Opini

Andai Indonesia Tanpa Pancasila

No nation can achieve greatness unless it believes in something has moral dimensions to sustain a great civilization.

~Jhon Gardner, 1992

Oleh: Ahmad Baidawi*

OPINI, EDUNEWS.ID – Republik Indonesia (RI) negara yang berlimpah kekayaan alam, populasi terbesar ke-4 di dunia, kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, 1.340 suku bangsa, 736 bahasa daerah, 6 agama resmi dan berpenduduk muslim terbesar di dunia. Terletak di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa, berada di antarbenua dan antarsamudra, Indonesia sejak lama menjadi titik temu penjelajahan bahari yang membawa berbagai arus peradaban. Maka, jadilah Nusantara sebagai taman sari peradaban dunia.

Itulah mengapa Indonesia menjadi perhatian dunia sejak pra kemerdekaan sampai pada saat ini. Jika kita lihat dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Tentu hal tersebut tidak dilalui dengan mudah dan tak luput dari berbagai perjuangan bangsa untuk menuju kemerdekaan. Dimulai dari periodisasi kerajaan-kerajaan nusantara sampai pada periodesasi masa penjajahan di indonesia yang telah tertulis dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia berabad-abad lamanya. Berbagai macam usaha dilakukan oleh para pendiri bangsa termasuk mengorbankan nyawa mereka untuk membawa bangsa ini ke gerbang kemerdekaan.

Kini, setelah peristiwa 17 Agustus 1945 di mana bangsa Indonesia membuat suatu ikrar bersama untuk berkomitmen mewujudkan Negara merdeka. Merdeka dari segala penindasan, penjajahan, diskriminasi serta merdeka dari berbagai aspek politik, ekonomi, dan budaya. Hal tersebut memiliki konsekuensi yang harus dijalankan oleh seluruh bangsa Indonesia. Seperti mewujudkan kesejahteraan, keadilan serta persatuan Indonesia. Karena tanpa itu semuanya bangsa Indonesia tak bisa dikatakan merdeka.

Maka, untuk mewujudkan cita-cita luhur dari bangsa Indonesia. Para pendiri bangsa ini sudah merumuskan suatu konsep nilai-nilai negara merdeka yang dinamakan PANCA-SILA. Panca berarti lima sedangkan Sila berarti Dasar atau Asas. Alhasil, prinsip-prinsip dasar negara Indonesia merdeka yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa itu tidaklah didapatkan dari udara, melainkan digali dari bumi sejarah keindonesiaan, yang tingkat penggaliannya tidak berhenti di masa gelap penjajahan, tapi menerobos jauh ke belakang hingga masa kejayaan Nusantara.

Dalam lintasan sejarah, konseptualisasi Pancasila dapat dikatakan bahwa 1 Juni merupakan hari kelahiran Pancasila. Pada hari itu juga, lima prinsip dasar negara dikemukakan dan diberi nama Panca Sila, dan sejak itu juga jumlahnya tak pernah berubah sampai pada 18 Agustus 1945 disahkan secara konstitusional. Dalam sebuah buku berjudul Negara Paripurna, Yudi Latief mengatakan proses konseptualisasi Pancasila setidaknya terdiri dari tiga Fase. Fase Pembuahan, Fase Perumusan, Fase Pengesahan.

Demikianlah, para pendiri bangsa ini mewariskan kepada kita nilai-nilai dasar negara, suatu dasar falsafah dan pandangan hidup negara yang kita sebut dengan Pancasila. Suatu dasar falsafah yang memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang kuat dan tahan banting (durable). Kini pertanyaannya adalah bagaimana kita memperdalam pemahaman dan kepercayaan terhadap Pancasila, untuk kemudian diamalkan secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?.

Apa yang akan Terjadi Tanpa Pancasila?

Prediksi terkait apa yang terjadi jika Indonesia tanpa Pancasila sudah banyak diulas oleh banyak media dan para intelektual bangsa ini. Umumnya mereka mengatakan jika Indonesia tanpa Pancasila, maka kita bukan Indonesia. Mahfud MD, misalnya menyampaikan dalam pidatonya di salah satu Universitas di Lebanon, pada Oktober 2015, menjawab sebuah pertanyaan dari peserta diskusi,  terkait Indonesia yang terdiri dari puluhan ribu pulau, agama, bahasa, warna kulit dan suku tapi tetap bisa bersatu?

