Opini

Filosofi Diam

 

 

Oleh : Aris Setiawan*

OPINI, EDUNEWS.ID – Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad bersabda, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau lebih baik diam. Artinya : Apabila ucapan tidak membawa manfaat dan kebaikan, alangkah lebih bijak jika diam. Puasa diam berarti memuliakan lidah.

Tidak baik berdiam diri tentang sesuatu yang diketahui dan tidak baik berbicara tentang sesuatu yang tak diketahui (Imam Ali bin Abi Thalib RA)

Dalam kehidupan sehari-hari, Kadang kita menemukan teman yang pendiam namun memiliki wibawa dan ditakuti oleh orang lain, namun sering juga kita menemukan teman yang suka berkoar-koar dan banyak bicara sehingga akhirnya dicap sebagai pembual.

Jika kita sering melihat film action, maka kita akan mengetahui bahwa seorang jagoan sangat jarang banyak bicara, seorang jagoan yang ditakuti oleh musuh adalah yang sifatnya pendiam, tidak banyak bicara namun lebih banyak aksinya dalam membunuh penjahat.

Dan selain jagoan dalam film, mungkin kita dapat melihat juga figure seorang musuh (dalam film) yang sangat ditakuti oleh jagoan adalah figure yang pendiam namun pembunuh berdarah dingin.

Didunia nyata, banyak kasus pembunuhan dimana pelaku pembunuhan tersebut orang lain tidak akan menyangka bahwa dia sanggup untuk membunuh seseorang, karena dia adalah orang yang pendiam dan tidak suka banyak bicara. Seperti sebuah peribahasa “Singa ditakuti karena diam sedangkan anjing dijadikan mainan karena ia menggonggong”.

Singa merupakan sosok yang tidak banyak bersuara, namun sangat ditakuti. Singa sangat jarang mengeluarkan suara, namun ketika mengaum, maka seluruh penghuni hutan akan ketakutan. Singa bukan hanya ditakuti oleh penghuni hutan namun juga ditakuti oleh manusia.

Coba bayangkan ketika kita berjalan ditengah hutan terus melihat singa, kita akan lari dan menghindar. Sangat berbeda dengan anjing yang selalu bersuara dan bahkan mungkin terlalu banyak mengeluarkan suara dengan gonggongannya. Anjing tidak ditakuti oleh penghuni hutan walaupun suaranya selalu terdengar hampir setiap hari.

Anjing yang terlalu banyak menggonggong juga ditemukan dalam sebuah peribahasa lain yaitu : “anjing menggonggong kafilah berlalu” artinya secara harfiah, anjing yang menggonggong tidak akan menggigit orang yang lewat sehingga tidak perlu ditakuti.

Secara filosofi, dalam mencapai sebuah tujuan, pasti ada banyak orang lain yang mengomentari dan mungkin menghujat, namun selama tujuan yang hendak kita capai tersebut adalah sebuah kebaikan, maka hujatan dan komentar miring tersebut bukan sebuah hambatan.

Di televisi, kita melihat para politikus, pejabat negara, maupun pengacara banyak bicara tentang ini dan itu. Sementara di media sosial, setiap detik, ribuan status muncul. Kebanyakan, isinya berupa hujatan dan sinisme. Keengganan menahan dan memendam sesuatu kini sudah jarang kita jumpai. Setiap orang merasa memiliki ruang untuk mengeluarkan segala ekspresi serta keluh kesah. Kicauan dan deretan kata bertebaran dimana-mana.

Tak ada lagi privasi dan rahasia diri yang harus ditutupi. Diam pun seolah menjadi barang langka. Kita terlalu responsif bicara mengenai apapun walaupun terkadang tak membawa manfaat atau kebaikan apapun. Semua orang tiba-tiba dapat menjadi pengamat dadakan.

Mereka menggunggah komentar, tanggapan, atau wacana atas berbagai peristiwa dan kejadian. Terlebih membicarakan sesuatu, kini telah menemukan wadah dan tempat. Media televisi memberi porsi bagi suara publik, membuat siapapun dapat berperan sebagai wartawan, pengamat, dan kritikus. Wadah bicara setiap orang dapat ditampung sepenuhnya di media sosial.

Hampir semua orang memilikinya sehingga memungkinkan si pengguna tidak sekadar lebih narsistik, melainkan pula menjadi pribadi baru sebagai produsen informasi. Hal-hal yang tidak penting seolah wajib diberitakan dan diketahui oleh khalayak. Kegiatan sehari-hari, mulai bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, wajib dipublikasikan hanya untuk dibaca dan dilihat orang lain.

Dengan demikian, saling silang informasi berjalan tanpa batas. Orang yang tampak pendiam secara fisik, bisa berubah sangat cerewet di media sosial. Akibatnya, dewasa ini, keterbukaan informasi justru membuat manusia menjadi pribadi yang suka bicara dan gaduh.

Kita melupakan arti penting diam atau menahan diri di balik karut-marut sebuah persoalan. Kita tak lagi dapat melakukan koreksi diri, sekaligus kontemplasi guna mendudukkan posisi dan implikasi dari kata-kata yang diproduksi. Yang penting, kemudian, adalah ngomong sebanyak-banyaknya. Adakalanya, penting untuk menahan diri dengan cara diam.

Kemampuan untuk tidak mengeluarkan pernyataan apapun melatih diri lebih bijak dan arif dalam memandang sesuatu. Diamnya seseorang bukan berarti tidak mengerti dan memahami persoalan. Sebaliknya, diam adalah upaya untuk melihat persoalan secara lebih jernih, mengolah dan menganalisisnya lewat batin dan pikiran.

Sebab, seringkali, perkataan atau komentar yang terburu-buru justru salah dan luput, bahkan menimbulkan fitnah baru dan dosa. Anarkisme banyak terjadi karena saling ejek dan perang kata-kata kasar. Di satu sisi, kita menuntut kebebasan berbicara dengan alasan menghargai kebebasan berpendapat.

“Bukankah Tuhan lebih menyukai hamba yang berbuat daripada sekadar berucap? Sayang, diam bukan lagi dianggap sebagai sebuah ritual nan sakral. Diam justru dianggap sebagai sebuah kekalahan dan ketidakmampuan. Jadi, wajar jika manusia di negeri ini menjadi terlalu berisik.”

Aris Setiawan, Penulis, Pengajar di ISI Solo

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close