Literasi

Karakter Kepemimpinan Indonesia Abad 21 Dalam Perspektif Sistem Pertahanan Negara

Oleh: Sekar Hapsari Martodiharjo*

OPINI, EDUNEWS.ID – Abad 21 merupakan masa yang menandai pesatnya perubahan dalam tata kehidupan umat manusia baik dalam segi tata nilai, tingkah laku, sikap, pemikiran, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Pada hakikatnya, perubahan adalah kepastian zaman yang terus menerus berevolusi. Perubahan diciptakan oleh diri manusia itu sendiri yang tidak pernah cukup puas dengan apa yang telah diraih dan dicapainya.

Ada pepatah mengatakan “setiap zaman ada masa dan setiap masa ada zamannya”. Falsafah ini sangat tepat dijadikan suatu referensi dimana manusia selalu ingin berkembang dan menjadi bagian dari zaman bahkan menguasai atas zaman yang terlahir olehnya.

Menurut Kartasasmita, terdapat empat hal yang merupakan gambaran umum dari kehidupan masyarakat di abad 21 yang juga merupakan kecenderungan yang global.

Pertama, ekonomi nasional akan semakin terintegrasi ke dalam ekonomi global, sehingga bangsa Indonesia tidak bisa lagi hanya sekadar mengandalkan dinamika peekonoian di dalam negeri semata. Globalisasi ekonomi yang ditandai oleh praktek perdagangan bebas, telah menyebabkan dinamika perekonomian suatu negara menjadi saling tergantung.

Kedua, dalam era global interaksi antarbangsa dan antarnegara akan berlangsung semakin intensif, terbuka, dan transparan. Dalam proses interaksi demikian, maka dengan mudah terjadi pertukaran dan adaptasi nilai-nilai budaya diantara bangsa-bangsa di dunia.

Ketiga, di bidang politik dan hankam juga demikian halnya. Dalam batas- batas tertentu, dinamika politik di dalam negeri baik secara langsung maupun tidak langsung, dipengaruhi oleh perkembangan politik internasional. Penetrasi kekuatan-kekuatan asing, dalam beberapa hal, berpengaruh terhadap lemah-kuatnya ketahanan dan stabilitas politk nasional.

Keempat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi, berlangsung amat cepat dan harus diantisipasi karena ilmu pengetahuan dan teknologi, selain perdagangan adlah kekuatan utama yang mampu menggerakkan globalisasi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu indikato dan parameter tinggi rendahnya peradaban sebuah bangsa.

Era globalisasi dan dinamika kehidupan yang terjadi menimbulkan perubahan dampak positif dan negatif dan hal ini berpengaruh terhadap lingkungan strategis baik nasional, regional, dan internasional. Perkembangan situasi strategis abad 21 membawa beraneka ragam ancaman dalam sistem pertahanan negara dan kedaulatan NKRI.

Ancaman pada hakikatnya adalah setiap usaha dan kegiatan, baik yang berasal dari luar negeri atau yang bersifat lintas negara maupun yang timbul di dalam negeri, yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Dalam doktrin pertahanan negara, terminologi ancaman mencakup setiap ancaman termasuk gangguan yang dapat membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dankeselamatan bangsa atau yang bersifat menghambat atau penghalang terhadap kepentingan nasional.

Ancaman dapat digolongkan ke dalam jenis, sumber dan aktor. Berdasarkan jenisnya, ancaman pertahanan negara digolongkan dalam ancaman militer dan nirmiliter. Sistem pertahanan negara dengan pendekatan militer dan nirmiliter yang terpadu dalam menghasilkan suatu kekuatan dan kemampuan pertahanan negara yang memiliki efek penangkalan dalam menjaga eksistensi dan keutuhan NKRI.

Perkembangan lingkungan strategis dan potensi ancaman terhadap keamanan dalam negeri dalam dekade abad 21 menurut bambang widjojanto yaitu trade and monetary issues, globalizations political economic, ecological security, democratization and terorism.

