situasi yang serba terbuka terutama pasca amandemen UUD 1945 pada tahun 2002. Dimana dulunya, era orde lama dan orde baru, negara dalam posisi kuat bila dibandingkan dengan kekuatan modal tapi setelah masuk era reformasi yang tidak terkawal dengan baik oleh pelakunya telah merubah posisi kekuatan modal lebih kuat dari pada posisi Negara. Akhirnya bangsa Indonesia lebih dominan diatur oleh pemilik modal yang menyerahkan kebijakan berpihak kepada Sistem Pasar.

Baca juga :  50 Tahun Tambang Freeport dalam Kendali Asing
Advertisement

Kini bangsa Indonesia mengalami multi problematika, sebagai generasi yang memiliki tanggungjawab bela bangsa dan negara dari ancaman pengaruh kekuatan luar yang telah berhasil menancapkan jangkarnya di Indonesia melalui penguasaan sumber daya manusia, sumber daya alam, ekonomi, budaya, pendidikan, hukum, media bahkan telah menjadi pelaku kekuasaan politik secara langsung serta lain-lainnya.

Untuk menguasai Indonesia, tidak perlu memerangi dengan menggunakan senjata tetapi cukup menghancurkan karakter dan mentalnya melalui semua dimensi kehidupan seperti menciptakan ketergantungan mengkomsumsi obat-obatan (narkoba) yang dominan berasal dari China kepada generasi muda sebagai pewaris masa depan negara Republik Indonesia.

Tidak hanya itu, pelemahan karakter bangsa Indonesia terus dilakukan dengan menggunakan cara seperti yang dilakukan oleh penjajah pada era sebelum kemerdekaan. Strategi menjauhkan bangsa Indonesia dari kepercayaan dan keyakinannya pun secara terang terangan dilakukannya. Hal ini telah dipertontongkan oleh Basuki Djahaja Purnama (Ahok). Ahok yang menganut agama non muslim, secara sadar dan terang terangan berusaha menjauhkan nilai-nilai Al-Qur’an yang diyakini oleh Umat Islam. Hal ini bertujuan melemahkan keyakinan umat Islam, seperti tidak memilih pemimpin yang bertentangan dengan keyakinannya.

Ahok dengan suara keras dan mimik yang sinis saat menyebut Surah Al-Maidah ayat 51 berhasil menciptakan polemik di internal Umat Islam, antara umat Islam berpikiran moderat, Fundamental, maupun yang berhaluan pemikiran Islam Liberal. Akhirnya Ahok telah berhasil membuat kegaduhan itu dengan menggunakan strategi devide at impera (pecah belah).

Apa yang dilakukan oleh Ahok memancing luapan emosional umat Islam karena telah mengurusi urusan rumah tangga umat Islam. Padahal, hal itu telah diatur dan dijamin dalam pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945 sebagai penegasan dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Luapan emosional itu terjadi karena Ahok telah menistakan Al-Qur’an dan melawan konstitusi negara Republik Indonesia demi kepentingan pribadinya. Apabila hal ini dibiarkan tanpa langkah yang tegas maka akan menjadi penyakit kanker untuk NKRI dan dapat mengakibatkan gejolak sosial sehingga terjadi instabilitas nasional dimana kita tidak menginginkannya. Olehnya itu, tangkap Ahok agar penyakit kankernya tidak menjalar kemana-mana demi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai.

Billahi Taufiq Wal Hidayah,
Wassalamu ‘Alaikum Wr. Wb.
Yakin Usaha Sampai

 

Harianto Minda, Ketua Bidang PTKP PB HMI

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com