Opini

Catatan Jelang Kongres HMI ke-XXXI

 

Oleh : Jufra Udo*

OPINI, EDUNEWS.ID – Usai mengikuti Pleno III PB HMI 2015 di Jogjakarta, saya ketemu seorang tokoh senior dari Sultra. Bahkan sempat nginap hampir sebulan di rumahnya. Cerita per cerita, beliau berpesan, sebagai kader perlu menjunjung tinggi integritas dan independesi.

Menurut beliau, jika kehilangan keduanya, umur sebagai kader tak akan lama. Artinya, tak matang pada perjalanan kaderisasi. Akh, saya hanya teringat kembali cerita itu jelang Kongres 2018. Momentum Kongres adalah momentum bersejarah dalam ber-HMI.

Saya pun sempat ikut dua kali momen ini, 2013 hingga 2015. Ya, HMI. Ketika membicarakan HMI, maka kita akan masuk pada ruang yang cukup kompleks. Tak ada batasan pada topik tertentu dalam ruang-ruang diskusinya. Inilah keindahan bergumul dalam ruang-ruang diskusi HMI.

Sejak 1947, HMI tetap eksis. Dan kini akan menghadapi lagi Kongres. Forum yang (sebenarnya) tidak hanya berkutat pada pergantian ketua semata. Idealnya, Kongres merupakan wadah pergulatan ide wal gagasan yang memparipurnakan konsensus-konsensus organisasi.

Karenanya, Kongres menurut Konstitusi HMI, yakni forum tertinggi soal pengambilan keputusan atas ketetapan-ketetapan organisasi. Tentunya, di Kongres pula, diharapkan gagasan hadir menggelayut asa bersama soal kemasa-depanan. Tak sebatas ruang HMI itu (secara internal).

Tetapi, secara umum, kita harusnya berbicara soal Islam dan Indonesia. Islam dan Indonesia. Sebenarnya inilah topik yang seharusnya wajib tumbuh subur dengan segala pengembangan pergerakannya di tubuh HMI. Apakah masih konsen berbicara kedua term tersebut?

Pasca Orde Baru, hampir tidak ada lagi ‘sesuatu’ yang dijadikan common sense. Situasi ini nyaris mematikan gerak hampir semua organisasi mahasiswa. Memang ada yang bergerak, tetapi berputar pada ritme yang buram dan tidak meninggalkan jejak sejarah yang berkualitas.

Tanpa agenda prioritas yang fokus dan berkelanjutan. Ribut, dan akhirnya senyap. Bahkan ada gerakan yang serupa main yoyo, naik-turun, lalu akhirnya mati pada bandulnya sendirinya. Ketiadaan common sense itulah, dijadikan dasar oleh beberapa pemikir, soal mandulnya gerakan kita.

Hampir tidak ada lagi kebaruan tema dan wacana dari dua topik yang dimaksud. Harusnya HMI fokus kesitu. Bagaimana kita berbicara soal Islam dan Indonesia. Tak hanya berkutat pada politik praktisan sih.

Secara gerakan, HMI dikenal bahkan dibesarkan oleh aksi-aksi intelektualnya. Era 70 hingga dekade akhir 90-an membuktikan. Banyak tokoh-tokoh besar yang dilahirkan panggung pemikiran HMI masa itu.

Sebut saja Cak Nur, Deliar Noer, Ahmad Wahib, dll. Belakangan kita nyaris tak terlihat pada panggung tersebut. Saya sangat mendambakan geliat HMI kembali menyeruak seperti dahulu. Selain itu, ada jua persoalan internal yang belum selesai di tubuh HMI.

Yakni soal konsolidasi kelembagaan. Situasi kebangsaan sudah berbeda, dan sangat dinamis. Kita telah diperhadapkan pada kondisi yang tak menentu. Disisi lain, HMI dituntut hadir di panggung kebangsaan.

Tanpa konsolidasi internal yang mapan, organisasi ini tentu saja sulit adaptif dan memegang kendali atas segala dinamika kebangsaan. HMI perlu melakukan ‘revolusi diri’. Perlu, bahkan wajib, merapikan diri secara intens.

Semua dokumen-dokumen yang menjadi manhaj perjuangan dan kekaderan perlu dievaluasi kembali. HMI perlu menemui kebaruan soal kaderisasi dan orientasi perjuangan. Disinilah revolusi diri yang saya maksud.

Kita butuh penyegaran yang merombak secara totalitas. Disamping itu, lokus juang harus diletakkan pada titik yang jelas. Tak lagi abstrak. Tak lagi sebatas pada penalaran-penalaran yang mis-orientasi. Untuk memperjuangan misi, perlu sebuah penanda.

Bila tidak, semua utopis. Sebatas angan-angan belaka. Ini penting sekali. Kita perlu ikon wacana, sebuah penanda yang mengisyaratkan keseriusan kita bersama dalam misi kolektif. Kita wajib untuk reorientasi.

Berpikir, dan menyusun kembali gerakan kebaruan selayaknya tuntutan kader untuk jadi seorang mujadid. Kita butuh kebaruan. Barangkali, dengan usia yang cukup tua, kita tengah pikun, dan kehilangan kendali.

Rentetan-rentetan keresahan demikian harusnya mendapat jawaban yang pas ketika ber-Kongres. Kongres 2018 adalah tempat yang pas. Semoga kader-kader yang hadir disini sadar dan berpikir soal masa depan tujuan HMI. Mari cerdas ber-Kongres. Yakin usaha sampai!

Jufra Udo, Ketua Umum HMI (MPO) Cabang Kendari 2014-2015

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!