Dari jawabannya, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI itu secara tegas menjelaskan pentingnya ideologi pemersatu bagi suatu bangsa. Mahfud MD menjawab, “‎…Semua bisa terjadi karena Indonesia mempunyai Ideologi yang bisa mempersatukan seluruh komponen bangsa yaitu Pancasila.” Ketua PGI Pdt Andreas A Yawangoe juga mengemukakan, “Indonesia tidak dapat dipahami tanpa Pancasila.” Djafar Ruliansyah Lubis, Ketua Umum Laskar Persatuan Advokat Muda Indonesia (LPAMI), juga mengemukakan, “Bangsa Indonesia akan lenyap dan musnah jika tanpa Pancasila.” Demikianlah beberapa pendapat dari para Intelektual bangsa ini tentang betapa mengerinya Indonesia jika tanpa ideologi Pancasila.

Penjelasan di atas mungkin sedikit mengerikan bagi sebagian kita, tapi itulah kenyataan yang tidak bisa kita hindarkan. Sebagai contoh, India negara yang memiliki keberagaman seperti Indonesia, memiliki jumlah populasi terbesar ke tiga di dunia, memiliki beberapa Agama, Suku, dan Budaya. Dalam sejarah India kita bisa melihat, India sudah kerap kali mengalami perpecahan karena perbedaan agama. India mulanya kehilangan sebagian wilayahnya pada 1947 seiring berdirinya Pakistan. Selanjutnya, India kembali kehilangan wilayahnya di bagian timur pada 1971 ketika muncul Bangladesh.

Contoh lain, Timur tengah di beberapa negaranya sampai hari ini tak kunjung padam api kebencian, permusuhan dan perpecahan di antara masyarakatnya. Perbedaan menjadi musuh bagi kaum mayoritas di timur tengah, umat islam timur tengah terpecah menjadi kelompok-kelompok. Sebagian kelompok mengklaim kelompoknya paling benar, sehingga kelompok yang tidak sepaham dengan mereka disebut kafir. Sehingga hal tersebut menghidupkan api permusuhan di antara mereka. Berapa banyak negara di kawasan Timur tengah yang semulanya merupakan negeri yang indah, megah, tenteram, dan aman, hari ini menjadi hancur dan rata oleh tanah. Seperti Irak, Syiria, Palestina, Tunisia, dan Libya.

Dari beberapa contoh di atas, menunjukkan, betapa hancurnya jika suatu negeri tidak dilandasi sebuah Ideologi. Dalam hal ini, Indonesia sejak awal kemerdekaannya sudah memiliki suatu ideologi yang kita kenal dengan PANCASILA, di mana Pancasila tidak hanya dijadikan sebagai dasar negara tetapi lebih dari itu Pancasila juga dijadikan sebagai falsafah hidup dalam berbangsa dan bernegara.

Perjalanan panjang Pancasila sebagai ideologi memang tidak bersih dari beberapa tantangan. Sebagai kesepakatan tengah atau jalan tengah di antara dua ekstrem pemikiran, Pancasila jelas berada dalam posisi yang diselimuti berbagai ketegangan. Bahkan, nampaknya ketegangan yang pernah dialami para Pendiri Bangsa waktu itu juga terwarisi hingga hari ini. Kita tak menutup mata, bahwa ada sebagian anak bangsa hari ini, atas nama berbeda ideologi, masih menolak Pancasila sebagai dasar bernegara. Bahkan, mereka dengan berani bersuara di ruang publik menyatakan sikap penolakannya itu. Mereka ingin negara dengan bermacam agama (keyakinan), suku, dan keragaman lainnya ini berubah menjadi negara berideologi agama. Keinginan ini wajar, walau mestinya tak perlu lagi terjadi, andai sejarah bangsa Indonesia  ini dipahami secara seksama.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga serta memperdalam pemahaman, penghayatan dan kepercayaan kita akan keutamaan nilai-nilai yang terkandung pada setiap sila Pancasila, untuk kemudian diamalkan secara konsisten di segala lapis kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengembalikan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi negara, mengembangkan Pancasila sebagai ideologi menjadi Pancasila sebagai ilmu, dan menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya cara, jalan untuk memperbaiki kebijakan negara. Dengan demikian, maka Indonesia benar-benar menjadi negara kesatuan, meskipun berbeda-beda tetap satu tujuan (Bhinneka Tunggal Ika).

So, Indonesia dengan Pancasila atau Indonesia Tanpa Pancasila? Kita semualah yang menentukan nasib bangsa ini ke depan. Indonesia yang nyaman, rukun, harmonis, toleran, dan cinta kasih atau Indonesia yang heboh, kacau, saling membenci, dan intoleran. Jhon Gardner, pernah mengatakan, “Tidak ada bangsa yang dapat mencapai kebesaran jika bangsa itu tidak percaya kepada sesuatu dan jika tidak sesuatu yang dipercayainya itu memiliki dimensi-dimensi moral guna menopang peradaban besar” (Jhon Gardner,1992).

Ahmad Baidawi. Dosen Pendidikan Pancasila Universitas Teknologi Yogyakarta, Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close