Potensi ancaman tersebut dalam asymmetric warfare terdefinisikan oleh Rod Thorton, warfare is violnt action undertaken by the have not againt the have whereby the have-nots, be they state actors, seek to generate profound effect all levels of warfare (however defined), from the tactical to the strategic-by employing their own specific relative advantges against the vulnerabiities of much stronger opponent.

Menghadapi ancaman yang begitu besar dan kompleks di era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi hari ini, Indonesia memerlukan kepemimpinan nasional yang kompeten dan mampu mengimbangi ancaman yang muncul.

Berdasarkan pertimbangan perkembangan situasi strategis di atas serta kebutuhan kepemimpinaan nasional yang mampu membawa Indonesia melalui segala bentuk ancaman dan menghantarkan masyarakat dan bangsa Indonesia untuk memasuki era global yang adil dan makmur dalam kesatuan kedaulatan NKRI.

Karakteristik Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah sebuah kebutuhan dan tuntutan dari berbagai kehidupan masyarakat baik lokal, regional,nasional maupun di berbagai belahan dunia internasional. Kepemimpinan dalam kehidupn manusia tergantung pada aspek tingkatan yang dilakukannya, baik pada level kepemimpinan dalam rumah tangga, mayarakat, keorganisasian, lembaga, pemerintahan dan kenegaraan.

Teori tentang kepemimpinan sudah ada jauh sebelum abad 21. Peter Northouse mengidentifikasi empat komponen yang lazim keluar tiap definisi tentang kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan adalah sebuah proses. Kedua, kepemimpinan melibatkan kemampuan mempengaruhi. Ketiga, kepemimpinan terjadi dalam konteks kelompok. Keempat, kepemimpinan melibatkan percapaian tujuan.

Kartasasmita (1997 : 4) menekankan lima tantangan yang dihadapi pada abad 21. Lima tantangan tersebut adalah tantangan global, tantangan menjaga integrasi bangsa, tantangan memperkukuh wawasan kebangsaan, tantangan membangun masyarakat berpengetahuan, serta tantangan atas keterbukaan dan demokrasi.

Dalam menghadapi tantangan tersebut maka model kepemimpinan di abad 21 merupakan kombinasi dari kualitas-kualitas yang terdiri dari kemampuan mengantisipasi kecenderungan global, berpandangan visioner yang tercermin pada kehandalan dalam menguasai iptek, tetap kukuh pada tradisi budaya bangsa yang terrefreksikan pada wawasan kebangsaan, serta responsif-adaptif-akomodatif terhadap tuntutan keterbukaan dan demokratisasi.

Menurut Roger E. Herman (1999) mengemukakan bahwa untuk mencapai suatu kesuksesan, setiap lembaga atau organisasi harus memiliki 3 (tiga) elemen penting. Pertama, adanya kepemimpinan yang baik pada setiap tingkatan organisasi, kedua adanya manajemen yang baik, dan ketiga adanya tim yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kecerdasan (kapabilitas) untuk bekerja dengan tingkatan prouktivitas yang baik dalam mewujudkan tujuan organisasi.

