Artikel

Magnet Pilkada dan Gairah Tokoh Nasional

Oleh: Abd Azis Udin*

Fenomena NH Tergiur, Olly Dondokambey Pun Tergoda Pulang Kampung

OPINI, EDUNEWS.ID – Pemilihan umum langsung kepala daerah atau pemilukada serentak 2018 jilid III akan segera berlangsung, yakni pada 2018 mendatang untuk memilih pasangan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati serta walikota dan wakil walikota. Namun, meskipun masih setahun lagi tetapi atmosfirnya pun sudah mulai terasa dan di beberapa daerah bakal calon (balon) pun mulai melakukan sosialisasi ke masyarakat, berikut partai politik di daerah pun telah mulai mengendus, menilai dan mengelus-elus balon yang layak untuk mereka usung. Intinya, ratusan jumlah di seluruh tanah air tampak telah bersiap untuk melaksanakan pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Setidaknya dinamika pilkada sepintas bisa dilihat pada dua daerah provinsi di wilayah daratan pulau Sulawesi, yakni Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Kedua daerah ini diprediksi akan berlangsung dinamis karena daerah-daerah tersebut kemungkinan akan menjadi ajang beberapa tokoh nasional untuk mencoba peruntungan politik di kampung halamannya. Gambaran itu bisa ditilik pada (khususnya) di sulsel, bahwa pemilihan gubernur (pilgub) Sulawesi Selatan (sulsel) 2018 yang waktunya tidak lama lagi, yaitu dilasanakan serentak dengan wilayah lainnya, tetapi kini getarannya mulai terasa seakan kita sudah disuguhi oleh sebuah pertarungan yang sangat luar biasa dan layak dinanti, pilgub kali ini menarik untukdisimak dan dapat dikatakan akan berlangsung dengan sangat ketat, mengingat pesta lima tahunan itu merupakan tahun politik yang diibaratkan sebagai arena tarung bebas. Ada dua asumsi yang dapat dijadikan alasan, pertama periodesasi gubernur Syahrul Yasin Limpo (SYL) sudah dua periode, sehingga dapat dipastikan SYL tidak lagi menjadi kompetitor. Kedua, hadirnya tokoh-tokoh nasional yang ingin bertarung dan meramaikan pilgub, elite politik itu tampaknya ikut tergoda pada pesona pilkada, dan sepettinya tertantang untuk mengembangkan potensi dan memajukan daerah asalnya.

Pilgub Tanpa Petahana
Pemilihan Gubernur sulawesi selatan diprediksi akan berlangsung sengit. Periodesasi gubernur Syahrul Yasin Limpu (SYL) sudah berakhir, tentunya akan sangat mempengaruhi peta kompetisi di pertarungan politik ini. Tidak ikut bertarungnya petahana membuat kekuatan semua pasangan calon seimbang. Ini menjadi menarik, karena semua pasangan calon berangkat dari start yang sama dan tidak melibatkan jajaran birokrasi. Adu strategi, program, dana, dan pendekatan ke masyarakat akan menjadi kunci memenangkan pilkada. ‘’Pilgub tanpa SYL membuat drama politik tetap sarat makna, sarat ambisi dan sarat gengsi. Kompetisi nya pada segmen prosesi, dari tahap ke tahap akan benar-benar terasa. Tinggal bagaimana kepiawaian calon berikut tim dan mesin politiknya dapat membangun kerang tim yang strategis dan bangunan komunikasi politik yang efektif sepanjang tahapan proses berlangsung, keseluruhan ending-nya tentunya bermuara dalam kemampuan membujuk, mempropaganda, meyakinkan dan menarik simpati dukungan masyarakat.

Balon gubernur pengganti “Komandan” itu jika ingin sukses, maka tidak cukup hanya mengandalkan mesin partai, tidak hanya bertumpu pada ketokohan serta tidak bisa mengandalkan visi misinya semata, melainkan dibutuhkan tim yang solid dan kuat, memerlukan strategi jitu dan mumpuni, memenuhi pra syarat yang bias beradaptasi dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, agar memudahkan semua bangunan strategis itu mencapai sasaran utamanya, apalagi di era digital sekarang ini dimana media sosial sebagai jembatan komunikasi yang mau tidak mau akan menjadi salah satu pilihan medium strategi komunikasi baik komunikasi langsung antara kandidat calon gubernur dan rakyat, tim dengan rakyat maupun sifatnya komunikasi non-verbal lainnya, akan senantiasa merambah jalan media social (online) dalam menyapa dan berdialog dengan pemilik suara (voters). Komunikasi dua arah yang terbangun tersebut, akan menjadi sangat dinamis tentunya, dimana pasangan calon dapat mengemas program dan pencitraannya melalui social media, kemudian dalam waktu sekejap grassroot atau floor pun dapat melakukan feedback (umpan balik) sebagai efek dari media, lantaran masyarakat pengguna sosmed bukan hanya digandrungi oleh kaum urban, tetapi sudah hamper menjamah keseluruh pelosok-pelosok kampung. Media effect ini tidak bisa diabaikan bagi petarung di pilkada, para pekerja politik dituntut kejeliannya dalam memahami aspirasi masyarakat yang salah satunya harus melalui pemanfaatan media social, pasalnya efek media dipastikan akan berpengaruh terhadap upaya-upaya dalam memenangkan pertarungan di ajang pilkada. Termasuk di Sulsel nanti.

