Opini

Kolonialisme Internal : Dominasi Elit dan Dinasti Politik di Tingkat Lokal

Oleh : Mahyuddin*

OPINI, EDUNEWS.ID – Kolonialisme merupakan suatu hal yang tidak pernah lapuk dalam tema-tema diskusi. Ketika kita membuka lembaran-lembaran sejarah, maka dari sana kita akan menemukan ada banyak peristiwa-peristiwa sosial yang beririsan dengan kolonialisme. Bahkan, sejarah mencatat bahwa hampir sebagian besar wilayah-wilayah di belahan bumi bersentuhan langsung dengan intrik-intrik kolonialisme.

Namun, disini kita tidak hendak mendiskusikan secara panjang lebar bentuk kolonialisme pada epos-epos terdahulu. Tetapi melihat perihal corak kolonialisme ini yang masih terjaga eksistensinya dalam relung-relung kehidupan kita hingga hari ini. Ia tidak lagi berbentuk penjajahan secara fisik seperti yang dilakukan oleh para penjajah melainkan dioperasikan oleh aktor-aktor tertentu untuk mengamankan segala bentuk yang berkaitan resources (ekonomi dan politik).

Baca juga :  Resufle Kabinet, Jawaban Kegagalan Pemerintah?

Salah satu varian dalam kaitannya dengan diskursus kolonialisme ialah istilah kolonialisme internal. Sebagaimana diulas oleh Daniel Dhakidae dalam karya monumentalnya, ‘Politik Militer Indonesia dan Kolonialisme Internal’. Konsep kolonialisme internal di sini dipergunakan untuk membuat analisa tentang eksploitasi atau monopoli suatu kelompok tertentu terhadap kelompok lain dalam suatu komunitas atau masyarakat yang sama.

Eksploitasi atau penindasan tersebut lazim dilakukan melalui sebuah sistem sosial yang dibangun sedemikian rupa sehingga kelompok kuat bukan hanya mampu menempati posisi-posisi penting, dan memonopoli proses pengambilan keputusan politik, tetapi juga menguasai sumber-sumber ekonomi (Usman, 2017). Tentu dalam konteks dominasi elit dan kaitannya dengan dinasti politik, fenomena semacam ini banyak terjadi bahkan tumbuh subur di tingkat lokal atau daerah.

Baca juga :  Mahyuddin akan Melawan Jika Golkar Copot Jabatan Wakil Ketua MPR

Di beberapa daerah mulai dari tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan bahkan desa, tidak sedikit kita menemukan kelas-kelas sosial dan kelompok tertentu secara terus menerus yang menguasai hampir segala lini sektor-sektor strategis. Mereka tidak hanya menempati posisi strategis, tetapi juga menguasai sumber-sumber ekonomi, sosial dan politik.

Pembahasan Daniel Dhakidae ini terlihat sama dengan tradisi sosiologi kritis, ia menggambarkan bahwa corak tatanan masyarakat kita hari ini memang masih terus diwarnai struktur hirarkis di mana kelompok dominanlah yang menguasai sumber-sumber ekonomi, sosial dan politik, sementara kelompok yang dikuasai tidak mampu berkembang bahkan berada pada posisi yang selalu dirugikan.

Disini posisi para kaum elitis demikian berperan penting, mereka terus mengembangkan strategi yang sistematis untuk menguasai pelbagai sektor kehidupan: pemerintahan, bisnis, komunitas politik, bahkan lembaga lembaga-lembaga kemasyarakatan. Maka, tidak heran ketika kehadiran dinasti politik di tingkat lokal terus menyeruak dalam kancah perpolitikan di daerah yang seakan sulit ditumbangkan.

Baca juga :  Wakil Ketua MPR Ajak Semua Pihak Berhenti Korupsi

Keadaan semacam ini bilamana kita membaca secara kritis pada dasarnya proses transformasi dari kolonialisme internal sebagaimana penjelasan Daniel Dhakidae. Kelompok-kelompok dominan terus mengembangkan penguasaan secara masif di ranah ekonomi maupun politik atas suatu daerah dengan maksud untuk memperluas dan mengamankan sektor-sektor strategis tersebut. Di daerah, keadaan demikian nampaknya terus tumbuh dan berkembang sehingga memunculkan dan melanggengkan fenomena politik dinasti, di mana sistem kekuasaan di pemerintahan hanya mengandalkan keturunan dari sekelompok orang atau keluarga tertentu saja.

Advertisement

Kontestasi politik hanya didominasi oleh kelompok yang memiliki kuasa (ekonomi dan politik) karena mereka memiliki sokongan infrastruktur politik yang memadai. Pun jika tidak mampu berkompetisi secara sehat, tidak sedikit juga diantara mereka yang menggunakan cara-cara tidak etis demi hasrat kekuasaan dan kepentingan ekonominya. Sehingga, di beberapa daerah yang mendominasi posisi-posisi strategis (eksekutif, legislatif dan yudikatif) adalah siklus posisi aktor-aktor golongan tertentu saja.

Realitas sosial yang satu ini memang menjadi isu problematik tersendiri karena ia memiliki kerentanan terhadap praktik-praktik culas. Hal ini dikonfirmasi oleh Idrus Affandi (2016), Guru Besar bidang Pendidikan Politik UPI, bahwa politik dinasti memiliki kerawanan terjadinya KKN yang lebih ketimbang non-dinasti. Karena rawan KKN, maka dalam politik dinasti terdapat ketidakadilan, peluang penyalahgunaan kekuasaan, dan rawan melahirkan aneka macam penyelewengan ekonomi negara.

Tidak berhenti sampai disitu, kondisi ini juga yang kemudian melahirkan kemacetan dalam berdemokrasi karena terjadi sumbatan kaderiasasi sebagai akibat dari monopoli kekuasaan. Dengan demikian, diskursus kolonialisme internal yang kadang kala dipraktikkan oleh elit-elit golongan tertentu pada aras lokal, tidak bisa dinafikan bahwa ia memang memiliki dampak sosial secara signifikan. Ia tidak hanya menciptakan sebuah sistem di mana suatu kelompok dominan terus menerus mencoba melanggengkan kekuatan politiknya.

Tetapi juga sistem ini menjadi alat pembenaran untuk menguasai segala sumber daya di daerah sebagai penyokong utama untuk mewariskan dan mereproduksi dominasi ekonomi dalam lingkaran-lingkaran kelompoknya. Tentu kondisi semacam ini sangat-sangat berbahaya bagi masyarakat dan dapat merusak tatanan sosial dalam praktik bernegara. Oleh karena itu, sebetulnya hal mendasar yang diperlukan saat ini ialah sebuah konstruksi sosial masyarakat yang didesain dalam sebuah relasi sosial yang berkeadilan dan lebih humanis.

Untuk sampai pada cita-cita ideal tersebut, kita tentunya dituntut untuk menanggalkan terlebih dahulu persemaian keserakahan-keserakahan sosial yang mungkin masih tertancap dengan kuat dalam diri kita masing-masing.

Mahyuddin, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi UGM

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com