Literasi

Bumi Tanpa Kaum Alay

 

 

Oleh : Nurkhasanah Latif*

OPINI, EDUNEWS.ID – “Being normal is boring“. Sepetik kalimat di atas pernah menjadi kalimat yang sangat popular. Dalam percakapan sehari–hari, ketika mendapat teguran teman “Kenapa sih gayamu berlebihan sekali?” atau “Kok bibirmu dimanyun–manyunin amat pas depan kamera?”, jawaban yang sering keluar, “Terlalu normal dan biasa saja itu membosankan shay.” #gubrak

Kalimat ini juga pas lagi naik–naiknya jarang absen dari foto yang di share teman–teman dengan pose menantang ala bintang disertai caption “Normal is boring, being weird and crazy makes you happy” atau “I’m a very weird person. Being normal is for losers.” Atau kalimat lain yang senada.

Biasanya, karakteristik seseorang dalam menyertakan suatu caption (re: kutipan) ke dalam sebuah foto yang dipostingnya dapat kita kenali.

Pertama, tipe yang boleh jadi ia hanya ingin terlihat keren dengan penggunaan kalimat bahasa asing yang mungkin akan membuat orang lain yang melihat berdecak kagum dengan kutipan panjang berbahasa asing sambil manggut–manggut dalam hati (wahh.. hebat sekali, captionnya mampu membuat kepala jadi mumet kagak ngerti). Pokoknya keren saja.

Kedua, tipe yang kutipannya bersumber dari perenungan yang panjang, narasi apa yang paling mewakili konten gambar yang akan ia share. Biasanya orang seperti ini akan menghabiskan malam–malam panjang selama berkali–kali 24 jam hingga menemukan kalimat yang pas, namun akhirnya harus puas dengan bubuhan #latepost di ujung kalimat, karena kelamaan mikir (hehehe maafkan).

Ketiga, tipe spontan, tidak menuntut kalimat panjang (cukup kuota yang memadai) untuk akhirnya berhasil upload, biasanya kalau lagi buntu cukup dengan #NoCaptionNeeded, antara tipe cool atau malas mikir sih.

Ada juga tipe keempat, apa–apa di upload. Mau captionnya nyambung sama foto yang penting update. Satu wajah, satu set busana yang sama dan dengan background yang sama semuanya tidak boleh terlewatkan untuk di share. Dan yang paling sering bikin geli, kalau wajah dengan ekspresi berlebih (belakangan disebut ekspresi alay) dibubuhi caption yang superbijak. Seperti ada yang tidak nyambung.

Belakangan muncul pemikiran, apa mungkin kalimat “Being normal is boring” itu merupakan pelopor munculnya generasi alay abad 21?

Dari sumber Wikipedia Indonesia dijelaskan bahwa Alay adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah fenomena perilaku remaja di Indonesia. “Alay” merupakan singkatan dari “anak layangan” atau “anak lebay”. Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan.

Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan (lebay) dan selalu berusaha menarik perhatian. Seseorang yang dikategorikan alay umumnya memiliki perilaku unik dalam hal bahasa dan gaya hidup. Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, atau menyingkat secara berlebihan. Dalam gaya hidup sepsifiknya gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan.

Biasanya para Alayers (panggilan para Alay) mempunyai trend busana dan corak gerak tersendiri yang dapat menyebar cepat layaknya wabah virus dikalangan para Alayers yang lain, sehingga menciptakan satu keseragaman bentuk yang sedikit tidak lazim.

Menjadi normal itu membosankan, mungkin inilah kata kunci dan pedoman hidup para alayers.
Awal kemunculannya, alayers ini sebenarnya hanyalah golongan minoritas yang mencoba keluar dari kebiasaan masyarakat pada umumnya, sehingga masuk akal jika amat mudah menarik perhatian.

Namun, setelah ditelusuri, sepertinya terjadi perubahan paradigma. Alayers menjadi golongan dengan jumlah populasi yang besar. Ini mudah terlacak dari pergaulan kita baik didunia nyata maupun didunia maya. Tidak sulit ditemukan. Apa yang dulunya dianggap tak lazim akhirnya menjadi biasa saja. Hingga akhirnya alayers bergerak menjadi biasa.

Teringat pada teori revolusi paradigma Thomas Kuhn yang menyebutkan tentang pergeseran paradigma, yang kurang lebih merupakan suatu istilah untuk menggambarkan terjadinya dimensi kreatif pikiran manusia. Pergeseran paradigma ini tidak lain dari letupan ide yang merangsang timbulnya letupan ide-ide yang lain, yang terjadi secara continue, sambung menyambung, baik pada orang yang sama maupun orang yang berbeda. Sehingga terjadi semacam reaksi berantai yang akhirnya menjadi kekuatan yang bisa merubah wajah dan tatanan dunia serta peradaban manusia ke arah atau model baru.

Jadi mungkinkah alayers sudah tiada karena ia bukan lagi perilaku unik (jumlahnya sudah massif bahkan menjurus menjadi mayoritas)? Atau justru alay menjelma sebagai wajah baru tatanan kehidupan social yang harus diterima.

Di Indonesia sendiri, kata alay pernah menjadi bahan candaan orang–orang. Katanya alay itu semacam siklus peralihan manusia dari remaja ke dewasa. Jadi tidak afdol jika tidak pernah alay, dalam kata lain proses perkembangan dimensi social menjadi tidak lengkap. Semacam metamorphosis

sempurna dan tidak sempurna.

Tapi belakangan, alay ini tidak hanya terjadi pada kaum remaja yang menuju dewasa. Banyak yang sudah dalam usia matang kerap menampilkan sifat bahkan sikap ke”alay-alay”an. Apakah ini rombakan baru lagi dalam proses revolusi paradigm ala Kuhn karena terjadi anomali lain? Atau apa mungkin perkembangan dimensi sosial tidak melulu harus melalui satu arus, artinya dapat melompat–lompat sesuai lonjakan emosional dan tentunya perkembangan zaman.

Suka cengengesan sendiri kalau bertanya dalam hati “apa jadinya bumi tanpa kaum alay?” (maaf teman–teman alay, bukan bermaksud hendak mengirim kalian ke mars).

Mungkin tanpa kaum alay, bumi akan menjadi sangat tegang, dengan ekspresi yang sama, kurang beragam dan sebagainya. Atau benar bahwa “bumi akan menjadi boring”. Seperti sebuah percakapan dalam film pendek lokal karya sebuah pesantren besar di kampung saya yang bunyinya “Bagaimana jadinya jika Dono dan Kasino masih hidup? Mungkin dunia tidak akan setegang ini.”

Tidak dapat dipungkiri setidaknya kemunculan kaum alay cukup menantang imajinasi dan daya kreatif bagi yang (merasa) normal.

Semuanya masih serba mungkin. Karena sekali lagi, merujuk teori Kuhn yang lebih memandang ilmu dari perspektif sejarah, dalam arti sejarah ilmu, bahwa yang terjadi saat ini akan menjadi titik awal baru untuk pengembangan pengetahuan dalam meneliti tatanan dan wajah baru kehidupan nantinya.

Jadi nikmati saja masa kita dengan banyak–banyak mengambil sisi positif dari setiap fenomena. Termasuk dari fenomena yang paling sering dicibir, sepelekan dan pasung dalam kerangka stereotype sekalipun, yaitu alay. Sesungguhnya tidak ada yang lepas dari perkembangan pengetahuan, setiap fenomena menyumbang jasa bagi perkembangannya.

Nurkhasanah Latif. Aktivis gerakan perempuan, peneliti Pusaran Institute.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close