Opini

Hate Speech di Media Sosial Demi Kepentingan Politik

 

 

 

Oleh : Andi Diaz Astiza Nasrum

OPINI, EDUNEWS.ID – Kebebasan berbicara yang mengekspresikan sebuah kebencian terhadap individu atau kelompok baik dalam aspek ras, etnis, gender, warna kulit bahkan cacat, semakin menjadi-jadi. Begitulah yang banyak terjadi saat ini di Indonesia maupun di negara-negara lainnya, yang kini disebut sebagai Hate Speech.

Hate speech atau yang di dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai ujaran kebencian. Istilah tersebut lahir dari kebebasan berbicara seseorang yang bersifat provokasi, hasutan, serta kalimat-kalimat berisi hinaan yang dapat memicu kekerasaan dan prasangka.

Masyarakat Indonesia kini seperti tak terkontrol lagi dalam hal menyampaikan atau mengeluarkan sebuah statement, tanpa berpikir panjang apa yang akan diakibatkan dari kalimatnya atau bahkan justru dengan sengaja mengeluarkan sebuah statement yang mengekspresikan kebencian atau hate speech serta memfitnah seseorang maupun golongan demi mendapatkan sebuah keuntungan atau hanya untuk menjatuhkan seseorang maupun kelompok.

Meskipun sadar bahwa hate speech itu merupakan tindakan yang menyalahi norma sehingga di kategorikan sebagai tindak pidana, namun tetap saja ada beberapa negara yang berbeda penilaianya mengenai hate speech.

Contohnya adalah Amerika, di Amerika sangat menjunjung tinggi kebebasan berbicara, sehingga Hate speech itu sendiri barulah dikatakan tindak pidana apabila telah terbukti menyebabkan tindak kekerasan atau tindak diskriminatif yang merugikan seseorang.

Hoax kini sudah menjalar hingga ke dunia maya atau sosial media. Beberapa orang memanfaatkan sosial media sebagai sarana untuk menebar kebencian, menghasut atau menyebarkan berita-berita yang tidak benar. Seiring dengan perkembangan zaman peradaban manusia menjadi sangat canggih, terutama dalam hal menyampaikan informasi.

Sekarang ini sangat mudah menemukan media-media yang menyediakan informasi, membuat masyarkat dengan mudah mengaksesnya. Tingkat valid dan akuratnya informasi tersebut pun beragam, ada yang memang benar akurat dari narasumber dan lainnya namun ada juga yang merupakan informasi palsu yang di buat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan berbagai macam motif salah satunya adalah kepentingan politik, hal ini pun disebut dengan istilah Hoax.

Hoax atau sebuah informasi yang tidak valid. Kini di balik kalimat-kalimat ujaran kebencian pun terkadang hanya berisikan isu-isu hoax yang keberadaan informasinya masih perlu di pertanyakan, sehingga hoax dan hate speech kini selalu berdampingan.

Hate Speech is not Free speech

Pada tanggal 08 Oktober 2015, kepolisian negara Republik Indonesia membuat sebuah Surat Edaran (SE) mengenai Penanganan Ujaran Kebencian ( hate speech ) yang merujuk pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Yang di dalamnya terdapat kategori-kategori dari hate speech, media hate speech, dan siapa saja yang merupakan objek hate speech, serta bagaimana cara menangani hate speech itu senidri agar tidak memunculkan sikap diskriminasi, kekerasan, doktrin, penghilangan nyawa atau konflik sosial lainnya.

Meski telah dua tahun sejak berlakunya Surat Ederan Kapolri, namun tetap saja banyak oknum yang tetap melanggarnya. Banyak kasus dikategorikan sebagai tindak pidana ujaran kebencian dalam hal malalah politik, salah satu contohnya adalah Kasus yang sangat heboh beberapa bulan yang lalu hingga september 2017 ini, yaitu bahwa Jokowi merupakan kader PKI.

Banyak media yang menuliskan bahwa Jokowi dan Orang Tuanya dulu teribat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Isu-isu hoax yang terus berkembang di masyarakat mulai dari (1) pemalsuan nama asli Orang tua Jokowi, (2) pemalsuan makam ayahnya, (3) pemalsuan buku nikahnya, (4) kebohongannya mengenai asal muasal dia jadi Walikota di Solo, hingga (5) kebohongan mengenai usaha anaknya ( twitter, @TM2000Semar ).

Tidak hanya Masyarakat yang dibuat resah mengenai isu-isu hoax ini tetapi Jokowi sendiri juga, terlebih lagi dia merupakan korban utama dari fitnah tersebut. Hal ini tentunya sangat membuat Jokowi merasa geram, mengapa bisa dirinya di tuding sebagai kader Partai Komunis Indonesia (PKI), sedangkan dirinya baru berusia 4 tahun pada saaat PKI dibubarkan.

Ada beberapa masyarakat yang terpengaruh dengan isu ini. Publik hampir tidak punya nalar dan kritis bilamana berhadapan dengan arus utama opini seperti ini. Tunduk pada tirani opini. Namun untungnya berdasarkan survei nasional yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dari tanggal 3-10 September 2017 yang melibatkan 1.057 responden.

Sebanyak 75,1 persen menyatakan tidak setuju Jokowi orang atau terkait dengan PKI. Yang mengatakan setuju hanya 5,1 persen dan yang tidak tahu 19,9 persen. ( Kompas, 29/09/2107). Tentu beberapa orang sadar isu-isu ini dibuat oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untung menggulingkan Jokowi di pemilihan 2019 nanti.

Lagi-lagi seseorang memanfaatkan media sosial, untuk menyebar isu dan hate speech agar dapat menghasut dan membuat orang-orang percaya bahwa Jokowi bukanlah pemimpin yang baik, mengapa media sosial menjadi sasaran yang paling sering dituju bagi para penyebar Hoax dan Hate speech
untuk menyebarkan isu-isu yang keliru?

Karena sosial media sangat mudah dijangkau oleh semua umur untuk menjadi sasaran utama bagi mereka. Jadi berdasarkan beberapa penjelasan diatas bahwa kita perlu kritis terhadap segala
isu-isu yang menyeber diluar sana, baik di kehidupan nyata maupun di dunia maya, khususnya sosial media.

Apabila isu-isu hoax ataupun hate speech yang telah menjadi makanan sehari-hari bagi orang yang tidak selektif menerima informasi-informasi lalu kemudian menyebar luaskannya hingga dapat meyakinkan orang banyak, dapat mengundang bangsa ini menuju kehancuran, sebab segala propoganda yang dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab melalui media pastinya akan menghancurkan negri ini secara perlahan.

Dengan banyaknya berita hoax ataupun hate speech yang degan mudah menyebar di kalangan masyarakat dan dengan mudahnya diterima dan dipercaya, Maka dari itu masyarakat dihimbau agar lebih selektif dalam menerima sebuah informasi dan tidak mudah percaya akan sebuah informasi yang tersebar di media-media.

Khususnya media-media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Line, Whatsup hingga blog website. Karena berdasarkan data dari Kementrian komunikasi dan Informatika yang dilangsir dari laman (CNN Indonesia), pada CNN Indonesai ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu (Hoax) dan ujaran kebencian (hate speech).

Hal tersebut tentunya merugikan karena memiliki dampak yang cukup fatal, dengan informasi-informasi hoax itu bisa meracuni pikiran para penikmaat media sosial.

Andi Dias Astiza Nasrum, Mahasiswi S1 Hubungan Internasional Universitas Teknologi
Yogyakarta

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close