Opini

Kebangkitan Islam, Antara Mimpi dan Fakta

 

 

Oleh : Ikhsan Kurnia*

OPINI, EDUNEWS.ID – Seandainya kebangkitan Islam abad millennium bermula dari Indonesia, maka pertanyaan kritis yang harus dijawab adalah: bagaimana proses dan tahapan kebangkitannya? Bidang apa dan wilayah mana yang menjadi trigger kebangkitan? Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Dan pertanyaan yang paling basic adalah: Apa ukuran dan indikator dari kebangkitan Islam tersebut? Apakah fenomena 212 sudah cukup untuk dijadikan sebagai signal?

Di internal ummat Islam sendiri, setidaknya ada tiga kubu terkait issue ini. Pertama kubu yang optimis, kedua kubu yang pesimis, dan ketiga kubu moderat. Termasuk kubu manakah anda? Mungkin anda akan menemukan sense yang berbeda-beda saat membaca tulisan seorang motivator, seorang pengusaha, politisi, aktivis, akademisi, tokoh agama atau seorang kritikus mengenai issue ini.

Tulisan seorang motivator biasanya selalu memberikan suntikan positif. Mereka merangkai kata-kata yang seolah memberikan “angin surga”. Namun, mungkin kita akan menemukan kesan yang berbeda saat membaca pandangan seorang politisi, misalnya.

Bagi sebagian orang boleh jadi lebih menyukai pandangan seorang motivator yang optimis, dan di waktu yang sama kurang memberikan respek terhadap perspektif seorang politisi. Padahal, jika kita mencoba berfikir lebih rasional, pandangan seorang politisi boleh jadi lebih “wise”, karena benar-benar berbasis pada pengalaman empiris.

Seorang politisi sangat menyadari, bahwa dalam sejarah politik Islam di Indonesia, ummat Islam hanya menjadi pemeran kelas dua. Sebagai gambaran fakta yang ada, pada Pemilu tahun 1955, gabungan semua partai Islam hanya memperoleh suara sebanyak 43,7%.

Dalam sejarah partai Islam hingga hari ini, tahun tersebut adalah pick achievement yang mampu dicapai oleh ummat Islam. Di masa Orde Baru, beberapa partai Islam seperti Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Parmusi berfusi mendirikan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di tahun 1973.

Namun, sebagai satu-satunya partai Islam yang mengikuti Pemilu, PPP hanya mampu meraih suara tertingginya sebanyak 18.743.491 (29,29%) di tahun 1977. Pada Pemilu tahun 1987, PPP hanya meraih suara sebesar 13.701.428 (15,96%).

Di Pemilu era Reformasi yang diselenggarakan pada tahun 1999, gabungan suara partai Islam memperoleh angka sebesar 36,8%. Sementara pada Pemilu tahun 2004, perolehan suara partai Islam sebanyak 38,1%.

Baca juga :  Manage Moslem

Selanjutnya, tahun 2009 dinilai sebagai “kuburan” bagi partai Islam, karena gabungan suaranya hanya mencapai 25,1%. Meskipun kembali mengalami kenaikan pada tahun 2014 dengan perolehan suara gabungan sebanyak 31,4%, namun partai Islam belum dapat lepas dari posisi sekunder.

Jika anda melihat angka-angka tersebut, apakah anda masih optimis bahwa kebangkitan Islam akan terjadi di Indonesia? Jika dihitung dari tahun 1955 sampai hari ini (2017), itu berarti sudah 62 tahun ummat Islam berpartisipasi dalam pemilihan umum, dan hasilnya bisa dibilang tidak memuaskan.

Bagaimana dengan politik Islam satu atau dua tahun terahir ini? Kita semua bisa melihat adanya perpecahan di internal partai-partai Islam, terutama sejak kasus Ahok.

