Opini

Jokowi dan Cawapres 2019

La ode arpai

 

Oleh : La Ode Arpai*

OPINI, EDUNEWS.ID-Manuver atau lobi-lobi politik  untuk pencalonan presiden  yang dilakukan partai pendukung semakin gencar dan menguat, baik partai petahana maupun partai oposisi. Tidak bisa kita nafikan kontestasi politik yang begitu kencang sudah dipastikan semua elemen bangsa akan terkuras tenaganya untuk memikirkan pertarungan kandidat Pilpres di 2019 mendatang. 

Presiden Jokowi sebagai petahana semakin menunjukan perannya dalam mensosialisasikan atas keberhasilannya selama menjabat sebagai presiden 4 tahun terakhir ini.  Salah satu yang dilakukan pemerintah adalah pemerintah telah mengumumkan atas keberhasilannya untuk mengambil alih saham PT Freeport Indonesia sebanyak 51 persen oleh PT Inalum (Persero). Selain itu, kepala BPS juga mengumumkan tingkat kemiskinan yang ada di indonesia semakin menurun dan berkurangnya atas kesenjangan yang ada di sektor perkotaan (Kompas, 17/7/2018). 

Dibeberapa akun media sosial milik jokowi selalu memosting kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap berhasil selama menjabat. Kampenya politik ini semakin intens dan masif dilakukan oleh partai pendukung pemerintah walaupun juga banyak mendapat kritikan dan cacian yang dilakukan oleh publik khususnya para penggemar sosial media terhadap kegagalan atas kebijakan tersebut. 

Namun, bagi mereka pendukung pemerintahan hal ini menjadi mudah dilakukan karena hampir semua birokrasi bahkan “media massa”ditekan untuk mensosialisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah. Kampanye politik ini merupakan salah satu cara pemerintah untuk menarik perhatian publik ditengah “kisruh” politik yang kian semakin memanas dalam perhelatan Pilpres 2019.

Cara-cara yang dilakukan Presiden Jokowi ini sama halnya seperti diungkapkan Clint Eastwood. Eastwood pernah mengatakan “Nowadays, politically, everybody is promising everything. That’s the only way you can get elected”. Ungkapan Eastwood ini gencar dilakukan oleh  Presiden Jokowi. 

Tentunya, sebagai seorang politisi promosi atau janji merupakan salah satu “senjata” untuk menarik perhatian masyarakat agar dapat dipilih kembali. Gerakan-gerakan Presiden Jokowi juga semakin masif untuk mencari sosok Cawapres yang akan mendampingi di perhelatan Pilpres 2019.

Popularitas Cawapres sangat menentukan untuk meningkatkan elektabilitas Calon. Sosok cawapres inilah yang masih membingungkan bagi Jokowi. Walaupun berbagai macam spekulasi telah bermunculan untuk menjadi Cawapres Jokowi baik dari kalangan Partai Politik pendukung Pemerintah maupun dari Masyarakat Sipil. Sejumlah nama telah disodorkan dihadapan meja Presiden, namun sampai sekarang nama tersebut belum diumumkan didepan public. 

Untuk menjadi figur calon wakil presiden tentunya harus memiliki track record  yang dialami sang calon agar elektabilitas pasangan calon dapat menjadi populer dan dikenal oleh masyarakat. Tidak hanya itu cawapres jokowi juga harus mampu mewakli kalangan organisasi islam sebagai masyarakat mayoritas di indonesia. 

Ada beberapa nama yang sempat disebut Presiden Jokowi untuk menjadi Cawapresnya seperti Muhaimin Iskandan dan Mahfud MD. Penyebutan Muhaiman ini bukan tanpa alasan, Muhaimin dikenal sebagai anak Kiai dari pondok pesantren dan dari kalangan NU, ia juga sebagai Ponakan Gusdur. Presiden Jokowi menyebut nama Muhaimin mungkin dianggap akan mewakili umat NU yang ada di Indonesia dan sudah bisa dipastikan jika Muhaimin yang menjadi Cawapres Jokowi kemungkinan warga NU sekitar 80 persen akan memilih Jokowi menjadi presiden. 

Selain nama itu salah satu tokoh nasional Mahfud MD juga digadang-gadang menjadi Cawapres Jokowi. Nama Mahfud MD-pun cukup tenar dikalangan ulama, ia dikenal sebagai pemikir islam moderat. Mafud MD juga akan mewakili dari tokoh-tokoh islam karena ia lahir dari Rahim organisasis islam sebut saja HMI.

Kedua nama ini menjadi hangat diberitakan oleh media dan merekapun selalu membangun kedekatan serta melakukan komunikasi politik dihadapan Jokowi. Tetapi, cawapres jokowi merupakan hak progratif dari partai pendukung pemerintah untuk menentukan sosok yang paling layak mendampingi jokowi.  Salah memilih cawapres tentunya akan berimbas pada kekalahan pertarungan Pilpres 2019 mendatang karena Sosok yang menjadi lawan politik Presiden Jokowi adalah sosok yang cukup kuat, dikenal oleh publik dan memiliki pengetahuan yang cukup mumpuni dengan tagline “2019 ganti presiden”. 

Sejumlah nama dari partai oposisi sudah bermunculan seperti Prabowo Subianto, Amin Rais, Gatot Nurmantyo atau Anies Rasid Baswedan merupakan lawan kuat Presiden Jokowi. 

Belakangan ini nama Anies Baswedan cukup tenar diberitakan oleh media massa bahkan relawan dari Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (Anies) suda h mendeklarasikan untuk mencalonkan Anies dipanggung Presiden. Popularitas dan integritas Anies Baswedan sudah tidak diragukan lagi dengan track record yang cukup baik dalam menjabat sebagai Gubernur DKI-Jakarta. Tetapi, sampai sekarang publik belum mendapat kejutan siapa kira kira lawan kuat Jokowi dan siapa cawapres Jokowi di Pilpres 2019. 

Bagi saya siapa pun yang tampil di panggung Pilpres maka mereka itulah merupakan orang terbaik bagi bangsa ini, dan tugas kita adalah mari ciptakan politik yang berkeadilan demi indonesia berkemajuan.

 

 

 La Ode Arpai. Wasekjen PB HMI MPO 2018-2020

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!