Opini

Aksi Sporadis dan Salah Tafsir Nilai Perjuangan Aktivis Masa Lalu

Oleh : Munawir Mihsan* 

OPINI, EDUNEWS.ID – 28 Oktober 1928 merupakan lahirnya Hari Sumpah Pemuda. Dimana seharusnya momentum tersebut dijadikan perenungan serta penghayatan ditengah kerapuhan solidaritas aktivis mahasiswa yang menyandang predikat sebagai agent of change dan agent of control.

Aksi aktivis mahasiswa Makassar dalam peringatan sumpah pemuda yang jatuh pada hari Jum’at tanggal 28 Oktober 2016 berujung pada aksi emosional yang tak terkendali antara para mahasiswa yang melakukan unjuk rasa dengan pihak aparat keamanan di kota Makassar. Yang berakhir pada perusakan fasilitas negara. Kejadian ini berada di jalan Alauddin tepatnya depan kampus Universitas Muhammadiyah Makassar. Hal tersebut kemudian menjadi sorotan pemberitaan beberapa media lokal maupun nasional.

Gerakan sporadis seperti ini sering terjadi dalam gerakan mahasiswa di Kota Makassar dalam memperingati hari bersejarah. Jalan raya menjadi medan adegan layaknya film holywood yang dibingkis dan di-setting sedemikian rupa sehingga menghipnotis perhatian masyarakat yang diliputi ketegangan emosional. Demi menunjukkan keahlian para peliput media dalam menyajikan pemberitaan demi mencari, memperbanyak langganan atau mengejar pemasangan iklan korporasi di tengah ketatnya persaingan dunia usaha digital serta kencangnya arus media-media elektronik, cetak maupun online yang bermunculan sehingga dalam penyajian berita tidak sepenuhnya benar yang pada akhirnya ditelan mentah-mentah oleh masyarakat.

Baca juga :  Lucu, Mahasiswa di Bengkulu ini Bikin Surat Tak Mampu Berpikir

Arena dunia usaha digital ini membuat fenomena unik dalam budaya masyarakat Indonesia yang membuat warga menjadikan arena ini sebagai ruang-ruang untuk mengekspresikan suasana emosional kepada publik, baik secara moral hingga kepada hal yang bersifatnya sporadis (Dekstruktif). Fenomenal ini menjadi hal mencolok di era masyarakat kekinian khususnya di Indonesia. Batas-batas wilayah antara persoalan private dan publik seolah tak mempunyai batas jurang pemisa di era dunia digital. Kelaziman inilah menjadi cerminan khas budaya masyarakat kita, sehingga terasa ganjil tanpa mengaktualisasikan dirinya dalam ruang ruang digital disetiap momentum yang dialaminya baik yang bersifat private maupun publik.

Fenomenal mencolok ini mengakibatkan ruang-ruang aspirasi dalam dunia gerakan mahasiswa menjadi arena medan pertarungan yang amat keras untuk naik kelas dalam peliputan media yang berkelas. Dengan demikian setiap momentum dijadikan medan tempur bagi gerakan mahasiswa sebagai wujud untuk menunjukkan eksistensi sebagai seorang mahasiswa, serta sebagai pembuktian akan keeksistensian mereka kepada publik bahwa mereka masih ada. Ditambah lagi dengan stigma sejarah pergerakan mahasiswa Maksasar selalu diperhitungkan dan menjadi perhatian dalam dunia pergerakan mahasiswa di Indonesia. Hal itu disebabkan karena sejarah gerakan mahasiswa Makssar di masa lalu yang selalu konsisten dan tak pernah goyang untuk terus melakukan gerakan propoganda dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Meskipun intimidasi-intimidasi fisik, akedemik, bahkan sampai berujung dibalik teruji besi juga tak menyurutkan kobaran api semangat pergerakannya.

Baca juga :  Beberapa Hal yang Perlu Dilakukan saat Masa Orientasi Kampus

Agus to Comte (tokoh sosiolog) mengemukakan bahwa “Masyarakat yang ada sekarang lebih terdiri dari masyarakat yang sudah mati“, artinya masyarakat yang sekarang merupakan jelmaan masyarakat dahulu dalam artian masyarakat lalu masih menghisai masyarakat sekarang dari segi budaya.

Semangat gerakan para mahasiswa Makassar dalam memperjuangkan aspirasi rakyat dengan menjadikan parlemen jalanan sebagai jalan memperjuangkan sebuah apsirasi dengan karekter sedikit ekstrim. Gerakan perjuangan melalui parlemen jalanan telah menjadi warisan turun menurun kepada generasi aktivis mahasiswa hari ini. Perlu diketahui dengan seksama situasi serta kondisi dialami para pendahulu, sangatlah berbeda konteksnya dari segi sistem pemerintahanya dan zaman.