Dan yang lebih mengagetkan, jika melihat survey terbaru tentang elektabilitas partai-partai, hampir semua partai Islam terjun bebas di bawah 5% (hanya PKB yang diprediksi masih di atas 5%). Inikah performance partai Islam zaman now?

Anda boleh percaya atau tidak dengan hasil survey. Saya pribadi percaya hasil survey sesuai dengan metodologi dan konteks waktunya. Namun saya juga meyakini pandangan bahwa “politik itu lokal”, artinya perolehan suara real dalam Pemilu nantinya sangat ditentukan oleh kerja keras dan faktor-faktor lain yang muncul di daerah-daerah.

Selain itu, politik juga sangat dinamis. Meski begitu, hasil survey layak untuk dijadikan input dan bahan evaluasi partai Islam. Kembali pada persoalan optimis-pesimis terhadap kebangkitan Islam di Indonesia, menurut saya kita tidak boleh menutup mata dengan pandangan-pandangan yang memberikan kesan pesimis.

Rata-rata politisi, sebagaimana yang saya ketahui, cenderung berfikir rasional. Itu karena setiap hari mereka mengalami dan merasakan apa yang sedang terjadi di bangsa ini.

Sementara itu, bagi kaum optimis, juga tidak ada alasan untuk menyalahkan pandangan mereka. Prediksi bahwa kebangkitan Islam akan muncul di Indonesia, bukan hanya didukung oleh orang-orang kita sendiri, tapi juga dari saudara-saudara kita di luar negeri (Timur Tengah).

Sebagai seorang muslim, saya pribadi meyakini akan datangnya kebangkitan Islam di akhir zaman. Namun apakah kebangkitan tersebut dimulai dari Indonesia, kita harus mengkajinya secara lebih seksama, termasuk mencari rasionalisasi dari keyakinan tersebut.

Fondasi kebangkitan Islam

Idealnya, dan sudah pula dibuktikan oleh sejarah peradaban Islam, bahwa fondasi kebangkitan Islam adalah kekuatan iman dan ilmu. Rosulullah sendiri menaruh perhatian yang sangat besar terhadap dua dimensi tersebut. Namun, apa manifestasi modern (zaman now) dari kedua dimensi tersebut?

Baca juga :  Teknologi dan Kemalangan

Menurut anda, berapa jumlah umat Islam Indonesia yang memiliki keimanan kuat? Jika dilihat secara statistik, jumlah umat Islam Indonesia yang dulu di kisaran 95%, kini hanya di kisaran 87% (jika dilihat dari pola penurunannya, boleh jadi di sensus yang akan datang tinggal di kisaran 85%).

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010, total jumlah Umat Islam di Indonesia sebanyak 207.176.162 dari total penduduk sejumlah 237.641.326. Dari angka tersebut, berapa % yang memiliki standar atau kadar keimanan yang dibutuhkan untuk menuju kebangkitan Islam?

Dulu Rosulullah membangun keimanan umat melalui pendidikan. Dinasti Abbasiyah, sebagai simbol kejayaan Islam era monarki juga menaruh perhatian besar terhadap pendidikan. Dengan pendidikan, dimensi iman dan ilmu bisa digarap sekaligus.

Pada akhirnya kita bicara tentang pendidikan Islam. Sejujurnya saya belum mengecek existing data tentang perkembangan pendidikan Islam di tanah air. Namun, mengingat jumlah umat Islam di Indonesia mayoritas, rasanya kurang representatif jika kita hanya melihatnya dari lembaga pendidikan Islam. Faktanya banyak orang-orang lulusan sekolah negeri yang memberikan kontribusi dalam perjuangan dan dakwah Islam.

Jika kita melihatnya dari sisi trend, maka tentu ada beberapa perkembangan dan kemajuan yang cukup signifikan di dunia pendidikan Indonesia. Namun jika dilihat dari sisi komparatif (terutama dibanding dengan negara-negara maju), kualitas pendidikan kita masih jauh tertinggal.

