Opini

Jogja Menuju Propinsi [Tidak] Baik

Jogja bertambah pesat. Kendaraan bermotor semakin banyak. Hotel semakin bertambah. Apartemen mulai dibangun. Kafe dan diskotik semakin menjamur. Masyarakat Jogjakarta semakin menggeliat. Mulai dari aktivitas produksi, distribusi, hingga konsumsi. Lalu bagaimana Jogja dalam 10 hingga 20 tahun ke depan? Apakah semakin baik atau justru memburuk?

Oleh: Moddie Alvianto Wicaksono*

OPINI, EDUNEWS.ID – Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya dalam hal pendidikan dan pembangunan, Jogja menarik perhatian masyarakat Indonesia. Jogja memiliki kampus paling banyak di Indonesia. Jumlahnya mencapai 130 buah baik kampus negeri maupun kampus swasta. Ribuan bahkan puluhan ribu mahasiswa berdatangan silih berganti. Ada perantau yang balik ke kampung halaman jika masa kuliah berakhir. Namun ada pula perantau yang lebih memilih menetap di Jogjakarta. Alasannya dua: Nyaman dan Murah.

Baca juga :  SMAN 1 Wonoayu Sidoarjo Kunjungi FE UNY

Hal tersebut memang tidak dapat dipungkiri. Selama angkringan dan warmindo (pengganti burjo) masih menawarkan harga minimalis maka orang-orang khususnya perantau akan menganggap Jogjakarta masih layak untuk dihuni. Murahnya harga makanan dan berjubelnya jumlah mahasiswa membuat banyak mahasiswa berwirausaha. Banyak dari mereka mendirikan kafe, warung makan, kedai dan yang sedang menjamur coffee shop.

Jika anda berada di wilayah utara maka silakan anda menilik ke daerah Seturan dan Jalan Kaliurang. Jika anda berada di wilayah selatan maka silakan anda menengok ke daerah Tirtodipuran dan Prawirotaman. Mayoritas dari daerah tersebut menawarkan berbagai makanan dan harga. Geliat ini menumbuhkan potensi pajak dari kuliner bertambah. Pertumbuhan ekonomi pun akhirnya ikut meningkat. Hal ini yang memunculkan bahwa identitas Jogja sebagai surganya kafe bagi pelajar maupun mahasiswa.

Baca juga :  Ini Penyebab Yogyakarta Langganan Raih Nilai Kejujuran UN Tertinggi

Lalu bagaimana dengan perkembangan pembangunan Jogjakarta? Hotel semakin bertambah seiring dengan munculnya potensi-potensi wisata baru di Jogjakarta. Wisatawan pun membutuhkan tempat penginapan yang layak. Gayung pun bersambut. Permintaan wisatawan direspon dengan baik oleh pemerintah Jogjakarta. Pembangunan hotel, motel, maupun homestay mulai marak. Hampir semua wilayah di Jogjakarta menyediakan ketiga tempat tersebut.

Jikapun ada sedikit lahan kosong dan tak terpakai maka bisa dipastikan lahan tersebut menjadi hotel ataupun yang sedang menjamur yaitu apartemen. Meskipun begitu terjadi banyak konflik yang terjadi antara penduduk asli dengan pengembang tentang hotel. Namun, jika IMB sudah didapatkan maka penduduk asli tidak bisa berbuat apa-apa. Sekuat apapun ditentang, apartemen dan hotel tetap dibangun. Toh, pada akhirnya hotel mau apartemen tersebut laku. Coba anda lihat jika Jogja sedang mengalami liburan panjang atau weekend, bisa dipastikan tidak ada kamar kosong yang tersisa. Tak mengherankan, hal ini memunculkan stereotype bahwa Jogja Istimewa hotelnya.

Baca juga :  KPK Lebih Layak Dijadikan Kandang Babi, Bubarkan!

