Opini

Keluhuran Pribadi Nabi Ibrahim AS untuk Keteladanan Umat dan Bangsa

Irfan Safari

Oleh : Irfan Safari*

 

Perjuangan dan pergorbanan Nabi Ibrahim as

Ditengah problematika dan pembangunan di segala sektor kehidupan yang sedang dihadapi umat dan bangsa sekarang ini, perlu ada keteladanan dan  semangat dalam memantik peningkatan kualitas pada diri umat dalam mendorong kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan bangsa Indonesia, untuk itu dengan adanya momentum hari raya Idul Adha 1440 H, umat Islam sedunia yang rutin dirayakan setiap sekali setahunnya sebagai bentuk refleksi perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim as bersama dengan keluarganya. Penulis ingin mengajak umat Islam untuk merefleksikan kembali jejak-jejak sosok Nabi Ibrahim as. dengan keluhuran budi pekertinya yang dianggap sebagai bapak semua agama samawi mulai dari agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Nabi Ibrahim as adalah Nabi dan Rasul yang kira-kira kalau diurutkan berdasarkan silsilah Kenabian dan Kerasulan urutan 6, Beliau keturunan kesepuluh dari Nabi Nuh as, Untuk mengetahui lebih lengkapnya tentang silsilah Nabi Ibrahim as. atau dikenal Abraham didalam kitab Taurat silahkan membaca kitab Taurat dan Injil. Ibrahim as. bersama anaknya, Ismail, terkenal sebagai para pendiri Baitullah. Ia diangkat menjadi nabi yang diutus kepada kaum Kaldān yang terletak di negeri Ur, yang sekarang dikenal sebagai Iraq. Ibrahim merupakan sosok teladan utama bagi umat Islam dalam berbagai hal. Perintah Ibadah Haji dan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha merupakan beberapa perayaan untuk memperingati sikap berbakti Ibrahim terhadap Allah. Ibrahim termasuk golongan manusia pilihan di sisi Allah, serta termasuk golongan Ulul Azmi. Nama Ibrahim diabadikan sebagai nama sebuah surah, serta disebut sebanyak 69 kali di Al-Qur’an.

Perjuangan Nabi Ibrahim as dalam menegakkan kebenaran dihadapkan dengan kondisi yang sulit yaitu harus menghadapi ayahnya sendiri sebagai pembuat pantung untuk sesembahan masyarakat Babilonia serta raja Namrud yang berkuasa di Babilonia pada saat itu,  manusia pada saat itu menjadikan patung sebagai sesembahannya bahkan Raja Namrud sendiri menjadikan dirinya sebagai Tuhan, Nabi Ibrahim as ingin menyadarkan dan mengajak ayahnya dan bangsa Babilonia untuk mengikuti ajarannya yakni menyembah Allah swt sebagai Tuhan yang wajib untuk disembah, hal itu dilakukan untuk menyelamatkan manusia dari azab Allah swt.  Perjuangan Nabi Ibrahim  as mendapatkan perlawanan dari bangsa Babilonia yang dipelopori oleh raja Namrud yang berkuasa pada saat itu, nabi Ibrahim menjadi common enemy  dari kaum Babilonia yang menjadi pengikut raja Namrud, dengan segala acara kaum Namrud ingin menyingkirkn Nabi Ibrahim as salah satunya Nabi Ibrahim as ditangkap dan dibakar dalam keadaan hidup-hidup kedalam kobaran api yang menyala-nyala. Dengan pertolongan Allah swt sehingga api yang panas kemudian berubah menjadi dingin. “Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. (QS. Al-Anbiya: 68). Dengan pertolongan Allah swt Nabi Ibrahim terbebas dari kekejaman raja Namrud dan pengikutnya.

Baca juga :  Umar bin Khattab, Jokowi dan Pilpres

Pribadi Luhurnya Nabi  Ibrahim as

Dibalik sekilas sejarah Nabi Ibrahim as ada hal-hal yang urgen untuk kita teladani dalam kehidupan umat dan bangsa. Bagaimana keluhuran dan kemuliaan seorang Ibrahim as dan Al-Qur’an telah banyak sekali menguraikan tentang keluhuran pribadi Ibrahim as. dan keistimewaannya. Sebagaimana Al-qur’an menjelaskan bahwa Ibrahim as adalah sosok yang senantiasa menunaikan dan memenuhi janjinya,

“…dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang telah menyempurnakan (janji setianya)?” (QS. An-Najm [53]: 37). Itu terbukti ketika Ibrahim as ingin menyembelih anaknya yang diperintahkan oleh Allah SWT. lewat mimpinya sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah SWT.

Ibrahim as. senantiasa menyerahkan dirinya secara total kepada Allah swt. dan seluruh perintah-Nya. “Ketika Tuhan Pemeliharanya berfirman kepadanya: ‘Berserah dirilah!’ Dia (Ibrahim as.) menjawab: ‘Aku berserah diri kepada Tuhan Pemelihara semesta Alam’” (QS. al-Baqarah [2]: 131).

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan wajahnya (totalitas dirinya) kepada Allah, sedang pun muhsin (selalu berbuat lebih baik), dan telah mengikuti agama Ibrahim yang lurus” (QS. an-Nisa [4]: 125).

