Literasi

ASIK Jika Mengalahkan Petahana

Oleh: Bagus Setiawan*

OPINI, EDUNEWS.ID – Tulisan ini saya mulai dengan kutipan panjang dari seseorang yang sangat saya kenal baik. Seseorang yang saat ini sedang berjuang dalam pertarungan politik untuk maju dalam pilkada Bone.

Dia adalah Andi Singkeru Rukka, yang oleh sahabat dan kerabatnya, sering disapa Andi Singke, atau dengan akronim ASIK. Berikut tulisannya yang sarat dengan filosofi masyarakat Bugis.

MEMPE BOSI RI BONE
Ujujung upari botto ulu alebbirengta
(Saya junjung kemulian anda di atas kepalaku)

“Singke, degaga laleng mapparentako mancajiko Bupati atau Wakkele Bupati ri Bone, MEMPEKO BOSI Nak, isseng alemu tenniaki tau malessi, masagena waramparang, tennia tokki anakarung pangka seddi ri Bone.
(Singke, tak ada jalan kau memerintah dan menjadi Bupati atau Wakil Bualpati di Bone. Kau ibarat memanjat hujan, Nak. Kenali dirimu, kau bukan orang kuat, tak punya banyak Harta, bukan pula bangsawan kelas satu di Bone)”

Kata ini begitu menyentuh nurani kemanusiaanku, sampai sedding (terasa) di bagian terdalam jiwaku, mengugah kesadaran hati dan pikiranku untuk sadar agar bercermin sesegera mungkin, eee…Puang (Ya Tuhan), betulkah demikian, teri rennika sedding nataro… (Aku menangis pedih jadinya) eee…puang peddipatu (Ya Tuhan, betapa perihnya).

Astagfirullah… Sesungguhnya niatan ini bukan sekedar ingin menguji keberuntungan, mengukur kekuatan, menakar potensi dan memanfaatkan momentum.

Tetapi lebih dari itu pole ati macinnongkku pong marilaleng (dari lubuk hatiku yang terdalam), eloka padecengi kamponge tana Bone (ingin kuperbaiki daerah kita, Tanah Bone), nasaba allempongeng cera’ku (Sebab di sanalah tanah tumpah darahku).

Eee…puang (Ya Tuhan) Allah swt, bukankah takdir telah kau catatkan dalam lauh al mahfudz dengan meliputi tiga hal besar sesuai kehendakMu bahwa takdir telah tertulis, tetapi bukankah takdir ditetapkan juga berkaitan dengan jalan mana yang akan kita pilih.

Tapi jika pun demikian, eloni diagai, eloka mabbura mali, Puang (mau bagaimana lagi, saya siap pertaruhkan segalanya, Tuhan). Purani utoddo atikku (Telah kubulatkan tekadku), elo utonrai laeng dalle ku (Bila memang demikian jalan takdirku).

Taparajaianga Addampeng, Massimanna (Mohon perkenan dan maaf diberi, saya pamit)

~Andi Singkeru Rukka

Mempe Bosi (memanjat bulir hujan) kata yang biasa digunakan oleh masyarakat Bugis untuk menunjukkan kemustahilan sebuah rencana. Dalam beberapa catatan di atas, sungguh sangat menarik untuk cermati. Sebab ada hal yang ingin diwujudkan dari ketidakmungkinan, meski cibiran dan tanggapan yang silih ganti berdatangan.

Tentu hal yang utama adalah itu tidak mungkin mengalahkan petahana, apalagi sekarang dengan posisi jilid dua masih solid untuk maju bersama. Bagi saya itu hanya sikap yang sangat pesimistis, padahal dalam politik, pertarungan ide dan gagasan hal itu biasa saja, karena politik adalah ketidakpastian pertarungan.

Sangat patut diapresiasi besar sosok pemuda hari ini yang mau melihat daerahnya dan mengambil peran dalam pesta demokrasi 2018 yang akan datang. Karena bukan demokrasi kalau petahana melawan kotak kosong.

Membahas soal pesimisme untuk mengalahkan petahana, bukan hal yang tidak mungkin bagi siapapun yang bergerak dengan setulus hati dalam pertarungan politik. Kita baru-baru ini diberikan ruang untuk melihat betapa sangat kejam politik ketidakpastian itu.