Ada beberapa karakter kepemimpinan yang perlu diperhatikan oleh seorang dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin di abad 21, yaitu [9]:
1. Pemimpin harus memiliki karakter yang kuat. Beberapa karakter kepemimpina yang perlu diperhatikan adalah: karismatik, integritas, komitmen tinggi, bersikap adil, beretika, penuh tanggung jawab, percaya diri tinggi, tidak takut perubahan, menjujung tinggi kejujuran dan disiplin.
2. Pemimpin harus memiliki visi dan misi yang jelas. Pemimpin yang baik ahrus memiliki visi dan misi yang jelas seperti tetap fokus terhadap tujuan, bersedia melayani, berorientasi pada pengebangan, kerja yang matang, penuh inovasi, dan energik dalam melakukan pertumbuhan.
3. Pemimpin harus mampu menggiring aanggotanya tanpa dengan paksaan. Seorang pemimpin harus memiliki pengaruh kuat, tidak memaksakan kehendak, dapat memotivasi diri sendiri dan orang lain, memiliki daya tarik tersendiri, kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, memimpin dengan hati, pencitraan diri yang kuat, dan berprestasi dalam bidang pekerjaan.
4. Pemimpin dapat berkomunikasi degan baik. Komunikasi merupakan syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, seperti: dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien, dapat menghargai bawahan, berkoordinasi secara terus-menerus, pendengar yang baik, kemampuan berbicara yang baik, enyampaikan perintah secara halus, dapat membangun fondasi huungan yang kuat, cerdas dalam diplomasi, berkata sopan dan santun, selalu tersenyum, dan dapat menjalin toleransi yang baik diantara anggotanya.
5. Pemimpin harus cepat dan tanggap dalam mengantisipasi setiap masalah/ancaman yang timbul. Seoang pemimpin harus dapat mengenali masalah/ancaman secara dini, bersikap konstruktif, meneerima kritikan dan saran, engambil keputusan dan menyimpulkan sesuatu dengan cepat dan tepat, kebijakan yang efektif dan efisien, mampu bertahan terhadap situasi dan kondisi apapun, berani mengambil resiko, kemampuan observasi yang baik, selalu melakukan evaluasi dan monitoring terhadap setiap pekerjaan, bersikap selektif, realistis, dan penuh keseimbangan dalam bertindak.
6. Pemimpin harus mampu bekerja dalam tim. Seorang pemimpin harus dapat memberdayakan tim yang baik, dapat mengidentifikasi kebutuhan tim, memiliki kemampuan melatih, memotivasi anak buah menjadi pemimpin masa depan, manajemen waktu yang baik, etos kerja yang baik, pemberi dukungan bagi anak buah, loyalitas tinggi, mengarahkan anak buah menjadi lebih baik, bersedia mendelegasikan pekerjaan kepada anak buah, dann bersedia melakukan regenerasi kepemimpinan enjadi lebih baik.
7. Pemimpin memiliki ide-ide brilian. Untuk mencapai kesuksesan seorang pemimpin harus mampu menciptakan kreatifitas dalam segala hal, penuh dengan ide dan gagasan baru, memgang teguh kepercayaan, meberi reward and punishment, demokratis, berpikir positif, membuang kebiasaan menunda pekerjaan, mengutamakan skala prioritas, peka terhadap momentum, menghindari keragu-raguan, bersikap terbuka, intuisi tajam, penuh iisiatif, dan tidak cepat berpuas diri terhadap pekerjaan yang telah dicapai.

Oleh sebab itu, dalam menghadapi ancaman pertahanan negara di abad 21 pemimpin dengan karakter yang telah dijelaskan. Pemimpin juga harus mampu membaca situasi zaman dan memahami berbagai persoalan yang dihadapi bangsa dan negaranya. Selain itu pemimpin kedepan harus selalu melibatkan komponen kekuatan nasional secara menyeluruh. Dengan demikian sistem pertahanan negara dan keamanan rkayat semesta dapat terwujudkan secara nyata dlam membangun kedaulatan NKRI.

Kepemimpinan dalam Perspektif Sistem Pertahanan Negara sebagai Antisipasi Ancaman Keutuhan dan Kedaulatan NKRI
Kepemimpinan yang berkualitas merupakan kunci utama keberasilan suatu organisasi, kelompok, atau negara dalam mengimplementasikan cita-cita bersama.

Oleh sebab itu, dalam konteks keindonesiaan, bangsa Indonesia membutuhkan kepemimpinan nasional yang berkualitas agar mampu mengantarkan bangsa dan negara ini kepada tujuan nasional yang telah disepakati seperti yang tercantum dalam naskah Pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Upaya mewujudkan tujuan naasioal akan efektif bia ditunjang dengan kepemimpinan yang kuat dan berkualitas. Tantangan transformasi global di abad 21 terbuka lebar hendaknya mampu diibangi dengan penanganan terhadp ancaman Pertahanan Negara.

