Opini

Konsolidasi Intelektual ‘Massenrempulu’!

Muh. Jusrianto

Oleh: Muh Jusrianto*

Diawali dengan mengikuti dan mengamati obrolan di group whatsapp yang berlabel “Generasi Baru Massenrempulu”, telah memunculkan persepsi baru tentang realitas potensi sumber daya manusia yang dimiliki Maspul (Massenrempulu). Ternyata begitu banyak “tokoh intelektual Massenrempulu” yang berada di luar daerah. Saya yang sudah meninggalkan kampung halaman sejak 6 (enam) tahun yang lalu untuk merantau di bagian timur pulau Jawa, sebelumnya tidak tahu menahu tentang potensi yang sudah ada itu. Percakapan sederhana melalui media sosial tersebut telah memberitahukan secara gamblang dan nyata, ternyata daerah yang dikenal dengan “tana ri galla, tana ri abbussungngi” memiliki kekayaan kapasitas keilmuan yang tersebar di luar sana. Mereka adalah putra-putri terbaik Maspul yang terlibat langsung dalam pembangunan bangsa melalui profesi masing-masing. Itu bisa dilihat dan diketahui dengan munculnya nama-nama profesor dan doktor berasal dari Maspul di group whatsapp tersebut. Profesor yang sudah disebutkan namanya sekitar 35-an orang, sedangkan doktornya lebih dari itu dan belum disebutkan satu per satu, apalagi masternya yang nyatanya sudah ratusan bahkan ribuan.
Nama-nama itu akan disatukan dalam sebuah pembukuan atau database berdasarkan keinginan para anggota group. Sebuah awal dari rencana melakukan konsolidasi intelektual yang tidak lain dan tidak bukan, semoga murni berorientasi kepada kemajuan daerah kedepannya. Suatu kepercayaan bahwa mereka adalah generasi terbaik Maspul di era sekarang pastinya jauh dari sifat Mallaparru, suatu kata yang mengandung nilai yang harus didekonstruksi atau dihilangkan di kalangan orang Maspul. Untuk itu, tersimpan dalam lubuk hati paling dalam, dimana mimpi-mimpi akan perkembangan dan kemajuan daerah asal dapat terwujud dari waktu ke waktu. Sebuah hal yang menjadi keharusan tertanam dalam setiap insan, apalagi para tokoh intelektual, dalam hal ini orang Maspul yang tersebar di republik ini bahkan ada yang di luar negeri. Ini bukanlah bagian dari statement primordialisme atau soal mengarahkan agar mengutamakan daerah sendiri bisa lebih maju dibanding yang lain. Ini soal bagaimana putra-putri daerah dapat terkonsolidasi untuk terlibat aktif dalam pembangunan Indonesia melalui jalan terlibat aktif dalam memajukan Maspul yang lebih menjanjikan.

Baca juga :  Mahasiswa dan Pemuda Masserempulu Enrekang Sulsel Tolak Kehadiran Tambang

Sebuah Distorsi
Para tokoh cendekiawan dan intelektual Maspul yang tersebar di seantero nusantara, bukan hanya aset bangsa tetapi aset daerah yang sangat berharga. Kelebihan dan keunggulan mereka kadangkala diabaikan bahkan dilupakan oleh para pemerintah khususnya penguasa hari ini. Penguasa yang cenderung menganut dan menggunakan konsepsi nepotisme dan pragmatisme menjadi kausal menganggurnya potensi yang ada pada mereka untuk daerah. Suatu fenomena yang diasumsikan telah mengantarkan pembangunan daerah masih belum kelihatan secara signifikan. Idealnya, pemerintah mampu mewujudkan kemajuan dari semua lini di daerah dan itu dapatlah terbukti secara nyata. Bukan malah membiarkan salah satu perusahaan melakukan eksplorasi sumber daya alam (Marmer) tanpa ada kajian akademik yang mendalam dan matang. Muncullah perlawanan yang dapat mengancam integritas pemerintah karena kebijakan tersebut dapat mengancam peninggalan sejarah, sosial kultural dan lingkungan disekitarnya. Ini hanyalah salah satu contoh saja dari sekian kejanggalan yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah daerah.
Mengumpulkan orang-orang pintar dan cerdasnya Maspul, baiknya dilakukan oleh pemerintah sejak dulu, semisal di awal pemerintahan. Tujuannya untuk menghimpun gagasan-gagasan brilian untuk membantu dan mendukung visi-misi pemerintah seperti slogan yang dulu diagungkan pada saat momentum pesta demokrasi yakni EMAS (Enrekang Maju, Aman dan Sejahtera). Namun pada kenyataannya, sikap pemerintah selama ini yang dapat dikategorikan menganut ekslusifisme (paradigma tertutup) menjadi hambatan besar merealisasikan konsepsi EMAS yang dulunya diagungkan untuk menarik simpati. Sikap tertutupnya pemerintah dari para kalangan intelektual Maspul dapat diketahui dengan tidak terakomodirnya mereka. Tanda tanya besar, apakah HIKMA (Himpunan Kekeluargaan Massenrempulu) sudah dilibatkan selama ini?, subjektivitas-pun muncul sesuai dengan pengamatan bahwa potensi yang ada di HIKMA tidak dimaksimalkan dengan baik oleh pemerintah. HIKMA yang memiliki motto TOBANA (tolong menolong, bantu membantu dan nasehat menasehati) harusnya juga dianut oleh pemerintah daerah. Salah satu bentuk dari memanifestasikan nilai-nilai fundamental dari MOTTO tersebut adalah bagaimana pemerintah mampu bersikap inklusif (terbuka) dengan melibatkan secara optimal para tokoh-tokoh Maspul yang bertebaran di luar sana untuk Enrekang yang lebih maju.