Kans Tokoh Nasional
Pada pemilihan gubernur Sulawesi Utara (sulut) Desember 2015 lalu, (mungkin) menjadi referensi bagi tokoh-tokoh nasional termasuk pilgub sul-sel tahun depan untuk turut serta dalam perang “antar kampug” yang bernama pilkada tersebut. Kondisi politik sul-ut sedikit banyaknya ada persamaan-persamaan mendasar pada tingkat peta kekuatan para balon-balon gubernur yang hendak bertarung. Di sulsel pun akan menjadi ajang pembuktian para kandidat-kandidat debutan untuk mengganti gubernur SYL. Seperti di sulut, penyelenggaraan pilkada gubernur sulsel yang juga tanpa petahana tersebut akan semakin seru, berlangsung sengit, dan dinamis.

Olly Dondokambey sebagai kandidat yang masuk kategori “pemain turun kasta” karena telah berkiprah di level nasional membuat kejutan-kejutan politik di punghujung tahapan pilgub sulut, pasangan Olly Dondokambey kemudian dinyatakan oleh KPUD setempat sebagai jawara pilkada dan berhak menjadi pemangku jabatan gubernur lima tahun mendatang setelah olly dondokambey mampu meraup suara jauh melampaui dua kandidat lainnya, Maya Rumantir-Gleny Kairupan (2) dan Benny Mamoto-David Bobihu (3). Kesuksesan Olly pada pemilihan gubernur di Tanah Sam Ratulangiitu, menjadi magnet sebagian tokoh-tokoh nasional untuk “bernafsu” mengadu nasib di kampungnya, seperti yang akan dihadapi oleh beberapa tokoh-tokoh senior yang malang-melintang di Jakarta ditengarai akan maju sebagai calon gubernur di daerahnya, tak terkecuali sosok politisi senior Partai Golkar NurdinHalid (NH) untuk pilgub 2018 di sulawesi selatan.

Hiruk pikuk pilgub Sulsel semakin menaikkan eskalasinya, setelah nama NH muncul di public sulsel yang semula hanya menjadi Plt Ketua Partai Golkar Sulsel, tetapi dalam perjalanannya, si “Jago” pun ternyata tergiur untuk berkontestasi pada pilgub dan memulai menggerakkan mesin partainya untuk mensosialisasi dan membangun pencitraan politik atas dirinya. NH yang mempopulerkan Sulsel Baru tampak akan menjadi lawan tanding sepadan bagi para kandidat-kandidat sebelumnya yang lebih awal mensosialisasikan diri maju di pilgub, pria kelahiran watampone itu akan menantang tokoh-tokoh lokal yang sudah populer sebagai balon gubernur seperti pemilik tagline Sulsel Bagus, Agus Arifin Nu’mang (AAN), Punggawa untuk IchsanYasinLimpo (IYL), Nurdin Abdullah (NA) hadir dengan SejatiNA, Burhanuddin Andi (BUR) dengan Tekad Sulsel Amandan Nyaman, serta Bro Rivai Raas (RAS). Paling tidak nama-nama tersebut yang telah dikenal masyarakat sebagai bakal calon gubernur dan telah melakukan berbagai macam bentuk komunikasi dan program politik, jauh sebelum NH nyatakan keseriusannya beradu kekuatan di pilgubSulsel.

Fenomena NH dan Olly
Sosok NH dan Olly sama-sama merupakan tokoh kontroversial, keduanya memiliki “catatan hidup” yang dinamis dan sangat berliku, baik NH maupun Olly memulai kariernya dari bawah hingga menasbihkan dirinya sebagai tokoh papan atas. Kiprah NH dan Olly di pentas nasional tidak diragukan lagi, berbagai jenjang karier bagi keduanya, terutama NH telah di capai dan membuat dirinya semakin matang dan berpengalaman di berbagai bidang kehidupan, NH telah sampai kepuncak bersama PSSI, mampu menembus pusaran kekuasaan orde baru melalui KUD dan PUSKUD, telah melenggang ke Senayan sebagai Anggota DPR RI 2004-2009, dan kini telah menjadi Ketua Harian DPP Partai Golkar.

