Opini

Aset yang Tertidur

 

 

Oleh : Firdaus Ahmadi*

OPINI, EDUNEWS.IDUMKM informal merupakan “aset” yang bisa didayagunakan untuk menyisiati laju perkekonomian sekarang yang sedang lesu.

BPS menyatakan bahwa “kegiatan informal mengacu pada kegiatan ekonomi yang umumnya dilakukan secara tradisional oleh organisasi bertingkat rendah ataupun yang tidak memiliki struktur, tidak ada akun transaksi (transaction accounts) dan ketika terdapat relasi kerja biasanya bersifat musiman (casual), pertemanan atau relasi personal, ketimbang berbasis perjanjian kontrak”. (Badan Pusat Statistik, Sensus Ekonomi 2006. Analisis Ketenagakerjaan. (Kondisi Sosial Ekonomi Pekerja, 2009).

Sedangkan ciri-ciri yang lain sektor usaha informal adalah :Modal usahanya relatif kecil, tidak berbadan hukum, tidak ada kewajiban untuk membayar pajak atas usahanya peralatan yang digunaka sederhana, tidak memerlukan izin dari pemerintah, ruang lingkup usahanya kecil, umumnya hanya dilakukkan oleh anggota keluarga. Pengusaha sektor informal diakui eksistensinya dalam masyarakat, namun mereka sangat minim akan proteksi.

Baca juga :  Memaknai Pemisahan Kemendikbud dan Kemenristekdikti

Seperti pungutan liar mengatasnamakan keamanan yang terjadi pada para pedagang-pedagang di pasar tradisional. Namun mereka adalah the real enterprenure UMKM yang kuat bertahan dalam mengatasi situasi dan kondisi apapun walau pendidikan “ala kadarnya” namun dengan semangatnya yang luar biasa, mereka sebagaian ada yang datang jauh-jauh dari kampung ke kota besar berjualan, seperti berjualan bubur, mie pangsit, baso dan gorengan dengan sabar dan tawakal dan sekarang mereka ada yang sukses, bahkan ada yang memiliki rumah, bisa menyewa ruko dan memiliki kendaraan sendiri.

Sewaktu bulan puasa terdapat aneka makanan kacil untuk berbuka puasa (takjil) seperti: aneka gorengan, bubur kacang hijau, lupis dan lain-lain. Pada waktu itu munculah pengusaha-pengusaha kecil “dadakan” yang ikut mengambil rezeki pada hari yang barakoh tersebut. Padahal saat ini Indonesia sudah memasuki fase perekonomian yang sedikit lesu dengan nilai tukar kurs rupiah terhadap dolar yang selalu fluktuatif (Rp 13.200) membuat harga barang kebutuhan yang mulai tidak pasti.

Baca juga :  KKSS, Rumah Kita Semua!

Disaat seperti itu pengusaha-pengusaha kecil “dadakan” ini hampir tidak merasa keadaan tersebut, walau mereka sedikit meyinggung kebutuhan hidup yang semakin tinggi dan sulit, seperti mulai naiknya harga kebutuhan pokok seperti gula, cabe, minyak, beras dan lain-lain, namun dalam berdagang mereka bisa menyisiati dengan membuat variasi makanan atau mengecilkan produk makanannya dan kadang sedikit menaikan harga makanan mereka.

Advertisement

Setelah habis masa bulan puasa dan lebaran, mereka merubah strategi pemasaran dan harga produknya. Sekarang ini masih juga berjalan masa-masa sulit perekonomian Indonesia yang masih cukup sulit. Namun bagi para pengusaha sektor informal ini sudah terbiasa menghadapi masalah ini.

Seperti pengusaha bubur, yang dia lakukan adalah salah satunya mengurangi takaran bubur mengingat standar bubur yang dijual harga berasnya yang masih cukup tinggi dan dengan harga penjualan normal atau tidak mengurangi takaran bubur dengan harga normal namun waktu berjualan ditambah atau dengan berbagai variasi makanan yang lebih menarik.

Sama juga taktiknya dengan tukang gorengan, dan lain-lainnya. (berdasarkan hasil diskusi penulis dengan pengusaha sektor informal di sekitar Tangerang). Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPENAS) pernah melakukan kajian evaluasi pembangunan bahwa selama krisis ekonomi, terbukti sektor informal tidak hanya bisa bertahan bahkan berkembang pesat.

Dari sisi permintaan, akibat krisis ekonomi, pendapatan masyarakat turun drastis dan terjadi pergeseran permintaan masyarakat dari barang sektor informal atau import (yang harganya relative mahal) ke barang-barang yang lebih sederhana buatan sektor informal. Misalnya sebelun krisis terjadi banyak pegawai-pegawai kantoran mulai dari kelas menengah sampai tinggi makan siang di restoran mahal di luar kantor.

Di masa krisis banyak dari mereka merubah kebiasaan dari makan siang di tempat mahal kerumah makan sederhana atau warung murah di sekitar kantor mereka. (Kajian Evaluasi Pembangunan Sektoral, Peran Sektor Informal Sebagai Katup Pengaman Masalah Ketenegakerjaan, Kedeputian Evaluasi Kinerja Pembangunan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2009)

UMKM dalam persfektif tingkatan informal seperti inilah yang banyak disekitar kita. Pemerintah seharusnya bisa memberi perhatian lebih pada pengusaha-pengusaha ini. Seperti pemberian kredit perbankan yang lebih lunak, pelatihan-pelatihan kewirausahaan dan fasilitas yang murah, seperti pasar, agar mereka tenang berjualan dan tidak dikejar oleh satuan polisi pamong praja.

Namun pemerintah terutama pemerintah daerah harus juga tegas dalam mendisiplinkan mereka agar mengikuti peraturan yang ada. Ingat mereka pengusaha-pengusaha sektor informal yang selalu bisa bertahan dalam menghadapi kondisi sulit.

Firdaus Ahmadi, Redaktur Pelaksana Jurnal Sekolah Tinggi Teknologi dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Banten

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com