Selain itu, harga tanah dan rumah di Jogjakarta sangat luar biasa. Jika anda ingin menemukan rumah ataupun tanah murah di Jogjakarta, maka anda siap-siap untuk kecewa. Salah satu media lokal pernah menyebutkan bahwa tanah di Jogjakarta khususnya Sleman menempati peringkat ke 2 tertinggi setelah Jakarta. Ini membuktikan bahwa investasi tanah ataupun rumah di Jogjakarta meningkat. Bahkan beberapa saat lalu, sebuah portal online menyebutkan untuk memiliki tanah ataupun rumah di Jogjakarta, maka anda harus memiliki penghasilan minimal 5 juta rupiah. Tak heran ada yang menyebutkan bahwa tanah Jogja sudah tidak murah.

Advertisement

Lalu bagaimana dengan transportasi di Jogjakarta? Sejak produk mobil dan motor murah mulai diluncurkan, perlahan masyarakat menjadi konsumtif. Setidaknya bisa anda lihat di salah satu perumahan elit di Jogjakarta. Minimal 1 keluarga memiliki 1 mobil dan 2 motor. Ini artinya mereka tak perlu risau jika transportasi publik tidak ada. Namun pada akhirnya, kemacetan tak terelakkan. Jogja kini menjadi padat dengan kendaaraan. Terutama menjelang jam masuk dan pulang kantor. Waktu tempuh menjadi lebih panjang. Biasanya jika anda hanya menempuh perjalanan selama 20 menit maka anda justru menempuhnya menjadi 40 menit pada tahun 2016.

Banyak masyarakat yang tinggal di Jogjakarta terkadang mengeluh dengan kemacetan di Jogjakarta. Banyak yang berkata transportasi publik harus ditambah. Armada Transjogja perlu ditambah. Namun apakah jika armada tersebut ditambah maka masyarakat Jogjakarta beralih kepada transportasi publik? Bisa iya dan bisa tidak. Jika standarisasinya adalah bensin maka mungkin bisa dipastikan bertambahnya transportasi publik tidak akan berpengaruh pada masyarakat. Toh, lebih baik mengisi bensin 15 ribu pada motor namun bisa awet 3-4 hari daripada menggunakan transportasi publik yang bisa mencapai 10 ribu perhari.

Pemerintah Jogjakarta sebenarnya mencoba untuk menambah transportasi publik dengan memperluas jalur transjogja. Pemerintah mencoba menambah jalur ringroad untuk transjogja. Namun, hal tersebut akan diberlakukan pada tahun 2017. Sedangkan yang paling memungkinkan adalah menambah jalur satu arah. Saat ini sudah ada beberapa jalan yang digunakan satu arah seperti Jl. Urip Sumoharjo dan Jl. C. Simanjuntak. Rencananya akan ditambah pada Jl. AM.Sangaji dan depan Mirota Kampus UGM. Apakah hal ini akan menurunkan tingkat kemacetan? Menarik layak ditunggu.

Beberapa saat yang lalu muncul video dari linimasa ada beberapa pengendara sepeda yang melewati nenek yang sedang duduk di pinggir jalan. Kemudian mereka secara serentak turun dari sepedanya dan berjalan sembari mengucapkan salam kepada nenek tersebut. Video tersebut sejatinya ingin menegaskan bahwa Jogjakarta masih berbudaya. Namun benarkah begitu? Jika anda sedang berada di pedesaan mungkin hal tersebut jamak terjadi. Namun jika anda sedang berada di perkotaan, hal tersebut jarang terjadi.

Hal tersebut biasanya terjadi di daerah yang umumnya penuh dengan kos-kosan. Jangankan bertegur sapa pada tetangga, mengucapkan salam permisi mungkin sulit terjadi. Hal itu berdampak bahwa budaya masyarakat Jogjakarta yang santun akan sikap dan perbuatan lambat laun mulai langka. Hal ini yang semestinya diwaspadai. Terlebih saat ini adalah era generasi milineal. Generasi yang akan menentukan arah apakah Jogjakarta menuju propinsi yang semakin baik atau menjadi propinsi yang justur memburuk.

Moddie Alvianto Wicaksono. Alumnus Sekolah Pascasarjana UGM.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com