Literasi

Menara Babel, Heterofobia dan Perayaan Perbedaan`

OPINI, EDUNEWS.ID – Inilah kisah —yang tertimbun debu mitis ribuan tahun— ikhwal dimana segenap perseteruan manusia berakar: Menara Babel. Legenda ini bermula dari bumi yang tunggal: satu bangsa, satu bahasa, satu tradisi, satu keyakinan, dan satu logat. Lalu bangsa itu dikepung hasrat membangun kota dengan menara yang menjulang ke langit. Tapi sebelum pucuk menara mengerkah langit, Tuhan merontokkannya. Bangsa dan kota itu pun menjelma jadi puing.

Di sana Tuhan menyerakkan dan memorak-porandakan manusia dan bahasa mereka, ke seluruh sudut bumi. Sejak itu, manusia mesti berjuang sekadar untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Di sini ada jejak yang tersisa: Yang Abadi saling membelah dengan bumi yang guyah. Dan “perbedaan” menjadi penyaksi kehadiran manusia.

Perbedaan, selalu hadir sebagai tanda dan peneguhan tentang yang liyan. Manusia  tiba-tiba terperangkap dan menemukan tubuhnya dalam selubung kode yang pejal: etnik, ras, agama, bahasa, tradisi, jenis rambut, warna kulit, lifestyle, visi politik, profesi, dan sejarah. Di titik ini manusia disergap heterofobia: rasa takut-getir ketika bertemu “orang lain” yang berbeda dengan dirinya. Sejak itu manusia butuh identitas sebagai pembeda.

Setidaknya, ada tiga agensi yang berlomba menekuk eksistensi dan memroduksi kode-kode baru pada aneka warna kehidupan manusia :  para penafsir, negara, dan bisnis.

Baca juga :  Laylat al-Qadr

Agensi pertama: para penafsir. Filsuf dan ilmuwan adalah penafsir-penafsir “realitas” yang membentang pada sekujur tata kosmik, tubuh, dan Tuhan. Kehadiran “yang lain” dalam ruang hidup bersesama menjadi tantangan bagi ilmu pengetahuan yang berambisi menertibkan kehidupan dalam kantong-kantong kategori yang rapi. Sejumlah studi yang dipersembahkan para ilmuwan menegaskan hal ini.

Sebutlah, Charles H. Smith, The Natural History of the Human Species (1848), mengandaikan pertautan struktur anatomi dan kultur yang membentuk perilaku seseorang. Charles Darwin, On the Origin of Species by Means of Natural Selection (1859), menekankan varian biologis pada kelangsungan makhluk hidup —termasuk  manusia— yang bertumpu pada dua hal: “seleksi alam” dan “yang kuat yang hidup”.

Dua konsep inti tersebut, menjadi inspirasi apa yang dikenal kelak sebagai “Darwinisme sosial” yang mengusung suatu rekayasa sosial atas dasar paham superioritas-inferioritas dari satu ras atas ras yang lain. Inilah yang disebut eugenesis: masyarakat musti memilih salah satu, membantu rasa-ras inferior lalu menghambat ras-ras superior, atau mendorong perkembangan ras-ras superior dengan menampik rasa-ras inferior. Di sini, batasan tentang “kita” dan “mereka” sebagai yang liyan,  kian tegas. Dan penyingkiran terhadap “yang lain” pun mengalir lirih dalam anak sungai sejarah.

Baca juga :  Bahaya Pengakuan Jerusalem sebagai Ibukota Israel

Agensi kedua: negara. Sebagai organisasi modern, negara adalah institusi padat-kuasa yang hampir merengkuh setiap orang dalam tata waktu-ruang. Jejaknya  bisa dijumpai, misalnya pada KTP. Waktu-ruang setiap warga negara dapat diatur oleh negara cukup dengan “mengendalikan” informasi yang ada di KTP itu.  Pengendalian waktu-ruang oleh negara juga bisa berbentuk segregasi. Misalnya, pada “mendiang” praktik politik  apartheid  di Afrika Selatan, berhasil memisahkan orang kulit putih dan kulit hitam sejak lahir hingga kematiannya.

Tapi negara juga punya semacam cetak biru masyarakat yang ideal. Cetak biru paling heboh sejagat mungkin adalah imaginasi  The Third Reich, Seribu Tahun Nazi Jerman. Mereka mendabik dada sebagai bangsa terbaik dari ras mulia Aria. Setiap yang menghalangi cahaya keagungan Arya-Jerman musti dimusnahkan. Dan bangsa Yahudi, menurut rexim Nazi, adalah bangsa sial yang mutlak dilenyapkan. Maka gerakan genosida atas orang-orang Yahudi pun berlangsung. Holocaust, menjadi jejak merah dalam sejarah.

Agensi ketiga: bisnis. Kehadiran kekuasaan bisnis, terlebih bisnis trans-nasional, telah menjadi gurita baru dalam kehidupan kontemporer kita. Siapa pun yang bersentuhan dengan orang jamak —termasuk dalam bisnis— akan menyadari kutukan Menara Babel sejak keruntuhannya, yakni perbedaan. Pesannya jelas: di tangan bisnis, misalnya perbedaan dan persaingan saling berjumpa di atas piring, di lobi-lobi hotel, atau di baliho-baliho iklan.

Baca juga :  Ekuilibrium

Gejala ini disebut Stanley Fish (1996) sebagai boutique multiculturalism. Perbedaan dirayakan dalam tema-tema fashion, festival pekan raya, dan restoran etnik.  Tapi perbedaan itu “disatukan” dalam kegiatan memilih model dan hasrat masing-masing persona.

Ilmu pengetahuan, juga negara yang pernah tegak perkasa, kini lemas di hadapan kekuatan modal. Institusi-institusi publik yang mestinya menjaga telos atau cita-hidup bersama, telah dirampas kekuasaan bisnis. Hidup bersama pun bergulir liar tanpa haluan telos itu. Hasrat untuk menegaskan “perbedaan” lalu jadi paradigma dominan.

Paras kehidupan kita kini pun terbelah: mulai dari ormas-ormas, partai politik, organisasi pemuda, gaya hidup, hingga parlemen kita memperlihatkan “wajah ganda” meski yang terakhir ini berujung pada drama “bagi-bagi kursi” Alat Kelengkapan Dewan. Sebuah permakluman identitas atau perayaan perbedaan? Jangan-jangan kutukan Menara Babel kian memperlihatkan gairahnya.

 

Dr. Mohd. Sabri AR, MA., Ketua Program Studi Ekonomi Syariah, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!