Literasi

Guru Itu ‘Bermasalah’

OPINI, EDUNEWS.ID – Guru itu bermasalah. Guru tidak becus mendidik muridnya, guru tidak tahu metode mengajar yang baik, dan guru tidak mampu mencerdaskan peserta didiknya. Intinya guru gudang masalah dan perlu dipermasalahkan. Maka, perlu dipersalahkan. Ini logika yang terbangun saat ini.

Jika murid geblek dan bacing, itu sepenuhnya tanggung jawab guru. Kita anggap saja guru itu peternak binatang yang terlahir dari rahim manusia. Sebab, guru tugasnya memanusiakan binatang menjadi manusia. Jika peternakannya gagal, atau salah satu ternaknya mengamuk. Maka, perlu kiranya peternaknya dikandangkan.

Kalau anda tidak percaya, silakan saja simak berita-berita yang beredar di media. Jika belum baca berarti lagi-lagi belum layak jadi guru apalagi murid. Murid itu lebih bertahta daripada guru. Saat ini, Suara murid suara Tuhan, bukan lagi, semua manusia adalah guru. Benarkan ! dan orang tua Maha Tuhan, bagaimana tidak, Orang tua murid sudah lepas tangan ketika anaknya sudah masuk peternakan.

Jika si anak kundang bermasalah di kandang, yang dipersalahkan adalah peternaknya. Dan, apabila anak dicambuk cemeti oleh peternaknya. orang tua seenaknya mempolisikan peternaknya. Logika peternakan inilah yang merengsek ke dunia pendidikan kita saat ini. Maaf aku gunakan metafora peternakan dalam kasus pendidikan kita ini. Karena kasus ini lebih dari sistem peternakan hewan. Dalam kasus peternakan belum pernah terjadi kasus seperti ini.

 

Kalau anda tidak percaya, mari kita simak ceritanya.

Aku mulai dari situs okezone.com. Berita ini aku akses pada tanggal 16 Juli 2016 pukul 02.45 WIB. Hadsumantri anggota KPPAD Kabupaten Lingga yang dikutip dari Haluankepri.com menuturkan bahwa awalnya guru SD ini menyuruh anak muridnya untuk menghafal Asmaul Husna di rumah. Namun setelah di suruh ke depan membacakan ia tidak bisa, lalu guru ini mencubit anak tersebut. Sehingga tubuh anak-anak itu lebam. Orang tua tidak menerima perlakuan itu guru pun terjun bebas di kepolisian.

Kalau di situs Okezone.com pelaku dan korban di samarkan. Lain pula di situs Fajar.co.id merilis peristiwa yang serupa seorang guru bernama Nurmayani Salam, seorang Guru di SMPN  1 Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan mendekam dalam sangkar besi. Bagitupun dengan guru yang mendekam di Selayar harus membiasakan dengan kamar gratis yang disediakan kepolisian.

Belum tuntas kasus-kasus ini, seorang guru di Sinjai Pak Guru Mubazir, S.Pd, Guru Sukarela SMA Negeri 2 Sinjai Selatan mendekam di penjara. Kasusnya sangat unik,  Pak Mubazir hanya merapikan bulu ternaknya, karena ketidaksengajaan tangannya terluka karena menempias gunting yang sedang memotong rambutnya.

Maaf aku gunakan terma “ternak” menggambarkan murid. Al Quran sendiri menyatakan Manusia lebih rendah derajatnya daripada binatang jika berperilaku buruk. Apatah lagi ketika seorang manusia tidak mau dididik. Apakah masih dianggap manusia. Sekiranya, sebutan ternak masih lembut untuk para murid-murid yang bebal.

Baca juga :  Menulis ; Memberi Melalui Teks

Tapi, aku tahu murid-murid bebal itu tentunya memiliki potensi yang sama dengan murid-murid yang berpakaian rapi. Sebab, aku juga pernah menjadi murid bebal, tidak terbayang di pikiran pembaca, yang menulis artikel ini pernah tinggal kelas selama dua kali. Aku pun pernah dipukuli olah guru dari Ujung Kaki sampai Ujung Rambut menggunakan sapu lidi hanya berjumlah beberapa biji.

Tidak terbayang pedisnya ketika melayang ke tubuhku, dan aku pun merasakan sarutan bambu di tanganku gara-gara tidak memotong kuku. Peristiwa ini aku jalani sejak bermula naik kelas tiga Sekolah Dasar. Sekujur tubuhku harus memerah, aku tidak peduli perlakuan itu. Sempat kulaporkan ke orang tuaku. Mereka hanya mengatakan kalau mau jadi manusia tidak boleh cengeng.