Jika diukur menggunakan PISA, maka kualitas pelajar Indonesia di bidang membaca, matematika dan sains berada di urutan paling akhir. Padahal, anggaran pendidikan dari pemerintah selalu mengalami kenaikan.

Sebagai ilustrasi, pada tahun 2006, dana yang dikeluarkan oleh pemerintah hanya sekitar 36 trilyun. Namun Indonesia menempati peringkat ke 48 (membaca), 50 (matematika) dan 50 (sains).

Di tahun 2009, dana yang dihabiskan lebih besar yakni 44 trilyun, namun peringkatnya turun menjadi ke 57 (membaca), 61 (matematika) dan 60 (sains). Terakhir, di tahun 2012 realisasi anggaran yang dikeluarkan mencapai 77 trilyun, namun peringkatnya semakin terpuruk menjadi 63 (membaca), 64 (matematika) dan 64 (sains).

Baca juga :  Ketidakadilan Politik dan Hukum Oleh Negara Menuju Rezim Tirani

Lalu bagaimana dengan kualitas guru? Sesungguhnya mayoritas guru di Indonesia sudah masuk kualifikasi jenjang pendidikan yang disyaratkan oleh Undang-Undang. Secara statistik, sebanyak 2.796.997 (81,31%) dari 3.439.794 guru sudah berpendidikan S1. Hanya 642.797 (18,69%) yang masih di bawah S1.

Namun ironisnya, kualifikasi jenjang pendidikan guru tidak menjamin kompetensi yang mereka miliki. Berdasarkan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) yang pernah dilakukan pada tahun 2016, nilai rata-rata guru di seluruh Indonesia hanya sebesar 56 dari angka tertingginya sebesar 100. Kita boleh saja tidak percaya dengan ukuran kuantitatif demikian. Namun setidaknya data tersebut dapat memberikan potret tentang kondisi yang ada.

Itu adalah fakta dari kondisi pendidikan kita, jika dinilai dari variabel-variabel yang sederhana dan bisa kira rasakan secara empiris. Bagaimana dengan sekolah-sekolah Islam? Memang kita memiliki semakin banyak sekolah Islam unggulan, termasuk di dalamnya berbagai jenis pesantren.

Namun apakah resources dan capabilities dari pendidikan kita sudah cukup mampu dan membuat kita percaya diri untuk mengatakan bahwa kebangkitan Islam akan terjadi di Indonesia?

Saran Strategi

Saya pribadi meyakini bahwa kemajuan umat Islam sangat dipengaruhi oleh segitiga dimensi: Politik, Pendidikan dan Ekonomi. Meskipun kita tahu bahwa kekuatan umat di ketiga bidang tersebut masih relatif lemah, namun saya meyakini bahwa “zaman now” adalah era dimana berbagai hal dapat berubah dengan lebih cepat.

Orang menyebutnya dengan disruption, dimana sesungguhnya disruption tidak hanya berhubungan dengan teknologi, namun juga terkait dengan cara berfikir dan ideologi.

Di era ini, sesuatu (atau seseorang) berkemungkinan untuk mencapai titik kemajuan (atau kebangkitan) bukan karena kemampuan inheren yang dimiliki oleh dirinya, namun karena “anugerah” yang diperoleh dari kekuatan lain yang sudah ada sebelumnya.

Kekuatan tersebut dapat kita peroleh tanpa harus membangun, namun dengan cara mengelola resources yang tersedia. Menciptakan dan membangun peradaban itu butuh waktu yang sangat lama. Namun kita dapat melakukannya saat ini juga dengan cara mengelola sumber daya yang sudah ada.

Singkat kata, jika kita menginginkan kebangkitan namun dihadapkan pada fakta-fakta yang kurang mendukung, cobalah untuk mengubah mindset dan strategi perjuangan kita, yakni: DON’T CREATE, BUT MANAGE!

Ikhsan Kurnia,Mahasiswa Pascasarjana Institut Teknologi Bandung

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com