Aktivis mahasiswa masa lalu hidup dan berdinamika dengan era zaman orde baru dengan sebuah sistem pemerintahan otoriter. Demokrasi pun terpasung sehingga pilar demokrasi yaitu media massa pun di bredel ketika akan memberitakan persoalan kesewenang-wenangan penguasa, ketimpangan sosial dan mengedukasi rakyat dalam rangka menstimulus budaya kritis berbangsa dan bernegara bagi rakyatnya. Gerakan aktifitas mahasiswa masa lalu mengalami hal yang sama dengan institusi media massa, ini dapat dilacak dalam sejarah pergerakan mahasiswa.

Baca juga :  Ada Apa dengan PSBB ?
Advertisement

Sejarah mencatat terjadi pembatasan gerakan aktifis mahasiswa dengan sebuah sistem NKK dn BKK sebagai produk kebijakan rezim orde baru lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di Perguruan Tinggi sehingga ketertekanan batin atau dalam istilah kekikinan disebut dengan kegalauan menimpa mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia dimana hal tersebut menjadi titik pemicu kesamaan sehingga terbangunnya solidaritas para aktivis di berbagai Indonesia, tak terkecuali di kota Makassar.

Kekuatan solidaritas tersebut menjadikan gerakan mahasiswa begemuruh dijalan-jalan raya layaknya banser yang berjalan, teriakan-teriakan lantang memecah langit layaknya bunyi meriam. Ribuan mahasiswa tumpah ruah di jalan yang penuhi sesak di jalan-jalan ibu kota, serta di berbagai daerah di Indonesia. Kekuatan solidaritas tersebut menjadi kekuatan dan membuat bertekuk lututnya tank-tank dan tak berkutiknnya barisan serdadu-serdadu berseragam tempur lengkap sehingga membuat kepanikan para penghuni istana sampai akhir lengsernya sang tangan besi Soeharto.

Revitalisasi dn reintrepertasi gerakan

Pola-pola gerakan mahasiswa sekarang terjebak pada metodologi gerakan aksi parlemen jalanan sebagaimana gerakan di masa lalu. Semangat kobaran nilai-nilai perjuangan para aktivis mahasiswa masa lalu tidak mampu di revitalisasi dan reinteprasi dalam konteks gerakan kekinian sehingga yang terjadi adalah pengulangan metode gerakan yang telah menjadi nostalgia gerakan para aktifis masa lalu.

Gerakan mahasiswa pada hari kerap kali mendapat penilaian antipati rakyat terhadap gerakan yang dipertontonkan. Mestinya semangat nilai-nilai perjuangan para mahasiswa masalalu dijadikan motivasi untuk melahirkan milintasi secara terus menerus untuk melakukan konsolidasi secara instens di berbagai organ kelembagaan mahasiswa demi mengembalikan solidaritas gerakan sebagai kekuatan pengontrol bagi jalannya roda pemerintah serta kekuatan untuk mengembalikan hak rakyat pinggiran yang selama ini mengalami perampokan akibat perselingkuhan elit penguasa dan pengusaha.

Menyuburkan kembali nuansa-nuansa ilmiah dalam setiap kegiatan atau pengkaderan dalam dunia kampus untuk menstimulus kesadaran kritis sebagai individu yang tidak sebagai akedimisi tapi juga mempunya tanggung jawab moralitas terhadap persoalan kebangasaan dan memproteksi individu-individu (mahasiswa) sebagai estafet kepemimpinan masa depan bangsa.

Hantaman keras budaya globalisasi berefek pada kian mengikisnya semangat nasionalisme, patriotisme yang melanda masyarakat ilmiah (mahasiswa), hal ini ditandai dengan kesibukan diruang-ruang akedemik, apatis, hedonis, prakmatis, ego identitas sektoral ( fakultas, kedaerahan, lembaga) yang berujung pada konflik fisik antara kelompok mahasiswa yang satu dengan lainnya dalam sebuah Perguruan Tinggi yang menjadi lambang masyarakat ilmiah.

Gerakan kita terjebak dalam dinamika sporadis sebagai ungkapan salah memaknai semangat perjuangan aktivis di masa lalu yang gagah berani berbenturan kepada siapapun yang dianggap sebagai penghalang akan sebuah perubahan, revitalisasi dan reinterpretasi nilai-nilai aktivis masa lalu harus mampu ditransfomasikan kedalam konteks kekinian dengan konsisten, sabar dan tak mengenal lelah dalam rangka membentuk kembali tatanan masyakat ilmiah di kampus yang selama ini terkikis.

Dengan ditandai hampir matinya kesadaran budaya kritis terjebak pada identitas simbolik sebagai individu-individu berpredikat mahasiswa dalam sebuah Perguruan Tinggi. Gerakan selanjutnya adalah melakukan reokonsiliasi demi mengikis ego sektoral yang berakibat pada lemahnya kekuatan solidaritas gerakan yang pada hari ini mengalami ketumpulan secara subtansi. Berakhir menjadi hiasan indah bagi media massa, layaknya balon-balon sabun indah yang berterbangan ke udara sesaat memanjakan mata saat memandangnya, tanpa memberikan arti sebuah makna.

“Penguasa Takut sama Mahasiswa, Mahasiswa Takut sama Dosen, Dosen Takut sama Penguasa”
Munawir MihsanMahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com