Opini

Belajar Dari Dua Sosok Teladan HMI Asal Maluku

 

 

Oleh : Abdul Malik Raharusun*

OPINI, EDUNEWS.ID – Kongres XXX Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Kota Ambon, Maluku telah memasuki hari ketujuh. Kongres yang dilaksanakan di Universitas Patimura sejak dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo pada 14 Februari 2018 memang menarik perhatian warga Kota Ambon dan Maluku umumnya.

Pada seluruh sudut Kota Ambon spanduk dan baleho ucapan selamat berkongres menjadi asesoris kota yang bergelar The City of Music, tidak hanya oleh instansi dan pejabat pemerintah ucapan selamat pun datang dari tokoh legislatif, tokoh masyarakat, tokoh agama dan organisasi keagamaan.

Meriahnya kongres ini pun membuat nama HMI kini bukan hanya dikenal kalangan akademisi kampus tetapi juga oleh masyarakat awam. Dari Ibu-ibu penjual ikan, Abang penarik becak, tukang ojek, sopir angkot, anak jalan, kini mengenal HMI, tentunya dengan batas dan pengetahuan yang dimiliki.

Baca juga :  Fitnah, HMI Laporkan akun FB Kang Hasan ke Polda Metro Jaya

Inilah kongres HMI, perhelatan nasional yang juga “memaksa” Presiden Joko Widodo untuk datang ketiga kalinya di Kota Ambon sesuatu yang sangat langka bagi seorang Presiden.

Setiap hari media cetak lokal juga tidak ketinggalan memberitakan lika-liku kongres HMI. Dari berita yang baik sampai dengan berita yang cukup mengusik rasa kepekaan kita sebagai orang yang pernah dikader di HMI juga sebagai anak Maluku.

Berita Harian Rakyat Maluku halaman 1 dan 7 pada Kamis 22 Februari 2018 mislanya. Dengan tajuk Kongres HMI XXX Sisahkan Hutang? ini mengulas informasi kongres yang menyisahkan hutang mencapai Rp1 miliar.

Padahal masih menurut berita yang dilansir, Pemerintah Provinsi Maluku telah menggelontorkan dana sebesar Rp3 miliaar dari Rp4,3 miliar yang dijanjikan dan juga Pemerintah Kota Ambon telah memberikan 500 juta dari Rp1 miliar dana yang dijanjikan.

Baca juga :  Ahok, HT, dan James Riady

Dana tersebut tentunya belum termasuk sumbangan lain dari Pemerintah Kabupaten dan Tokoh Masyarakat atau lembaga lainnya. Setidaknya sepekan kongres XXX HMI telah menghabiskan dana Rp3,5 miliar termasuk hutang Rp1 miliaar, jumlah yang sangat fantastis untuk sebuah perhelatan nasional mahasiswa.

Tentunya kita tidak dapat memahami logika pemakaian dana seperti apa oleh kongres, toh yang paling bertanggungjawab atas penggunaan dana pastilah panitia baik panitia lokal ataupun nasional. Untuk itu tulisan ini diulas, rasanya kongres XXX HMI di Kota Ambon ini harus banyak belajar dari kesederhanaan tokoh-tokoh HMI asal Maluku.

Belajar Dari Tokoh HMI Asal Maluku

Kongres XXX HMI yang demikian “gemerlap” harus banyak belajar dari tokoh HMI yang sudah sangat terkenal kesederhanaannya. Setidaknya dua tokoh HMI asal Maluku yang layak dijadikan keteladanan adalah Alm Kanda Said Tuhuleley dan Kanda Abdulah Hehamahua. Kedua tokoh ini Bang Said dan Bang Dullah adalah tokoh nasional asal Maluku karier mereka sebagai tokoh nasional dimulai dari HMI.

Baca juga :  Peduli Korban Gempa Sulteng, PB HMI MPO Serukan Aksi Nasional

Aktivis Islam siapa yang tidak mengenal Alm Said Tuhuleley pria kelahiran Desa Kulur, Saparua, Maluku ini pun menghembuskan nafasnya dalam dunia aktivis di Yogyakarta pada 9 Juni 2015 saat itu Bang Said masih menjabat Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat, Muhamadiayah.

