Literasi

Kala Teori Evolusi Darwin Dikritisi

Oleh: Anni Atiqah Mahdiyyah & Anni Adila Zakiyyah

OPINI, EDUNEWS.ID – Teori evolusi adalah teori yang cukup terkenal dan tidak asing lagi di telinga kita. Dalam teori ini terdapat pernyataan bahwa nenek moyang manusia adalah Kera. Awalnya kami mengetahui teori ini pada saat kami duduk di bangku SMP. Teori ini di ajarkan pada mata pelajaran sejarah.

Mendengar penjelasan itu membuat kami sebagai siswa menjadi bingung (merasa ambigu) dan mulai bertanya-tanya mengapa kera bisa berevolusi menjadi manusia, padahal antara manusia dan kera itu berbeda spesies.

Kami juga merasa bahwa teman-teman yang diajari tentang teori ini juga kebingungan dan timbul banyak sekali pertanyaan yang mereka ingin lontarkan. Mereka semua menjadi bingung kepada siapa mereka harus bertanya sedang gurunya terus-menerus menjelaskan tentang teori itu yang membuat mereka larut dalam kebingungannya.

Kami cukup beruntung mendapat pengarahan dari orangtua kami, beliau mendorong kami untuk berpikir kritis konstruktif dalam menerima sebuah pengetahuan, itulah yang membuat kami terinspirasi dan termotivasi untuk memberanikan diri berbicara tentang teori evolusi.

Kami berharap uraian singkat ini dapat membuka wawasan dan cakrawala pembaca, terutama bagi teman-teman kami yang masih duduk di bangku sekolah. Intinya kami ingin membagi ide secara positip kepada pembaca.

Teori Evolusi adalah sebuah teori pengetahuan yang di tulis oleh Carles Darwin pada abad ke 19. Carles Darwin adalah seorang llmuan yang berkebangsaan Inggris. Menurut Darwin bahwa nenek moyang manusia adalah kera yang berevolusi menjadi manusia seperti sekarang ini.

Teori ini didasarkan pada teori seleksi alam. Seleksi alam yang dimaksudkan dalam Teori Evolusi Darwin ini adalah bahwa makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi, lama kelamaan akan punah.

Makhluk hidup yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya dan sesama mahluk hidup akan saling bersaing untuk mempertahankan hidupnya.

Pada Teori Darwin ini menyatakan bahwa jika kera yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya tentu dia akan menjadi menjadi manusia-manusia kera seperti Meganthropus Erectus, Pithecantropus Ercetus, dan Homo Sapiens.

Manusia kera lama-kelamaan postur tubuhnya akan berubah mulai dari posisi membungkuk hingga mampu berdiri tegak seperti manusia saat ini.

Dalam pernyataan Teori Darwin tentang seleksi alam ini tidak menjelaskan secara rinci dan konkrit perubahan apa saja yang jelas dan secara faktual terjadi sehingga kera mampu berevolusi menjadi manusia sempurna.

Ada dua poin yang masih ambigu dan belum dijelaskan secara rinci oleh Darwin, yaitu :

1. Proses Evolusi Spesies yang Membingungkan
Charles Darwin melakukan penelitian tentang tumbuhan dan hewan untuk mempelajari tentang proses evolusi. Pengamatan yang ia lakukan di kepulauan Galapagos menjadi dasar baginya dalam merumuskan konsep dasar evolusi.

Darwin menyadari bahwa burung Finch yang mendiami pulau-pulau yang berbeda memiliki sedikit perbedaan. Dalam pengamatannya, Darwin mengidentifikasi beragam spesies burung Finch yang memiliki perbedaan pada bentuk dan ukuran paruh mereka.

Mereka memiliki perbedaan karena adanya seleksi alam tetapi pada kejadian teori burung Finch ini memang betul adanya karena yang berbeda atau berubah adalah bentuk tubuh dari burung tersebut yang merupakan satu spesies.

Sayangnya, Darwin tidak menjelaskan bagaimana bentuk perubahan atau penyeleksian alam terhadap mahluk hidup yang berbeda spesies seperti Kera dan Manusia. Di mana bentuk tubuh dari posisi membukngkuk langsung bisa menjadi tegak, volume otak yang berbeda, perbedaan kesukaan tentang makanan favorit kera, perbedaan bayi kera yang baru lahir dan bayi manusia yang baru lahir.

2. Masalah Volume Otak Transisi
Teori Darwin tidak menjelaskan jika terjadi seleksi alam maka kapasitas volume otak kera yang telah berubah menjadi manusia pasti bertambah, tapi nyatanya tidak ada penjelasan yang konkrit tentang hal ini.

Sedangkan salah satu jenis dari manusia kera yaitu Pithecantropus yang dari data memiliki volume otak yaitu 600 cc. Tentunya volume otak ini sangat jauh berbeda jika kera langsung berevolusi menjadi manusia sempurna yang berjalan tegak yang memiliki voleme otak sebesar 1.200 cc.

Volume otak dari 600 cc langsung berubah menjadi 1.200 cc itu tidaklah mungkin, karena pada dasarmya itu memerlukan yang namanya volume otak transisi. Dimana volume otak transisi yang dimaksudkan disini adalah volume otak yang awalnya 600 cc kemudian bertransisi ke 700, 800, 900, 1000, 1100 – 1200 cc yaitu volume otak yang dimiliki oleh manusiia sempurna.

Nyatanya proses evolusi otak dari 600-1200 cc itu tidak dapat dijelaskan secara ilmiah berdasarkan teori seleksi alam yang lebih rinci. Inilah yang kemudian menimbulkan keambiguan.

Menariknya lagi, volume otak manusia Neanderthal sebesar 1500cc, sementara volume otak manusia moderen berkisar antara 1200-1350 cc. Ini menandakan adanya penyusutan, bukan penambahan volume otak dari manusia purba menjadi manusia moderen.

Dari uraian diatas tampak sekali bahwa teori evolusi mengandung keambiguan yang sulit untuk dijelaskan secara ilmiah oleh para ilmuan modern. Harapan kami sebagai siswa semoga para ilmuan dapat menemukan solusi atas keambiguan yang terdapat dalam teori ini, sehingga kami para siswa dapat mencerna pengetahuan yang sesuai dengan akal sehat kami dan tidak membuat akal sehat kami menjadi rancu karenanya.

Anni Atiqah Mahdiyyah (Siswa SMA Negeri 16 Makassar) & Anni Adila Zakiyyah (Siswi SMP Muhammadiyah 1 Makassar)

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!