Opini

Kata Siapa Perempuan itu Tiang Negara?

 

 

Oleh : Nur Khasanah Latif*

OPINI, EDUNEWS.ID – Dalam terminologi bahasa, tiang dimaknai sebagai sesuatu yang berasal dari kayu/besi/bambu yang dipancangkan untuk suatu maksud atau keperluan. Misalnya, tiang pada bangunan yang berdiri diatas sebuah pondasi digunakan untuk menyangga sebuah bangunan di atasnya. Penggunaan tiang telah dikenal sejak dahulu, bangunan-bangunan tua dari jaman tersebut biasanya menggunakan tiang yang terbuat dari kayu yang kokoh, semisal kayu jati.

Sekarang, jenis tiang telah berevolusi, pada bangunan-bangunan modern seringkali dijumpai tiang yang terbuat dari beton. Suatu kata kunci untuk menggambarkan sebuah tiang ialah kekokohan. Masuk akal, sebab tiang memang diperuntukkan untuk menyangga.
Bukan hanya dalam pengertian benda, kadangkala kata tiang ini dilekatkan pada kata lain sehingga membentuk sebuah peristilahan yang bermakna khiasan.

Misalnya, pada istilah tiang agama. Dalam agama Islam, disebutkan dengan jelas dalam sebuah hadist yang artinya “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat” (HR Tirmidzi) Hadist ini menegaskan bahwa dalam agama Islam ada sebuah perintah yang disampaikan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah shalat. Penyampaian langsung perintah shalat dalam peristiwa Isra’ Miraj menegaskan bahwa perintah tersebut sangat besar maknanya dan sangat vital peruntukannya.

Diumpamakan islam sebagai sebuah bangunan, maka pondasinya ialah syahadat, dan tiang penyangganya ialah shalat. Kewajiban shalat 5 waktu dalam islam dapat digambarkan sebagai 5 tiang yang menyangga sebuah bangunan bernama Islam. Jika salah satu tiang dari kelima tiang tersebut tidak ditegakkan, maka akan menyebabkan keruntuhan bangunan Islam. Betapa pentingnya shalat sebagai tiang agama. Lalu pada pelekatan kata lain, yakni tiang Negara. Inilah fokus utama tulisan ini.

Tiang Negara bukanlah gambaran tentang sebuah bangunan fisik dalam suatu Negara, melainkan sebaliknya. Tiang Negara bermakna suatu bangunan yang sifatnya nonfisik namun memiliki fungsi yang sama pentingnya dengan tiang pada sebuah bangunan fisik. Istilah ini dilekatkan justru pada sosok seorang perempuan. Penggunaan kata ‘justru’ merupakan gambaran dari wujud rasa heran/ketidakpercayaan dan rasa skeptik yang mendalam.

Baca juga :  Implementasi Pappaseng Tau Riolo dalam Pemerintahan

Pasalnya, dalam kajian kesetaraan gender, perempuan selalu ditempatkan pada posisi subordinat dari laki-laki. Asumsi umumnya, laki-laki selalu berada pada posisi dominan sementara perempuan adalah kebalikannya. Dalam berbagai mitologi hingga sistem pengetahuan, laki-laki adalah esensi sementara perempuan the others (yang lain). Subordinasi terhadap posisi perempuan tersebut meniscayakan pembedaan identitas baik secara kultural maupun struktural.

Satu pihak mengidentifikasi identitasnya sebagai yang lebih hebat (superior) sementara disisi pihak lainnya dipandang lemah dan tidak berdaya (inferior). (Meniti Jalan Emansipasi ; 2011). Pembedaan identitas tersebut tidak terlepas dari bangunan social budaya masyarakat yang mengamini logika superioritas dan inferioritas gender. Hal tersebut memunculkan bias gender dalam paham masyarakat pada umumnya. Sehingga berefek pada praktik sosial dan menggerus esensi perempuan hingga terkunci pada level domestik yakni rumah tangga semata.

Stereotype subordinasi pada perempuan yang dipandang sebagai makhluk lemah dibandingkan laki-laki dalam masyarakat seakan kontradiktif dengan semboyan “Perempuan adalah Tiang Negara” Asumsinya, pelekatan makhluk lemah (perempuan) sebagai tiang yang idealnya memiliki sifat-sifat kokoh, tangguh dan kuat layaknya kayu jati pada bangunan tua atau bahkan beton yang ditemukan pada bangunan modern seakan ditolak oleh logika. Mengapa bukan justru disematkan pada laki-laki yang dalam pemahaman masyarakat pada umumnya dipercaya lebih superior?

Apa yang sejatinya menjadikan perempuan mendapatkan predikat sebagai tiang negara?
Ibu (perempuan) adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Kalimat yang sangat sering diperdengarkan. Kalimat serupa ditemukan pula dalam ungkapan penyair melalui bait syairnya yang berbunyi “Al -Ummu madrasah Al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya) bila engkau persiapkan dengan baik maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik budi pekertinya”

Jika merujuk pada kalimat-kalimat diatas, dapat digaris bawahi tiga poin penting.
Pertama, ibu (perempuan) sebagai madrasah. Madrasah merupakan bahasa serapan dari bahasa Arab yang berarti tempat untuk belajar atau sistem pendidikan. Pendidikan terdiri atas pendidikan formal dan pendidikan moral. Hal ini mengaminkan peran ibu dalam ranah memberikan pendidikan bagi generasi penerusnya.

