Opini

AQM: Laksana Garam dalam Sayur

 

 

Oleh : Dr. Ilham Kadir, MA.,

OPINI, EDUNEWS.ID-Sejak pemilihan langsung kepala daerah diterapkan di Indonesia, maka setiap tokoh yang punya potensi untuk ikut bertarung merebut tampuk kekuasaan terbuka lebar. Potensi dimaksud adalah kemampuan merebut hati para pemilih dengan berbagai macam pendekatan. Bisa lewat partai, atau pun perorangan. Keduanya sah dan sama posisinya di mata hukum.

Walaupun partai masih menjadi pilihan dan kekuatan utama dalam memobilisasi dan memengaruhi para pemilih, tapi ketokohan seorang calon kepala daerah adalah sisi lain yang tidak bisa diabaikan.

Fokus tulisan saya kali ini adalah mengungkap sisi ketokohan Aziz Qahhar Muzakkar yang disingkat dengan sebutan AQM. Kecuali itu, ulasan singkat ini sebagai jawaban kepada siapa saja yang mempertanyakan ‘kenapa AQM kembali maju sebagai calon wakil gubernur’, padahal sebelumnya sudah dua kali mengalami kegagalan, baik sebagai calon gubernur yang kala itu berpasangan dengan Mubyl Handaling (2008), maupun sebagai wakil kala berpasangan dengan Ilham Arif Sirajuddin (2013).

***

Bahwa di Sulawesi Selatan adalah gudang para politisi, cendekiawan, ulama, serta cerdik pandai itu benar. Buktinya, hanya orang Sulsel yang mampu menjadi presiden Republik Indonesia dari luar pulau Jawa, namanya B.J. Habibi. Demikian, hanya ada dua suku selain Jawa yang bisa jadi Wakil Presiden, Bugis dan Padang. Saat ini pun yang menjadi wakil presiden orang Bugis, M. Jusuf Kalla namanya.

Karena itulah, setiap pemilihan kepala daerah, khususnya pada tingkat provinsi, lebih khusus lagi di Sulawesi Selatan, keadaan selalu semarak, penuh dinamika, dan kadang lebih genting.

Baca juga :  Aksi Sporadis dan Salah Tafsir Nilai Perjuangan Aktivis Masa Lalu

Menghadapi Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018, beberapa nama mulai mencuat, bahkan lembaga survei Nasional Poltracking (Kompas.com, 24/9/2017) sudah merilis setidaknya empat paket dengan tingkat elektabilitas, masing-masing, Nurdin Halid – Aziz Qahhar Muzakkar (NH-Aziz) 19,79 persen; Ichsan Yasin Limpo-Cakka (IYL-Cakka), 17,39 persen; Nurdin Abdullah-Tanribali Lamo (NA-TBL), 16,37 persen; Agus Arifin Nu’mang-Aliyah Mustika Ilham (Agus-Aliyah), 8, 95 persen.

Sudah dipastikan jika terdongkraknya pasangan NH-Aziz karena survei dinilai dengan paket masing-masing calon. Bukan lagi dinilai dengan figur secara parsial. Dan AQM mampu menjadi figur penentu naik turunnya elektabilitas pasangan.

***

Sosok yang lahir di  Palopo, 15 Desember 1964 ini, merupakan pribadi yang sederhana, meski berstatus sebagai pejabat negara, kesehariannya tetap sederhana.
Kebiasaan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar  ini nyaris masih seperti dulu, baik saat masih menjadi aktivis mahasiswa, maupun setelah menjabat sebagai senator di DPD RI.

Sosok Aziz juga tak lepas dari ayahnya Qahhar Mudzakkar, satu-satunya tentara pengawal yang berhasil menyelamatkan Presiden RI Pertama, Soekarno usai pidato bersejarah di Lapangan Ikatan Atletik Djakarta (kini Lapangan Banteng).

Sosok yang berhasil meloloskan Soekarno hanya dengan sebilah badik dari kepungan tentara penjajah Belanda itu meninggalkan jejak mendalam perjuangan penolakan paham komunis di Indonesia, (Merdeka.com).

