Opini

Mengapa Pak Presiden ?

Oleh : Bob Hasan, SH, MH*

OPINI, EDUNEWS.ID – Sedari awal, dimulai tanggal 4 November kemarin dan dengan adanya isu sebelum tanggal 4 tersebut, Presiden Jokowi terlihat tidak seperti biasanya. Ada apa dengan Jokowi ?

Kita hari ingat, dibalik suasana kebathinan seorang Presiden yang merupakan pilihan rakyat tahun 2014 itu, telah mengalami kehilangan sikap down to earth-nya. Hal ini tidak lebih dikarenakan cara berpikir politiknya telah berubah setelah menjadi Presiden yang tidak berdasarkan kekuatan sebuah partai politik, tidak tergantung elite politik.

Sebuah kekuatan kepemimpinan baru yang tidak terkoptasi oleh mahzab politik pragmatis. Karena memang ketika Ia terpilih dan menjalankan roda pemerintahannya, eskalasi dan resistensi untuk masuk dalam alam politik praktis sangat mempengaruhi kebathinan hingga merubah jatidiri yang sebelumnya penuh percaya diri.

Baca juga :  Perbedaan Dalam Kesatuan, Mensikapi Tragedi Kemanusiaan Rohingnya

Jelas, sikap seorang pemimpin yang memiliki dasar leadership yang kuat dan ‘seadanya’paling penting untuk rakyat dan rakyat sebagai implementasinya telah hilang dan lenyap dimakan oleh ambisi yang menimbulkan rasa khawatir berlebihan.

Taukah anda? Seorang bayi yang tidak akan takut menyentuh apai karena hal itu didasari ketulusan sehingga suatu hari jika tidak menyentuhnya lagi hal itu dikarenakan sudah mengetahui efeknya. Disini terlihat ketulusan seorang Presiden masih perlu pengujian lagi. Tindakan yang begitu skeptis atas kejadian sebelum dan sesudah demonstrasi 4 November lalu sangat tidak menunjukkan sesuatu yang proporsional yang mengarah pada ketidak profesionalan.

Seandainya seperti bayi (tulus) atau kembali pada jati dirinya, tidak ada salahnya sebelum demonstrasi 4 November, Presiden melakukan blusukannya dan pada hari H 4 November mengantarkan diri untuk menghadapi rakyatnya yang pada saat itu sedang ‘blusukan’ ke Istana Presiden. Bukan menghindari rakyat dan melakukan kunjungan kerja karena itu merupakan tugas dari seorang Menteri bahkan sekelas Dirjen.

Baca juga :  Ahok, Kanker NKRI
Advertisement

Jelang penyelesaian kasus penistaan agama, selalu saja dikemeluti oleh rasa takut dan khawatir yang tidak tulus bahkan lebih melakukan show off force selaku panglima tertinggi dan mencoba melakukan counter untuk melihat kekuatan ‘Laskar NKRI’ jelang rencana demonstrasi tanggal 25 November dan jikalau benar, Jokowi telah kehiangan titik momentum.

Apa salahnya bilamana keadilan bagi umat Islam dan rakyat Indonesia dikedepankan ? Bukankah hal ini yang menjadi obyek peristiwa yaitu keadilan hukum ? Sebagai tujuan negara hukum atau Rechtstaat sesuai dengan pasal 1 UUU 1945 untuk lebih mengedepankan dibandingkan kekuasaan (Polotik atau Macht staat) ?

Ada apa disekitarmu Mr Presindent? Atau ini memang jati dirimu yang sebenarnya? Aapa kekhawatiranmu atas Ahok, jika saja tidak membela terlalu mendalam bukankah tidak akan timbul pemikiran politic trackling? Dan pastinya kalaupun ada penunggangan akan lenyap dengan sendirinya dan rakyat akan mengetahuinya. Taukan anda? Justru kecurigaan atas penunggangan politik terhadap kejadian ini sangatlah tidak beralasan dan justru anda telah memasuki area yang telah dipersiapkan oleh penunggang politik yang lain.

 

Bob Hasan, SH, MHSekretaris Jenderal DPP Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (DPP ARUN), Praktisi Hukum

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com