Literasi

Haruskah Tjokro Hidup, Lalu Menagih?

Oleh: Ahmad Abdul Basyir*

OPINI, EDUNEWS.ID – Dalam pergerakan membangun negara itu harus ada perjuangannya. Hal ini yang dilakukan oleh seorang tokoh sekaliber H. Samanhudi puluhan tahun yang lalu. Dia adalah sosok yang memikirkan bagaimana ketergantungan rakyat pribumi tak lagi berkiblat pada penjajah (kolonial) yang ada di bumi pertiwi saat menjajah selama 3 abad atau 300 tahun lamanya.

Dengan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikannya pada 16 oktober 1905 dengan maksud untuk membebaskan pribumi dari penjajahan dari sisi perdagangan yang di kuasai Belanda dan China pada saat itu. Dengan organisasi yang ditungganginya sebagai model kritik atau merupakan bentuk perlawanan kepada penjajah di masa itu.
Sebagai sebentuk siyasah yang jauh hebat dari pendiri sebelumnya, saat di bawah kendali Tjokroaminoto, SI mulai memikirkan pribumi, bahwa yang terjajah bukan hanya di kalangan pedagang semata namun dari semua lini, seperti petani, nelayan dan sebagainya.

Meski menghadapi tekanan pemerintah kolonial hingga organisasi harus berubah menjadi berbentuk federal dengan satu badan nasional bernama Central Sarekat Islam (CSI) pada tahun 1916, Tjokroamiaoto tak mudur.

Sang guru bangsa Tjokro meracik beberapa kader yang memiliki visi dan militansi perjuangan yang hebat dan kuat. Sebutlah Soekarno dengan nasionalisme, Samaun dengan Sosialisme/komunisme dan Kartoswiryo dengan Islamisme. Semua muridnya berjuang mati-matian untuk mencapai kemerdekaan bangsa ini.

Sejarah menunjukkan Soekarno dengan Partai Nasional Indonesia (PNI)nya keluar sebagai sang juara setelah proklamasi 17 Agustus 1945 berkumandang.

Selanjutnya disusul Kartoswiryo dengan NII/DII-nya yang diproklamasikan pada tahun 1948 yang bertengger di posisi runner-up berkumandang pula. Sementara Samaun dengan PKI-nya telah terdegradasi sejak kegagalan pemberontakan 1927.

Meski sejarah telah memaklumkan hal tersebut, dewasa ini pertarungan ketiga ideologi yang terukir masih terasa.

Apakah bangsa ini masih berada di masa penjajah? Apakah bangsa ini belum merdeka? Ataukah roh tokoh Soekarno, Samaun dan Kartoswiryo berkeliaran? Ataukah masih ada yang tidak mau move on dari kekalahannya? Padahal tanah air sudah merdeka selama 72 tahun.

Adakah roh seperti Samanhudi dan Tjokroaminoto di zaman sekarang ini? Siapakah dia? Dan bisakah menciptakan kader militansi seperti Soekarno, Samaun dan Kartoswiryo yang tak harus berebut kekuasaan?

Itulah sebabnya pemuda hari ini harus diingatkan apa yang pernah dikemukakan oleh Tjokroaminoto di Gedung Pertemuan Concordia (sekarang Gedung Merdeka), Kota Bandung, pada 17 Juni 1916 saat menuntut zelfbestuur. Semoga kita merasakan yang serupa.

Beliau berkata dengan lantang; “Bila tanah air kita kelak menjadi suatu negara dengan pemerintahan sendiri, maka seluruh lapisan masyarakat dan semuanya akan menuju ke arah dan bersama-sama memelihara kepentingan kita bersama, dengan tidak pandang bulu, baik bahasa, bangsa, maupun agama.”

Namun apa yang terjadi, hingga saat ini tak terasa hal yang di inginkan oleh guru bangsa. Haruskah Tjokro hidup, lalu menagih? Semua ini karena pemuda masih tertidur di pantat penguasa.

Makanya jauh hari Tjokroaminoto sudah mengingatkan, “Lantaran di antara bangsa kita banyaklah kaum yang memperhatikan kepentingannya sendiri dengan menindas pada kaum yang bodoh. Maka kesatriaan kaum yang begitu sudah jadi hilang dan kesatriaannya sudah berbalik jadi penjilat pantat”.

Inilah yang terjadi dan tak bisa di pungkiri lagi. Semoga pemuda kedepannya bisa berjuang seperti layaknya Tjokroaminoto.

Ahmad Abdul Basyir. Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Cabang Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Takalar.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close