Opini

Bangun Budaya Diskusi dan Membaca, Upaya Kritis Tangkal Hoax

 

 

Oleh : Erry Donneli*

OPINI, EDUNEWS.ID-Pada era digital saat ini berbagai informasi baik dari surat kabar dan media sosial begitu cepat menyebar ke telinga masyarakat. Dari banyaknya informasi yang diterima oleh masyarakat tersebut, tentu banyak sekali informasi yang mengandung unsur hoax.

Pengertian hoax diterjemahkan menjadi hoaks yang diartikan dengan “berita bohong” (Hasan, 2007: 271). Bisa dilihat berita-berita yang tersebar baik di televisi,koran,dan media sosial (Instagram, twitter, Facebook, Line, dsb) banyak sekali yang sifatnya pribadi ataupun kelompok menyebarkan informasi yang tidak benar atau bohong.

Menurut Rocky Gerung, peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) saat berbicara di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) beliau mengatakan bahwasanya indikator informasi bisa dikatakan hoax adalah dimana informasinya nol atau lebih kecil dari nol. Contohnya dalam debat Pilgub DKI 2017 kemarin Pak Ahok mengatakan dalam sebuah data statistik kota Jakarta sebagai ibukota negara dengan Human Development Index tertinggi di Indonesia dan itu sebuah fakta, namun bisa disebut informasi tersebut hoax karena informasinya nol dimana Jakarta dengan APBD tertinggi dan sejak satu dekade lalu selalu dengan Human Development Index tertinggi sehingga informasinya yang disampaikan Pak Ahok adalah hoax secara penyebarannya kepada masyarakat.

Informasi yang bersifat hoax dengan berita yang tidak benar sesuai faktanya juga banyak beredar di media sosial melalui akun pribadi ataupun akun buatan yang bersifat provokatif. Penyebaran informasi hoax yang tak terbendung ini membuat masyarakat sebagai penerima informasi harus mampu memilah dan berpikir secara logis untuk menangkal informasi hoax tersebut. Melihat situasi dan infromasi dari berbagai sudut pandang, tidak menerima informasi tersebut secara mentah, dan melihat secara objektif segala sesuatu merupakan cara yang ampuh bagi masyarakat agar tidak terprovokasi atau dibohongi dengan informasi yang bersifat hoax. Masyarakat harus mampu berpikir kritis dalam menerima setiap informasi yang ada. Untuk melatih berpikir kritis diperlukan suatu cara yang efektif dan budaya yang baik dalam pemikiran masyarakat sebagai penerima informasi tersebut.

Salah satu cara untuk berpikir kritis dalam menanggapi suatu informasi dan permasalahannya adalah dengan menggalakkan budaya diskusi. Forum-forum yang sering mengadakan diskusi ilmiah harus ditingkatkan intensitasnya. Dengan adanya forum-forum diskusi ilmiah ini tentu membuat orang-orang yang hadir dalam forum diskusi tersebut lebih mengetahui akar persoalan suatu permasalahan yang diangkat dalam diskusi sehingga dalam mengambil sikap terhadap suatu informasi atau permasalahan jauh lebih berilmu dan bijak. Sikap mudah terprovokasi terhadap isu atau berita yang kebenarannya belum teruji membuat suatu permasalahan menjadi kacau dan menyebabkan perpecahan bagi sebagian orang padahal sama-sama belum mengetahui informasi yang benar.

Bisa dilihat dari berbagai media sosial yang menyebarkan suatu isu atau berita banyak sekali berita yang bersifat provokasi dan dikomentari oleh orang-orang yang tidak mengerti pula persoalan tersebut. Kurangnya cara berpikir yang kritis serta budaya membaca yang baik membuat seseorang atau suatu kelompok tertentu berpotensi membuat suatu informasi yang tidak berdasar sehingga menyebabkan informasi tersebut menjadi hoax atau berita bohong.

Terkadang informasi tersebut didalamnya terdapat kebenaran namun dibumbui dengan informasi yang dilebih-lebihkan atau informasi yang yang justru tidak lengkap, hal tersebut membuat suatu informasi yang menyebar tidak sesuai fakta sebenarnya yang terjadi. Rendahnya budaya literasi yakni membaca dan menulis di Indonesia dimana sebuah data berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University tahun 2016 lalu, menunjukkan negara Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara soal minat membaca dan hanya 0,01 % penduduk Indonesia yang menyukai membaca, artinya hanya 1 orang diantara 10.000 orang yang mempunyai minat membaca secara serius. Dari data tersebut menunjukkan bahwa salah satu akar persoalan kenapa informasi yang mengandung hoax bisa merajalela dan dengan mudah menipu rakyat Indonesia karena rendahnya minat membaca orang Indonesia. Salah satu cara meningkatkan minat membaca juga bisa ditingkatkan dengan upaya membaca buku dengan bantuan visual yang menarik (Kurt & Bernhard, 1983: 175).

Budaya diskusi dan membaca di kalangan masyarakat Indonesia saat ini memang sudah jarang terlihat khususnya di kalangan anak muda, bahkan di kalangan mahasiswa yang seharusnya menjadi kegiatan rutin dan kewajiban mereka untuk terus mengasah cara berpikir kritispun sudah jarang terlihat. Kegiatan-kegiatan yang berbau literasi dan diskusi haruslah tetap hidup di kalangan masyarakat Indonesia, seperti kajian rutin, diskusi terbuka, seminar, pasar buku dan Gerakan-gerakan literasi lainnya. Ada banyak contoh gerakan di Indonesia yang bisa ditiru misalnya gerakan selasar literasi, toekang diskusi, pojok baca, dan Forkasi (forum kajian dan diskusi). Dengan adanya wadah diskusi dan pelopor baca di Indonesia diharapkan mampu membuka kerangka berpikir masyarakat Indonesia menjadi lebih luas wawasannya sehingga ketika adanya informasi yang datang bisa berpikir terlebih dahulu,mengecek kebenaran informasi tersebut dan tidak mudah terprovokasi terhadap suatu informasi.

Kegiatan diskusi dan membaca bisa dilakukan oleh siapapun dengan cara yang mudah. Diskusi bisa dilakukan pada saat nongkrong di kedai kopi, di pojok-pojok kampus, masjid, ataupun tempat lainnya. Bertukar pikiran dengan teman tentang suatu persoalan membuat seseorang yang ikut diskusi tentu memiliki sudut pandang yang lebih banyak dan luas. Diskusi bisa dilakukan dengan orang yang lebih paham dan ahli tentang duduk persoalan suatu masalah tentu akan lebih baik lagi seperti dengan dosen. Selain diskusi, budaya membaca buku,koran,e-book,dan sebagainya bisa membuat wawasan menjadi lebih luas dan informasi yang didapat lebih banyak sehingga ketika setelah membaca kemudian mengikuti diskusi menjadi lebih lengkap lagi pengetahuan dan kerangka berpikir yang didapat dalam suatu pokok persoalan.

Banyaknya isu hoax yang tengah merajalela di Indonesia terutama di media sosial (Instagram, twitter, Facebook, Line, dsb) membuat masyarakat Indonesia harus bisa memilah, mengecek dan berpikir kritis terhadap informasi tersebut. Dengan digalakkannya budaya diskusi dan membaca di Indonesia tentu budaya tersebut bisa menjadi senjata ampuh buat masyarakat Indonesia dapat berpikir kritis dalam menghadapi dan menangkal berbagai isu hoax yang ada.

 

Erry Donneli, Mahasiswa Manajemen FE UII 2013

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!