Opini

Hukum Dianaktirikan oleh Kekuasaan dan Salahsatu Puncak Menuju Kehancuran

Oleh: Rahiman, S.H.*

OPINI, EDUNEWS.ID – Riuk-riuk terdengar dan dilihat secara langsung hukum bekerja tidak sesuai dengan fungsi dan tujuan hukum itu sendiri yaitu: untuk menciptakan keadilan, keamanan dan kesejahteraan sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

Di mana sudut pandang atau kacamata kita melihat kegelapan hukum yang kini ditelanjangi dan menangis di tepi-tepi pinggir kehancuran yang dimainkan oleh raja kekuasaan, di mana raja kekuasaan bermanufer untuk menjalankan kekuasaan dengan berbagai trik-trik halus.

Kekuasaan adalah roh yang gentayangan di dunia ini, di mana kegilaan akan muncul, apabila kehilangan kekuasaan, sehingga selalu bergentayangan dan menakutkan pada saat bersuara dan merintih karena korban akan berjatuhan.

Baca juga :  Kebangkitan Ekonomi Islam

Di mana para tokoh bahkan para ahli atau pakar memperlihatkan secara nyata bertentangan dengan teori-teori hukum yang seakan mencerminkan kegaduhan dari satu aspek dan melakukan tandingan- tandingan untuk berpegang teguh untuk merealisasikan tujuan dari berbagai pihak seperti kasus e-ktp. Di mana para ahli tadi secara langsung memperlihatkan tontonan karena kepentingan kekuasaan.

Yang paling parah dan jatuhnya marwah hukum di Indonesia yang tidak lupa sorotan sekeliling masyarakat bahkan dunia tentang hukum di Indonesia, yaitu kasus Novel Baswedan sebagai penyidik KPK dan kasus penyerangan pakar IT yang baru-baru terjadi belum terpecahkan atau terungkap yang diselidiki oleh penegak hukum.

Kekuasaan adalah dalang yang menelanjangi dan menurunkan marwah hukum karena siraman kekuasaan yang sangat menjanjikan ruang-ruang surga dunia bagi para oknum-oknum sebagai pion dalam percaturan yang selalu bergerak dan melindungi raja.

Baca juga :  50 Tahun Tambang Freeport dalam Kendali Asing
Advertisement

Kini sudut pandang tentang penilaian masyarakat hukum itu menuju satu detik, dalam titik klimaks kehancuran hukum, belajar tentang ilmu hukum seakan tergores dan tidak ada gunanya, karena cerminan sekarang menjadi sistem yang mendarah daging dalam hukum kita di Indonesia. Di mana hukum difungsikan dalam istilah awam hukum, “yang tajam kebawa dan tempul ke atas”, di mana hukum sangat berfungsi oleh orang-orang kecil seperti kasus nenek yang mencuri singkong karena kelaparan dan harus dihukum sesuai dengan pasal pencurian tetapi perbandingan hukum tidak bagi kaum atas yang punya kedudukan, kekuasaan hukum mati suri dan tak berfungsi.

Hukum di tangan kekuasaan semakin brutal dan menyala untuk membakar dan menakuti seluruh masyarakat bahwa kekuasaan adalah sang raja yang harus di patuhi oleh siapapun bahkan hukum sekaligus, tak bernyawa, tak berfungsi, tak tersentuh seperti hukum dianaktirikan oleh kekuasaan.

Peran kekuasaan sekarang mengikatkan sang penguasa dunia Hitler yang menakutkan seluruh dunia tentang rizemnya, yang sangat menakutkan dan menggerikan yang pernah sakit akan kekuasaannya sehingga menularkan berbagai cara untuk menyuntik para prajurit dan sekutunya, untuk melakukan cara untuk mencapai kekuasaannya.

Semoga pemegang kekuasaan tidak lagi,mencampuri hukum dan hukum harus di kembalikan marwahnya, di mana hukum sebagai panglima bangsa untuk menciptakan keadilan, keamanan dan kesejahteraan untuk bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Rahiman, S.H. Mahasiswa Pasca Sarjana Fak. Hukum Unhas.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com