Kakakku pun selalu mengataiku kerbau karena kebebalanku bahkan di telah menyumpahi diriku, Aku bisa menjadi manusia ketika linggis sudah mengapung di atas air. Waktu itu aku hanya bisa menangis. Hampir terpikir olehku untuk menghentikan melanjutkan pendidikanku saat itu. Keputusan ini menambah kemurkaan orang tuaku.

Masih jelas di ingatanku, bapakku menempatkan aku di pundaknya mengantar aku ke sekolah pada jam enam tujuh pagi. Bahkan, orang tuaku menghadiaku sepatu baru. Itulah momen keseriusan mereka menjadikan anak-anaknya menjadi manusia.

Tapi, pengalamanku tidak sepahit yang dirasakan dengan kakak keduaku. Perjuangannya menekuni jadi murid tidak membuatnya menjadi murid yang pintar. Pendidikan pun harus berakhir di kelas lima Sekolah Dasar karena kejenakaan teman kelasnya. Waktu itu, gurunya memerintahkan menulis perabotan di dapur malah dia menulis nama-nama pakaian dalam. Itu dia lakukan karena atas arahan temannya. Selama lima tahun menempuh pendidikan sekolah dasar dia tidak tahu membaca kecuali menghitung.

Tapi, kesungguhannya menuntut ilmu tidak ada yang lebih tangguh di antara kami bersaudara. Perjuangannya menjadi manusia rela melintas desa menuntut ilmu dan berguru mengaji. Berpuluh-puluh kilometer ia rela lintasi menjunjung seember air ke rumah guru mengajinya. Sesampai di rumah mengaji ia harus membersihkan rumah gurunya. Sesekali ia menginap di rumah gurunya untuk meringankan pekerjaan sang guru. Perjalanan ia lakoni tidak hanya satu dua hari tapi berbulan-bulan.

Namun, otak kakak saya tetap tumpul. Kakakku tidak kunjung pintar mengaji. Begitu, seriusnya orang tua dan dia untuk belajar, di mana ada kabar guru mengaji yang dianggap mempuni di desa lain. Di kirimlah sang kakak ke tempat itu. lagi hasilnya pun nihil, hingga pada akhirnya ia didik ibu sendiri oleh ibu melafalkan al Quran setiap pagi, siang, dan sore. Perkembangannya pun sangat lamban, entah sekarang masih bisat melafalkan al Quran.

Baca juga :  Gelombang Ketiga Peradaban Islam

Ibu pun mengajari anak-anaknya mengeja aksara latin semampunya. Dia hanya mengeja satu huruf demi huruf tanpa bisa merangkai menjadi kalimat, dia hanya bisa merangkai kata. Itu pun hanya menuliskan namanya dan nama anak-anaknya. Maklum ibu sedikit pun tidak tersentuh dengan pendidikan formal.

Itulah sejumput cerita yang kuukirkan tentang perlakuan orang tua, murid terhadap guru. Kita bisa melihat dua perbedaan dua generasi perlakuan orang tua, dan murid terhadap guru. Aku mengambil kisahku bukan berarti aku di layak dijadikan teladan atau penginspirasi. Aku cerita keluargaku karena aku menganggap diriku dekat dengan peristiwa itu.

Sekiranya, dipraktekkan oleh orang tua juga dilakoni oleh orang lain. Ayah selalu mengatakan jangan belajar silat kalau kamu tidak ingin disakiti dan selama itu pula kamu tetap bodoh. Sekiranya pernyataan ini berlaku umum untuk semua disiplin keilmuan.

Perlakuan murid terhadap guru di dua generasi ini sangat kontras antara generasi ayahku dan Generasi campur sari. Generasi ayahku boleh dikatakan mereka adalah orang-orang yang terlahir di era penjajahan sekitar tahun 30-an. Sementara, generasi sekarang aku lebih suka menyebutnya generasi campur sari. Sebab, generasi saat ini apa saja di lahap termasuk dalam konsumsi gaya, pakaian, teknologi. Apalah yang dianggap tren. Maka Pengkriminalan guru pun makin tren.  Maka pengurungan guru semakin meningkat. Sebut saja sekarang masa pemberlakuan hak asasi manusia dan guru itu bajingan. Sekarang, guru harus hati-hati kapan saja polisi akan menyidak anda.