Mari belajar dari Pilkada Jakarta, siapa yang bisa sangka sosok Anies-sandi mampu mengalahkan petahana, yang kita tahu bersama memiliki elektabilitas yang kuat pada saat belum putaran kedua. Siap yang sangka dengan didukung partai besar, namun masih bisa juga dikalahkan.

Hal yang lebih menarik lagi adalah waktu yang digunakan untuk melakukan deklarasi dan kampanye tidak terlalu lama, sampai pada kemenangan gemilang yang diraihnya.

Lagi-lagi inilah politik, apalagi yang sedang ingin mengalahkan petahana adalah seorang yang punya ide dan gagasan kebudayaan dan pendidikan yang baik untuk masyarakat Bone.

Kalau melihat kembali ke Jakarta, di mana tingkat pembangunan dan kepuasan masyarakatnya terhadap kinerja petahana yang lalu sangat memuaskan. Tetapi mengapa masih bisa juga dikalahkan, selain ada faktor lain-lain saya rasa.

Kita coba fokuskan pada pembangunan yang ada di Jakarta saja, memiliki jalur transportasi yang terintegrasi, taman kioa yang nyaman untuk anak-anak dan sungai yang mulai di kembalikan menjadi bersih. Tetapi mengapa 50 persen warga Jakarta masih saja memilih calon lain, ini sebuah hal yang tidak bisa kita tebak secara pasti.

Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Jadi kita semua harus sadar tidak ada hal yang pasti dalam politik, memanjat bulir hujan (Mempe Bosi) itu hanya kata untuk memacu gerakan untuk bisa melihat apakah kita bisa mengalahkan petahana. Yakin saja di mana ada perjuangan, pasti kita bisa menuai kemenangan.

Mencoba kembali ke tataran pemerintah Bone hari ini, apakah ada survei atau hasil rilis dari Pemda sendiri tentang tingkat kinerja dan kepuasan masyarakat terhadap petahana kali ini? Kalaupun ada, apakah memuaskan?

Banyak yang menjadi sorotan untuk soal itu, mulai dari realisasi janji dan beberapa jalanan di pedesaan yang belum terealisasi. Jangan jauh-jauh ke desa, di dalam kota saja masih ada beberapa jalanan yang dalam kondisi tidak baik.

Apalagi sekarang sering terjadi banjir pada titik tertentu di pusat kota Bone, ini pertanda kemajuan ataukah menjadi sebuah kode bahwa infrastruktur kabupaten banyak yang sedang tidak baik-baik saja.

Jelas terjadi ketimpangan yang sangat jelas pada sektor ekonomi, sosial dan pembangunan.

Ada hal lain yang sebenarnya juga jadi sorotan, yakni penyelesaian Integrasi pasar sentral yang hari ini belum memberikan dampak ke semua pedagang. Kalau soal pasar ini saya jadi saksi secara pribadi, karena saya pernah turun langsung bagaimana roda perekonomian yang kurang berjalan dengan baik di pasar sentral.

Banyak hal yang harusnya jadi perhatian pemerintah, kekhawatiran nantinya petahana baru akan melakukan eksekusi program perbaikan infrastruktur menjelang Pilkada. Karena sudah jelas petahana sudah melakukan deklarasi maju dalam pilkada 2018.

Semoga saja ini hanya sikap kritis yang sedang membaca arah politik pasangan yang telah sepakat untuk maju lagi. Semua masyarakat Bone inginkan perubahan yang tentunya lebih baik lagi, jikalau masih sama saja buat apa mempertahankannya lagi.

Justru sekarang ini saatnya pemuda yang mengambil peran untuk merealisasikan ide-ide dan gagasan baru. Kita harus bisa memberikan kepercayaan dan kesempatan bagi hal baru dan pembaruan agar kita bisa mengetahui yang mana lebih baik bagi masyarakat Bone.

Kekuasaan atau pemerintahan daerah memang bukan ajang coba-coba atau gagah-gagahan semata-mata, namun ada nilai keikhlasan dan perjuangan yang harus kita bawa demi kemajuan bersama rakyat yang sejahtera.

Akan menjadi pembelajaran politik yang ASIK jika pemuda bisa diberikan kesempatan untuk menuangkan idenya dalam pemerintahan yang bersih, adil dan sejahtera. Majuki’ untuk Bone yang ASIK dalam kebudayaan yang selaras dengan filosofi Bugis Bone.

Bagus Setiawan. Relawan Poros Muda Menyatu. 

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close