Harus diakui bahwa keberadaan AQM dalam Pilgub baik yang telah lalu, maupun akan datang menjadi daya tarik sendiri. Baik bagi pendukung fanatiknya maupun lawan politik dan para awak media.

Baca juga :  Zakat dan Filosofi Pancasila

Pengalaman saya yang lahir di pedalaman atau pelosok terpencil, lebih tepatnya di Desa Watangcani, Bonto Cani, Bone menyaksikan betapa banyak pendukung setia Qahhar Muzakkar. Mereka adalah veteran DI/TII, atau yang pernah hidup di bawah pemerintahan DI/TII yang kala itu dipimpin oleh Qahhar Muzakkar.

Setiap perhelatan Pilgub berlangsung, setiap itu pula muncul pertanyaan “Apakah Putra Qahhar mencalonkan diri? Kalau ada, itu yang akan saya pilih”. Mereka ini tidak mengenal tawar menawar, mau bagaimana pun calon lainnya, mereka tidak akan bergeming.

Ketika saya menetap di Enrekang beberapa tahun terakhir, ternyata kabar serupa juga saya temukan. Basis pendukung fanatik AQM berada di daerah Duri, lebih khusus Kecamatan Buntu Batu. Pelosok ini yang menjadi bagian dari Gunung Latimojong, gunung tertinggi di Sulsel. Sama seperti Bonto Cani, Buntu Batu adalah daerah pegunungan. Kondisi semacam ini memang menjadi basis pertahanan dan pemerintahan DI/TII.

Tentu saja ini hanya sebagai contoh kecil betapa banyaknya pendukung AQM yang masih tetap menunggu dan mengharap agar jagoannya itu kembali tampil dalam Pilgub Sulsel. Tentu akan mengecewakan banyak orang andai AQM absen dalam perhelatan demokrasi lima tahunan itu, sebaliknya keberadaannya akan menjadi penawar dahaga para pendukung setia.

Keikut-sertaan AQM dalam Pilgub Sulsel 2018 yang mendampingi Nurdin Halid menjadi penawar bagi para pendukung Qahhar Muzakkar secara emosional maupun ideologis. Emosional dimaksud adalah ketokohan pribadi, sedangkan ideologis adalah pro syariat dan anti PKI. Walaupun kini syariat Islam sudah mulai diperdakan secara bertahap, itu artinya ideologi DI/TII secara elegan dan bertahap sudah terlaksana.

Baca juga :  Pilgub Sulsel, NasDem Berikan Rekomendasi ke Pasangan Nurdin Halid-Aziz

Salah satu wadah pengusung dan pejuang penegakan syariat Islam di Sulsel adalah KPPSI, atau Komite Perjuangan Penerapan Syariat Islam. Paguyuban ini sebagai bukti nyata bahwa memperjuangkan syariat lewat koridor demokrasi adalah sesuatu yang sah dan pancasilais. Sah sebab mengikuti arus ketentuan negara, pancasilais sebab memperjuangkan sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. AQM saat ini adalah Amir KPPSI.

Pilgub Sulsel bukan hanya soal menang dan kalah. Akan tetapi banyak sisi lain yang menarik. Adanya AQM dalam Pilgub, laksana garam dalam sayur. Para awak media pun tidak sedikit yang tertarik meliput AQM dan para pendukungnya. Di saat yang sama, para kompetitor dalam Pilgub harus ekstra usaha untuk meredam laju popularitas dan elektabilitas alumni doktor pendidikan Islam Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor tersebut.

Sebagai negara yang sedang belajar demokrasi, semestinya kita mendorong siapa pun yang pro pembangunan ummat serta mampu bersaing merebut kursi gubernur dan wakil gubernur untuk ikut bertarung. Ingat, dakwah kebijakan adalah sunnah Nabi yang terabaikan. Wallahu A’lam!

Enrekang, 2 Oktober 2017.[disingkat oleh WhatsApp]

 

Dr. Ilham Kadir, MA., Sekretariat KPPSI Pusat.

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!