Kedua, Ibu (perempuan) dan perannya dalam masyarakat. Hal ini justru menolak paham wilayah peran ibu hanya dalam ranah rumah tangga melulu seperti yang dimitologikan dalam kajian kesetaraan gender. Ternyata seorang ibu (perempuan) dapat berperan lebih luas yakni dalam tataran masyarakat.

Baca juga :  212 : PINTU MASUK HIJRAH UNTUK NEGERI

Ketiga, Ibu (perempuan) dan pembentukan akhlak serta budi pekerti. Selaku madrasah, seorang ibu tentu memiliki andil dalam memberi bekal pengetahuan kepada anak-anaknya. Proses transformasi pengetahuan antara ibu dan anak didalam rumah berlangsung secara nonformal dan kecenderungannya transfomasi pengetahuan tersebut ialah yang sifatnya character building (moral dan budi pekerti).

Selain ketiga poin tersebut, ada pula pertimbangan lain mengapa perempuan dianggap memiliki peran yang besar bagi kemajuan suatu bangsa bak tiang negara. Hal ini disebabkan jumlah populasi perempuan disebut-sebut dua kali lipat dari populasi laki-laki. Maka secara nalar, jumlah populasi yang lebih besar menyumbang peranan yang lebih besar bagi baik buruknya suatu tatanan kehidupan negara.

Sebenarnya, ada yang menyebut bahwa hal tersebut sudah tidak sesuai dengan konteks sekarang mengingat bahwa di Tiongkok dan India sebagai Negara dengan populasi terbesar di dunia justru memiliki jumlah penduduk laki-laki yang lebih besar dibandingkan perempuan. Begitupun di negara Saudi Arabia. Namun, pertimbangannya pada setiap kelahiran bayi laki-laki yang jumlahnya lebih besar dibanding bayi perempuan, bayi perempuan lah yang memiliki tingkat harapan hidup yang lebih tinggi.

Sehingga diperkirakan, penduduk berjenis kelamin perempuan lebih besar karena berumur panjang. Hal ini cukup dijadikan refrensi saja. “Kerusakan suatu negara dapat dilihat dari perempuannya, jika rusak perempuannya maka rusak pula negara itu. Namun jika baik perempuannya maka baik pula Negara itu” Semakin mengerucut pada menemukan sebab musabab dan menguji asas kepatutan perempuan disebut sebagai penyangga sebuah Negara.

Dari kalimat tersebut, ditemukan peran vital perempuan dalam membentuk karakter anak, karakter generasi hingga karakter sebuah bangsa dan Negara. Namun, tentu saja sepenggal syair atau kalimat bahkan data perbandingan populasi yang masih jadi perdebatan tersebut belum bisa dijadikan sebagai rujukan yang langsung dipercaya begitu saja. Mari cek pada realitas bernegara. Dalam gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956.

Baca juga :  Ancaman Pengurasan Sumber Daya Alam Massenrempulu

Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang mandek, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya belum tercapai. Revolusi di zaman kemerdekaan adalah sebuah perjuangan fisik, perang melawan penjajah dan sekutunya, untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kini, 70 tahun setelah bangsa kita merdeka, perjuangan itu belum, dan tak akan pernah berakhir.

Namun, revolusi menjelma dalam arti yang berbeda. Bukan lagi mengangkat senjata, tapi membangun jiwa bangsa. Membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Itulah semangat revolusi mental yang didengungkan oleh Presiden RI Joko Widodo dengan perhatian sentralnya ialah pembangunan nonfisik, pembangunan jiwa bangsa, pembangunan manusia melalui bidang pendidikan formal dan moral.

Dalam konteks realitas, bukan lagi mengawan-awan pada penafsiran sejumlah kalimat dan nasihat bijak seperti sebelumnya, namun telah dapat ditemukan benang merahnya dalam pola pembangunan bangsa yakni jiwa/moral seakan memanggil kembali peran sentral perempuan dalam rumah. Mendidik, mengader, serta mencetak penerus bangsa terbaik. Meskipun sekarang telah lebih banyak lagi peran yang diperlihatkan perempuan diranah sosial dalam membantu pembangunan bangsa diberbagai bidang, seperti keterlibatan perempuan dalam bidang politik, kemandirian perempuan dalam berwirausaha, serta peran perempuan dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah/universitas.

Peran mendidik bukan hanya bagi perempuan yang telah berstatus ibu, tetapi juga meliputi seluruh perempuan dengan jalan mendidik dirinya sendiri. Namun, peran perempuan yang pertama ialah menjadi tiang bagi rumah tangganya, hingga menjadi tiang bagi negara. Sudah jelas kan dimana letak kekokohan seorang perempuan? Dibalik semua itu, ada sisi terkokoh seorang perempuan yang tidak bisa dimiliki oleh laki-laki yaitu rahim. Sebuah tempat dalam diri perempuan dimana kehidupan ditiupkan, dimulai, dan dicetak. Perempuan ialah tiang kehidupan.

Nur Khasanah Latief, Peniliti PUSARAN Indonesia

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com