Baca juga :  Menyikapi SK Dirjen Dikti tentang Publikasi Karya Ilmiah dengan Bijak

Bukan Utopia
Pendataan tokoh-tokoh Maspul secara kompherensif yang akan dilakukan merupakan suatu hal yang sangat penting. Jika kualitas-kualitas mereka dapat terkelola dengan baik dan dapat disatukan dalam satu tujuan yaitu berpikir dan bertindak untuk kemajuan enrekang, maka dampaknya sungguh luar biasa. Untuk itu, dalam rangka menyatukan orang-orang yang berbeda latar belakang disiplin ilmu dan profesi, sudah sepatutnya ada sebuah forum yang dapat menyamakan berbagai perbedaan itu. Suatu harapan besar, mereka semua dapat bertatap muka dan berbicara dalam satu tempat dan waktu yang sama mengenai letak pasti sebuah posisi dalam proses pembangunan kampung halaman. Ini adalah bagian dari bentuk gerakan baru –“new movement” – dengan tergabungnya sebagian besar para orang pintarnya (tomaccana) Maspul dan terlibat aktif apakah memberikan saran-rekomendasi ataukan mengkritik-menyoal pemerintah. Disisi lain, selain buah pikiran mereka juga menempuh jalan lain yang bersifat konkrit dan nyata dalam mendorong kemajuan daerah.
Gambaran sederhana inilah yang kemudian dapat dipikirkan dan dipertimbangkan oleh pemerintah daerah. Sebuah gagasan yang akan menjadi kekuatan baru nantinya meskipun diantara mereka kebanyakan berada di luar daerah. Jika perlu, pemerintah berperan besar dalam menumbuhkan dan membesarkan ikatan diantara para harapan daerah itu. Membangun sebuah rasa cinta akan pentingnya keterlibatan dalam memajukan kampung halaman, bukan malah menganggap mereka tidak ada. Baju-baju ekslusifisme ada pada pemerintah daerah dapat dilepaskan dan lebih memegang teguh sikap inklusifisme. Jalan ini dapat menarik para putra-putri terbaik “bumi yang diagungkan dan dirindukan” yang berkibar di daerah lain dan dapat lebih mudah berperan besar dalam memajukan Enrekang. Apalagi sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bumi Masserempulu memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa, tinggal bagaimana memanfaatkan dan memaksimalkan sumber daya manusia untuk mengelolanya. Ini bukanlah utopia atau ilusi, tetapi ini sebuah mimpi yang bakal akan terealisasi jika pemerintah daerahnya mengutamakan kebijaksanaan dalam kekuasaanya. “Cita-cita yang menjadi kenyataan berawal dari sebuah mimpi”, maka pemerintah daerah-pun wajib memiliki mimpi-mimpi besar dan mampu merealisasikannya secara maksimal dan itu berawal dari “konsolidasi intelektual”.

Baca juga :  Pemuda Muslim Enrekang Berharap Kandidat Bupati Bisa Dorong Inovasi di Sektor Agroindustri

Muh Jusrianto
Alumni HI UMM, Generasi Muda Maspul

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!