Sebenarnya, aku termasuk orang yang tidak sepakat tindakan sewenang-wenang guru. Tapi, aku paling tidak sepakat dengan pengkriminalan guru. Bagiku, guru itu adalah tangan Tuhan di muka bumi. Segendeng-gendengnya guru Wiro Sableng masih tetap mengajarkan kabajikan kepada muridnya. Bahkan dia menuntun muridnya membela kebenaran. Cerita ini ada dalam sinetron pendekar kapak 212 Wiro Sableng. Dan sebodoh-bodohnya guru dia akan tetap lebih pintar dari muridnya. Guru itu ulama, wali, ustad, pendeta, paus, bahkan nabi.

Mari kita menelik sejarah guru. Istilah guru pada mulanya di ambil dari istilah Hindu yang menunjukkan suatu tempat di mana Vedya di simpang. Guru berasal dari dua kata yaitu “gu” artinya gelap dan “ru” artinya mengusir. Jadi secara harfiah guru itu tempat mengusir kegelapan.

Tapi, pemaknaan ini sangatlah dangkal karena makna tempat di sini tidak merujuk suatu ruang. Tapi lebih pada kualitas kemanusiaan. Karena vidya atau veda adalah ilmu pengetahuan. dan yang berpengetahuan adalah manusia. Jadi, Tidak salah jika semua manusia adalah guru.

Baca juga :  Pilgub Sultra Milik Siapa?

Penjelasan ini sangat kontras dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online mengartikan guru sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Ketika berkaca dari KBBI Guru adalah sumber penghidupan. Guru hanya tempat menggantung hidup sehingga guru pun kehilangan marwa kesakralannya.

Pengertian guru pada ajaran hindu dan keberkamusan bahasa Indonesia jauh berbeda dalam mewujudkan kualitas kemanusiaan. Wajar saja guru ogah-ogahan meningkatkan kualitas diri dan pengetahuannya. Bahkan dalam lakon pengajarannya lebih emosional dan mengutamakan insentif. Sebab, kamus kita menghalalkan model guru hanya sebagai sumber pendapatan. Sebab guru itu profesi dan pekerjaan. Mengutil sajak Karl Marx bahwa setiap profesi atau pekerjaan akan selalu menghasilkan nilai lebih untuk memenuhi keberlangsungan penghidupan (baca: Das Kapital 1). Guru dalam KBBI lebih berorientasi materi.

Di sinilah letak guru itu bermasalah sejak dari rahim KBBI. Maka guru pun harus dijadikan masalah karena persoalan kualitas. Sebab, paradigma kita telah berubah terhadap guru. Guru dipandang sebagai profesi. Ketika profesi tidak sesuai dengan kehendak atau persepsi kita maka dengan seenaknya pula kita mencaci dan merendahkannya. Sebab, harapan dan kenyataan sangat berbeda. Pada hal guru kualitas kemanusiaan. Orang gila pun layak dijadikan guru dan diberikan penghargaan terhadapnya. Tanpa kehadiran orang gila kita tidak pernah tahu model orang gila seperti apa.

Tapi, ketika kita menganggap orang gila adalah profesi sedikit saja melenceng dari kegilaannya maka dia sudah dianggap menyimpang dan layak untuk dimasukkan dalam penjara karena telah melanggar kode etik kegilaan. Inilah yang menimpa pendidikan kita saat ini. Pengkriminalan terhadap guru semakin marak sebab guru tidak lebih dari pekerjaan  Bukan panutan.

Guru bukanlah sebuah profesi yang harus dijalani untung rugi. Lagi pula guru pengembang amanah kenabian di muka untuk mendidik manusia. Sebab, tugas seorang guru mengusir kegelapan dalam dirinya dan menuntun dan menceraahkan orang lain. Persepsi ini yang lekam generasi campur sari saat ini. Guru hanya tukang pengajar dan tukang gosip pelajaran. Guru tidak boleh menyentuhnya. Proses menjadi manusia akan tetap membutuhkan sentuhan.

Hanya nabi Isa saja yang jadi manusia tanpa peperangan antara ayah dan ibu. Sesungguhnya, keterlemparan kita ke bumi hanya kematian yang tertunda dalam perang. Maka, jika ada murid dan orang tua murid tidak terima diperlakukan dengan keras, perlu kiranya dipertanyakan kualitas kemanusiaannya.

Ketidakberterimaan itu harus dipertanggungjawabkan oleh orang tua sebagai pemilik anak dengan mendidik anaknya sendiri. Dan tidak mempolisikan guru.  Sebenarnya, jika fungsi keluarga berjalan, kita tidak membutuhkan institusi pendidikan. Pendidikan yang utama berada dalam keluarga.

Sampean, Alumni Sosiologi Universitas Negeri Makassar

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!