Adalah sesuatu yang menjadi pertanyaan kehadiran NH sebagai calon gubernur, sebab sikap NH tersebut dinilai akan menurunkan kredibilitasnya sebagai figure nasional jika kembali ke daerah dan bertarung dengan putra-putra sedaerahnya yang lebih focus dan lebih dekat dengan masyarakat, setidaknya NH memang juga memulaikarirnya dari Sulsel, tetapi dalam kurun waktu lumayan lama, NH tentu kehilangan berbagai momentum untuk lebih dekat dengan warga Sulsel, setelah NH lebih sibuk di Ibukota maka peluang untuk memperoleh dukungan mayoritas tentu kalah selangkah dengan kandidat lainnya.

NH harus menjadikan ajang pilgub Sulsel sebagai pertarungan Hidup-Mati tentunya, sosoknya yang tidak bisa dipisahkan dari nama besarnya yang telah melekat di beberapa tempat strategis secara nasional, artinya bahwa NH akan bertarung untuk menang demi menjaga reputasinya sebagai tokoh sentral partai golkar dan figure nasional yang terbilang sukses. NH tentu tidak ingin nama besarnya rubuh seketika seiring dengan ketidak-dikdayaannya kelak di panggung politik lokal. Akankah NH akan bernasib mujur di pilgub Sulsel seperti mujurnya nasib Olly Dondokambey di pilgub Sulut?

Peluang NH
Siapa pun pasti tidak akan berani memberikan jawaban, apakah NH akan semujur Olly Dondokambey di Sulut itu, namun semua orang pun bias memberikan gambaran-gambaran, melakukan pemetaan dan pembacaan terhadap arah kecenderungan masyarakat akan memilih kandidat nya pada pemilihan gubernur setahun kemudian. Yang pasti, setiap orang (kecuali tim sukses) akan mengatakan bahwa semua akan memiliki peluang sama, sama-sama berpeluang menang dan sama-sama berpotensi kalah. Termasuk NH, peluangnya untuk memenangi pilgub tetap terbuka lebar, dengan asumsi bahwa pertama pemilihan kali ini tidak ada figure sentral yang menjadi momok menakutkan yang bernama Incumbent, kans NH menduduki jabatan gubernur masih ada. Kedua, NH dengan memanfaatkan dan mengelola jaringan nasional nya untuk berada dalam satu rumah dan berkolaborasi dengan jaringan lokal di setiap daerah menjadi modal penting untuk membangun tim petarung yang kokoh. Ketiga, jalan NH menuju white house dapat terwujud jika ia mampu mengorganisir dengan baik dan solid Partai Golkar, memaksimalkan struktur golkar hingga pada tingkat desa, akan efektif dan menjadi nilai tambah untuk kemenangannya.

Terakhir, NH sedikit pun tidak boleh lengah terutama dituntut agar benar-benar membuat “pagar betis” yang tangguh untuk membentengi kader-kader partainya dari tindakan indisipliner dan tidak taat aturan. Banyak factor yang dapat diselidiki terkait hal itu, bahwa yang akan menjadi lawan tanding NH kelak adalah mayoritas pernah memiliki hubungan “darah” dengan golkar, memiliki hubungan kekerabatan dengan golkar dan bahkan banyak yang menjadi pejabat di daerah-daerah karena jasa orang-orang golkar yang kemungkinan tidak lagi sreg berlindung di bawah rindangnya pohon beringin.

Musuh nyata NH tampaknya kebanyakan berasal dan pernah mengibarkan panji-panji beringin dan sekarang telah loncat pagar, “eksodus” dan “Baper”. Dari sekian banyak bekas asuhan golkar yang terang akan berbalik melawan golkar, mereka yang pernah bernaung pada rindangnya pohon beringin yang memang memiliki karakter secara nyata ingin menggembosi golkar, tetapi selebihnya setelah tidak lagi menjadi bagian di internal golkar terlihat beringas ingin menyeruduk, mematahkan dan bahkan merobohkan golkar, yang notabene tempat dimana mereka pernah menikmati kekuasaan. wallahu a’lam bissawwab.

Jakarta, 27 Februari 2017

Abdul Azis Udin. Wakil Ketua DPD KNPI Prov. Sulawesi-Selatan.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!