Dalam Peraturan Presiden RI Nomor 7 Tahun 2008 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara, disebutkan bahwa Strategi Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia disusun dalam bentuk strategi penangkalan berupa:
1. Pertahanan multilapis dengan pusat gravitasi dukungan rakyat atas peran TNI sebagai kekuatan utama yang menentukan di darat, di laut, dan di udara
2. Merupakan pertahanann total secara terpadu antara komponen militer dan nir Militer untuk mengahdapi setiap bentuk ancaman
3. Di tingkat nasional berupa jaringan terpadu ketahanan nasional di daerah termasuk di wilayah perbatasan dan daerah terpencil didasari semnagat bela negara
4. Di tingkat regional berupa jaringan kerjasama antara negara-negara Association of south east Asia nations (ASEAN) dengan menggunakan komponen Militer dan Nir Militer (ekonomi, budaya, identitas) secara terpadu dalam rangka menjaga, melindungi dan memelihara kepentingan nasional Indonesia.

Sistem pertahanan negara memerlukan pengelolaan yang mampu menajwab tantangan dinamis abad 21 dengan mensinergiskan komponen militer maupun non militer, baik dari latar belakang skill maupun kultural. Dengan demikian diperlukan pemimpin yang memiliki kemampuan multi skill yang dapat mengakomodir keberagaman daam mengelola sistem pertahanan negara.

John R Schermerhorn, Jr, mendefinisikan kepemimpinan dan manager tidak dapat disamakan satu dengan lainnya. Untuk menjadi seorang manajer berarti secara komprehensif melakukan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengendalikan. Sukses memimpin bukan berarti sukses dalam hal manajerial. Manajer yang baik adalah selalu disebut sebagai pemimpin yang baik, namun pemimpin yang baik belum tentu disebut sebagai manajer yang baik.

Dengan pengertian yang demikian maka pemimpin yang diharapkan oleh Schermerhorn adalah pemimpin yang tidak hanya pintar secara manjerial, namun seorang pemimpin yang memiliki tingkat komunikasi secara baik untuk menyampaikan ide atau gagasan (transform) kepada seluruh anggotanya agar anggotanya dapat menerima dan bersedia melakukan kemauan pemimpin untuk mencapai tujuan tertentu.

Menghadapi ancaman yang multi kompleks di abad – 21, tentu nya membutuhakan seorang pemimpin transformasional yang dapat mengintegrasikan seluruh elemen kekuatan bangsa untuk secara bersama-sama menghadapi setiap bentuk ancaman yang ada, baik ancaman yang datang dari dalam ataupun dari luar NKRI.

Kepemimpinan yang dapat mengekspoitasi gagsan/ide-idenya kepada seluruh staf di bawahnya sehingga memiliki visi dan misi yang sama dalam memajukan pembangunan secara merata, aman, damai, dan berkeadilan sosial sesuai dengan tujuan nasional bangsa Indonesia seperti dalam Pembukaan UUD 1945. Dinamika di dalam masyarakat merupakan salah satu variabel dalam menetapkan arah kebijakan pembangunan jangka panjang pertahanan negara.

Kesimpulan
Abad 21 merupakan abad yang memiliki kompleksitas dengan timbulnya globalisasi sebagai akibat dari pesatnya kemajuan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan. Akibatnya batasan ancaman suatu negara menjadi kabur.

Tantangan ancaman dalam lingkungan startegis harus diimbangi oleh karakter kepemimpinan yang mampu menjadi garda depan dalam menyosong abad 21, menginagt tingginya ancaman yang muncul.

Kepemimpinan abad 21 sebaiknya mengacu pada kearifan lokal penduduk Indonesia dengan mengantisipasi setiap tantangan danancaman tersebut.

Sistem pertahanan negara yang bersifat semesta memerlukan pemimpin dengan kualitas tersebut sehingga mampu mengerti dinamika masyarakat, yang merupakan bagian dari arah kebijakan pembangunan pertahanan negara jangka panjang.

Ketika suksesi kepemimpinan nasional telah berlangsung dengan damai, maka diharapkan kepemimpinan nasional yang telah terpilih secara demokratisasi ini mampu menjawab semua tantangan maupun ancaman zaman.

Dengan pemimpin yang memiliki tujuan dan transformasional, maka pertahanan negara dapat terlaksana sehingga akan menciptakan keutuhan dan kedaulatan NKRI.

Sekar Hapsari Martodiharjo. Peneliti Pusaran Indonesia. Alumni Universitas Pertahanan Nasional (UNHAN) Indonesia.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Close