Opini

Membaca Pesta Kembang Balai Kota

 

Oleh : Iswandi Syahputra*

OPINI, EDUNEWS.ID – Saat kalah tipis dalam Pilkada DKI 2012, pendukung Foke tidak sampai pamer massa dan pesta kembang. Walaupun Foke sanggup membayar massa untuk itu. Demikian juga pendukung Prabowo saat kalah tipis dalam Pilpres 2014. Walaupun Foke sanggup membayar massa untuk itu. Apa artinya?

Ini menunjukkan bahwa demokrasi selalu menyisahkan kalah dan menang dalam sebuah kompetisi politik. Tapi tetap mengajarkan menerima kekalahan politik untuk menjadi pelajaran pada kompetisi berikutnya.

Saat pendukung Foke dan Probowo kalah, mereka memilih menerima atau menempuh jalur hukum yang tersedia daripada aksi demonstrasi atau aksi simpati. Mengapa mereka menerima hasil Pilkada 2012 atau Pilpres 2014? Itu karena bukan sistem politiknya yang baik, tapi karena pemilihnya yang rasional.

Menerima kekalahan dalam suatu pemilu yang demokratis sama terhormatnya dengan menang dalam suatu pemilu yang demokratis. Rasionalitas publik menjadi konsep penting untuk menghidupkan demokrasi rasional, bukan demokrasi emosional yang selalu ditampilkan layaknya telenovela.

Baca juga :  Pilkada, Incumbent dan Dinasti Politik

Namun hal serupa tidak terjadi pada pendukung Ahok yang kalah pada Pilkada DKI 2017. Kekalahan dalam satu kompetisi pilkada tersebut agaknya belum dapat diterima dengan legowo. Sehingga berbagai memori emosional harus dibangkitkan agar perasaan ‘merasa menang’ tetap terawat. Setidaknya perasaan menang itu adalah aset yang diciptakan untuk kompetisi Ahok berikutnya, entah kapan, entah dimana. Entahlah.

Sehingga pesta kembang di Balai Kota untuk Ahok setidaknya menunjukkan 2 hal, yaitu pertama, pendukung Ahok  masih berada pada level pemilih emosional bukan pemilih rasional. Pemilih jenis ini akan sulit move on dan selalu mencari-cari kelemahan pemenang. Ini tidak baik bagi pertumbuhan demokrasi yang sehat.

Demokrasi akan menjadi legitimasi bagi seluruh tindakan emosional. Sehingga menjadi demokrasi emosional namanya. Mungkin pendukung Ahok tidak sadar ini mengancam demokrasi yang sehat karena mereka lakukan dengan gembira bahkan mungkin karena dibayar.

Baca juga :  Bukan Sekedar Peci

Kedua, pesta kembang di Balai Kota menunjukkan lingkar dalam tim sukses Ahok masih suka   dengan modus playing victim. Ahok adalah korban, dari dulu selalu begitu. Sayangnya dari dulu kebanyakan publik tidak percaya karena modus ini penuh tipu daya.

Masih kuat dalam ingatan publik tentang 1 juta KTP dukung Ahok. Belakangan diketahui atau diakui modus itu penuh dengan tipu daya. Kesan massif sengaja dimunculkan untuk menuai makna wow.

Wow effect ini tujuan yang diinginkan agar pihak yang tidak bersimpati pada Ahok menciut nyalinya, pihak yang ragu jadi mendukung Ahok, pihak yang mendukung tapi terpukul dengan kekalahan Ahok menjadi bangkit percaya dirinya. Untuk apa, bukankah Pilkada sudah selesai?

Pertanyaan ini akan membawa kita pada spekulasi politik besar. Seorang teman memberi istilah ‘Ahok seperti wayang kulit yang dipegang Dalang. Jika pegangan pada wayang patah, pertunjukkan bisa bubar. Jika pertunjukkan bubar, penghasilan berkurang. Dalang juga bisa kekurangan pendapatan’.

Baca juga :  Desa Aketobatu dan Inovasi Akuntabilitas

Ini tidak lebih dari game yang mendudukan dengan jelas siapa dalang, siapa wayang, siapa penonton, siapa penjual tiket, siapa preman penjaga loket hingga siapa tukang jaga parkir dan siapa calo yang suka berkoar-koar.

Saya kemudian melihat, kondisi ini seperti yang dibayangkan oleh Jean Baudrillard sebagai hiper-realitas. Suatu kondisi realias bentukan hasil simulasi berulang-ulang untuk menggiring khalayak masuk pada simulakra kepalsuan. Semuanya palsu, agar terlihat asli harus dibuat natural, masif dan berulang-ulang. Pada bagian akhir tesisnya tentang simulakra, dengan pesimis Baudrillard berujar ‘Hanya kematian yang bisa menyelamatkan orang dari perangkap simulakra’.

Maka tidak heran berbagai keganjilan atau pandangan kritis terhadap permainan tanda ini akan diserang beramai-ramai. Sebab, sulit untuk keluar move on dari perangkap simulakra itu.

Sehingga, bersyukurlah jika Anda tidak pernah masuk dalam perangkap simulakra yang membentuk realitas palsu itu. Itu artinya Anda masih memiliki akal sehat.

Dr Iswandi Syahputra, Akademisi

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com