Ibrahim as. adalah hamba yang dipilih menjadi kesayangan-Nya dengan mendapatkan gelar Khalilullah (خلیل الل, Kesayangan Allah). “Dan Allah telah menjadikan Ibrahim kesayangan-(Nya)” (QS. an-Nisa’ [4]: 125)

Baca juga :  Mengapa Rakyat Jakarta Butuh Gubernur Baru?

Berkaitan dengan dinisbatkannya sebutan al-Khalil ini, al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibn Umar.

Bahwa Nabi saw bertanya: “Wahai Jibril, mengapa Allah Maha Tinggi memilih Ibrahim as. sebagai al-Khalil (sang kesayangan)?” Jibril menjawab: “Karena kegemarannya menyediakan makanan (untuk tamunya), wahai Muhammad!.” Nabi Ibrahim senantiasa total bertawakal kepada Allah swt.

Ibrahim as adalah pribadi yang dijadikan Allah selalu berbuah tutur yang baik.

“…dan jadikanlah bagi aku buah tutur yang baik ditengah orang-orang (yang datang) kemudian” (QS. asy-Syu’ara [26]: 84)

Ibrahim as adalah pribadi yang dianugerhi Allah ketajaman berargumentasi. Karenanya, ia selalu menyeru manusia kepada Allah dengan argumentasi yang kuat dan perkataan yang baik.

Sebagaimana al-Qur’an menjelaskan bahwa “Dan itu hujjah (bukti yang sangat jelas dari) Kami yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim atas kaumnya” (QS. al-An’am [6]: 83)

Ibrahim as. adalah pribadi yang diuji dengan sempurna oleh Allah dan dijadikan sebagai pemimpin  umat manusia.

“Dan (ingatlah), ketika ketika Ibrahim diuji Tuhan Pemeliharanya dengan beberapa kalimat..” (QS. al-Baqarah [2]:124)

Nabi Ibrahim  as telah membuktikan diri sebagai hamba Allah swt yang taat dan sabar terhadap segala perintahNya yakni mampu melewati berbagai macam ujian misalkan ketika seorang Ibrahim as diperintahkan oleh Allah SWT melalui sebuah mimpi untuk mengorbankan anaknya yang bernama Ismail untuk disembelih sebagai bentuk perintah Allah swt, dengan penuh ketaatan dan kesabaran Ibrahim as menunaikan perintah Allah swt sehingga buah dari ketaatan dan kesabaran Allah swt menggantinya dengan seekor hewan sejenis domba. Dibalik peristiwa itu Allah swt ingin menguji hambaNya dengan sesuatu yang sangat dicintai yaitu keluarga, harta dan jabatannya agar hambanya tetap sabar dan tabah dalam ketaatannya. Hal ini akan mendorong manusia  untuk senantiasa berkorban demi kemaslahatan keluarga, umat dan bangsa.

Implikasinya Untuk Umat dan Bangsa

Ditengah isu-isu disintegrasi umat dan kepemimpinan bangsa yang mengalami krisis keteladanan mulai dari tingkatan elit politik hingga ke akar rumput (masyarakat bawah), untuk mengembalikan kondisi ideal umat  dan bangsa Indonesia yaitu persatuan umat dalam bingkai pancasila dan bangsa yang adil, makmur sentosa yang diridhoi Allah swt. Oleh karena  itu perlu ada refleksi keteladanan yaitu dengan bercermin pada keteladanan perjuangan dan pengorbanan sosok Nabi Ibrahim as, umat dan bangsa Indonesia akan mampu menunjukan perjuangan dan pengorbanan secara totalitas dalam berbangsa dan bernegara sehingga siapapun yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia harus rela berjuang dan mengorbankan apapun yang dimilikinya mulai pikiran, tenaga harta jiwa dan raganya untuk kemaslahatan umat dan bangsanya.  Untuk mewujudkan bangsa yang sukses dibutuhkan generasi yang kuat dan tangguh dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan kedepannya terutama dimulai dengan membangun keluarga yang berkualitas seperti halnya keluarga Nabi Ibrahim as dengan penuh totalitas telah  menunjukan ketaatan kepada Allah swt, perjuangan dan pengorbanan keluarga nabi Ibrahim as, begitu halnya dengan keluhuran pribadinya dalam membangun umat dan bangsanya seperti yang telah dilakukan oleh Ibrahim as pada bangsa Babilonia. Bangsa Indonesia dengan segala potensi keragaman dan kekayaannya harus dikelola dengan semangat-semangat Ketuhanan dan Kebangsaan yang bermuara pada kearifan lokal dan pancasila. Sebab ketika keragaman ini tidak mampu dikelola dengan baik maka akan menimbulkan perpecahan ditengah umat oleh karena itu dibutuhkan kearifan umat dan pemimpinnya dalam merawatnya. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan kekayaan  nilai-nilai luhurnya yang lahir dari tradisi dan budaya serta yang dibangun oleh para founding father bangsa Indonesia. Itu sebagai warisan bangsa ini yang harus dirawat dan dijaga oleh segenap elemen bangsa agar eksistensinya tetap terjaga hingga kelak nanti.  Demikianlah dari Penulis hanya bisa menguraikan secara singkat, semoga bermanfaat untuk kita semua sebagai ikhtiar menuju umat dan bangsa yang diridhoi Allah SWT.

Baca juga :  Konferensi ke-50 HMI MPO Makassar, Irfan Safari Didaulat sebagai Ketua Umum Baru

 

Irfan Safari. Pengurus Besar HMIPeriode 2018-2020 M

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!