Opini

Bhinneka Tunggal Ika, Bukan Boneka Milik Amerika

Oleh: Rifaldi Rahalus*

OPINI, EDUNEWS.ID – Abdurrahim Rasyad menulis sebuah status ‘Bhineka Tunggal Ika’, bukan ‘Boneka Milik Amerika’ di facebook pada 12 Februari 2017. Bisa dibilang, pernyataan yang cukup mengundang tanya. Apa maksud ungkapan komedian asal Kupang, Nusa Tenggara Timur itu? Alih-alih, Abdur sapaan akrab bintang stand up comedy itu, disamping menghibur penonton, sajian materinya bermuatan kritis. Abdur mengkritisi kebijakan pemerintah, dengan mengkaitkan perbedaan pembangunan di Pulau Jawa dan sekitarnya dengan pembangunan yang ada di bagian timur Indonesia, ibarat langit dan Bumi.

Tak hanya itu, ia juga menyesalkan, eksploitasi kekayaan alam negeri ini yang dilakukan oleh investor semakin merajalela, sementara pemerintah seakan tidak berpihak pada rakyatanya. Saya mencoba mencermati dua kalimat berlawan diatas dengan pendekatan rasional berdasarkan fenomena kebangsaan saat ini, melalui tulisan ini juga. Indonesia sebagai negara yang dihuni beragam etnis, suku, ras, dan agama juga dibingkai dalam falsafah Bhinneka Tunggal Ika, menuntut agar keberagaman tadi dapat membentuk menjadi satu meskipun berbeda.

Inilah semangat dan cita-cita yang diwariskan the founding father bangsa kepada kita semua. Adalah menjadi pertanyaan mendasar, sudahkah falsafah Bhinneka Tunggal Ika itu kita implementasikan? Mungkin sudah, menjelang dan sesudah kemerdekaan Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Soekarno, keberagaman begitu terpelihara membentuk satu kekuatan dari Sabang-Merauke demi melawan penjajahan. Akan tetapi, Abdur tak hentinya melontarkan kritikannya. Applause diiringi tawa riah oleh penonton menyusul pesan Abdur, bahwa Indonesia ibarat kapal, dan presiden sebagai nahkoda kapal.

Baca juga :  Tinjauan Praktis Implementasi di Satuan Pendidikan: Perpres No 87 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter

Kata Abdur, setiap pergantian nahkoda kapal Indonesia masih jauh menuju perubahan. Semangat kebangsaan yang tadinya begitu mengkristal, kini hanya tinggal kenangan ditelan sikap pragmatis dan ego individu serta kelompok tertentu dan mengabaikan kepentingan bangsa. Benar apa yang diramalkan Bung Karno, perjuangan dimasanya, yakni negara melawan penjajahan namun sekarang kita justru dijajah oleh negara sendiri. Fenomena krusial ini menjadi potret buram bahwa kita dalam ambang penjajahan di negeri sendiri dan oleh negara sendiri.

Segalah aspek kebangsaan kita tak lepas dari intervensi asing hingga semakin membuat generasi bangsa tidak produktif. Yang ada, nalar kritis generasi muda justru diuji: menyikapi problematika kebangsaan. Meluasnya intervensi asing terhadap megara kemudian melahirkan kesimpulan Indonesia adalah ‘negara boneka’ termasuk falsafah Bhinneka Tunggal Ika ikut diobok-obokan. Amerika Serikat (AS), salah satu negara yang begitu berambisi mengusai kekayaan bumi Indonesia. Bahkan, di era Jokowi, salah satu Pulau di Maluku Utara, presiden ingin berikan ke pihak Jepang tanpa proses analisis terlebih dahulu atas dampak lokalnya.

Bagaimanapun juga, Pulau Morotai bagian dari wilayah kesultanan, wajarlah Sultan Tidore melontarkan protes atas atas kebijakan sepihak pemerintah pusat itu lewat surat terbukanya. Perlu digaris bawahi, bahwa memang Indonesia perlu tampil dilevel dunia investasi global karena Indonesia belum bisa mandiri mengelola SDA yang ada. Akan tetapi tidak harus terus-terusan seperti itu, bukankah kita sudah banyak modal untuk pengadaan alat industry canggih untuk mengelolah kekayaan alam kita.

Baca juga :  Ada Atribut HMI di Aksi 412, Berikut Pernyataan Ketua Kornas Kohati

Dengan demikian, aktivitas PT Freeport, satu-satunya perusahan tambang raksasa milik AS di Papua dan diberbagai daerah lainnya dapat dihentikan setelah bertahun-tahun menguras kekayaan alam kita secara tidak adil.Karena, selain pihak investor, hanya segelintir orang yang menikmati hasil alam kita,mereka adalah antek atau kaki tangan pemodal tentunya, semenatara sebagian besar dari penduduk Indonesia justru menderita akibat dieksploitasi. Disis lain, wacana yang marak akhir-akhir ini dibincangkan publik tak lain adalah bankir berjulukan ‘Sembilan Naga’ yang tengah melakukan ekspansi besar-besaran.

Misi besar ini selalu mengambil momentum politik tanah air, termasuk pilkada DKI Jakarta. Motif politik yang dimainkan adalah politik etis dan langkah menarik simpatisan, pun ada juga motif politik adu domba.

Indonesia adalah Boneka AS?

Orasi humor bernada kritis oleh Abdur diatas panggung stand up comedy yang disiarkan KompasTV, berbeda dengan parlemen jalanan atau orator umumnya saat aksi unjuk rasa digelar demi menyampaiakan sebuah aspirasi atau tuntutan. Bedanya, pesan Abdur bisa didengar secara utuh oleh jutaan penduduk Indonesia termasuk pemerintah pusat/daerah. Meskipun, menurut penulis, ini tergologan aksi simpatisan, setidaknya ia tidak sekedar tampil sebagai seorang yang berlomba demi meraih juara, atau sekedar menghibur orang terutama penggemar komedian.

Baca juga :  HMI Minta Polisi Segera Periksa Pemilik Akun FB Kang Hasan

Namun, Abdur juga berusaha menyampaikan aspirasi masyarakat yang belum mendapat sentuhan hangat dari pemerintah, ini terbukti karena Indonesia sejak kemerdekaan, hanya terjadi pergantian kekuasaan dari rezim ke rezim tetapi hasilnya tetap sama. Kemiskinan belum kunjung teratasi, lapangan kerja yang minim, kebijakan pemerintah yang seakan tidak berpihak pada wong cilik dan meningkatnya aksi kekerasan, bahkan belakangan ini volume keratakan bangsa semakin terlihat akibat perseteruan pada tataran yang lebih sensitif:agama, suku, ras dan atar golongan (SARA).

Meskipun tak bermaksud mengangkat sejara kelam, setidanya, konflik horizontal cukuplah terjadi di Maluku, Maluku Utara dan Poso serta beberapa daerah lainnya. Dengan demikian, kita semua perlu membuka lebar wacana pemikiran kita dengan mengedepankan sikap kritis kita sebagaimana Abdur, kita tidak harus telan mentah apapun informasi yang berpotensi menimbulkan keretakan bangsa ini. Semangat bertoleransi harus kita budayakan kembali agar falsafah Bhinneka Tunggal Ika tidak kehilangan nilai apalagi berubah sebagaimana dikatakan Abdur, Boneka dalam Amerika.

Rifaldi Rahalus, Ketua Umum HMI (MPO) Cabang Manado

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!