Advertisement

Perjumpaan penulis dengan bang Said adalah pada saat Kongres XIX HMI (MPO) di Yogyakarta. Pada kalangan HMI dan aktivis Muhamadiyah, Bang Said tokoh yang kesederhanannya bahkan telah mencapai maqom kezuhudan.

Bang Said peraih gelar Doktor Honoris Causa tahun 2014 ini mengawali karier organisasinya sejak Wakil Ketua PD Pelajar Islam Indonesia (PII) Kota Ambon. Dan anggota HMI saat di Yogyakarta.

Bang Said dalam kariernya pun pernah menjabar Pembantu Rektor III pada Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY) tahun 1996-1999. Pada kalangan aktivis HMI di Yogyakarta Bang Said semasa hidupnya acapkali dijadikan tempat diskusi pemberdayaan masyarakat, ekonomi Islam dan juga keorganisasian.

Sebagai penghormatan atas jasa dan bakti Bang Said baik kepada Muhamadiyah dan bangsa pada Tanwir Muhamadiyah di Kota Ambon 24 Februari 2017 lewat Lazismu PP. Muhamadiyah memberikan Klinik Apung Said Tuhuleley.

Tokoh kedua yang sangat dikenal yakni Kanda Abdullah Hehamahua SH MH atau Bang Dullah. Lahir di Ambon, 18 Agustus 1947, nama Bang Dullah sudah sangat familiar dikalangan aktivis Islam, Ketua Umum Pengurus Besar HMI (1979-1981), Ketua Umum Partai Politik Masyumi tahun 1998, Wakil Ketua Pemeriksa Kekayaan Negara/PKPN 2001-2004, dan penasehat KPK tahun 2005.

Bang Dullah juga dikalangan HMI kesedarhanaannya tidak diragukan lagi, bahkan kader HMI pun merasa segan jika harus berhadapanya denganya. Selama menjabat penasehat KPK Bang Dullah pun seringkali menghadiri kegiatan seminar tanpa mengambil sepeser rupiahpun dari panitia, bahkan seteguk air pun tidak dicicipnya, hal ini dilakukan untuk menjaga marwahnya sebagai penegak hukum.

Cerita tentang kesederhanaan Bang Dullah telah menjadi mata air keteladanan bagi aktivis HMI dan organisasi Islma lainnya, bahkan pada 01 November 2015 wartawan Republika, M Akbar Wijaya secara khusus bertandang ke rumah Bang Dullah di Kampung Rawadenok, Depok melihat secera dekat kesederhanaan Bang Dullah.

Guru Terbaik Keteladanan

Guru terbaik dalam hidup adalah keteladanan, maka belajar dan ambillah hikmah dari mereka yang telah berjuang untuk umat dan bangsa tanpa harus menghamburkan atau menghabiskan banyak biaya.

Dan anak HMI memiliki referensi itu, tentunya teramat banyak alumni HMI yang dapat dijadikan tauladan untuk hidup dan berjuang apa adanya, tanpa gemerlap duniawi. Bang Said dan Bang Dullah hanya sebuah contoh yang dekat dengan kita, khusus untuk kongres HMI di Kota Ambon.

Tetapi sebagai alumni HMI (MPO) juga anak Maluku rasanya jumlah miliaran itu terlalu fantastis apatahlagi ditengah kondisi ekonomi rakyat Maluku yang kian lesu. Kita berharap HMI dan kader HMI banyak belajar dari kezuhudan hidup Almarhum Said Tuhuleley dan Kanda Abdullah Hehamahua, semoga Kongres XXX HMI di Kota Ambon dapat melahirkan gagasan yang baik bagi umat, bangsa dan khususunya rakyat Maluku.

Abdul Malik Raharusun, Sekretaris Jenderal PB HMI (MPO) periode 2013-2015

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com