Literasi

Mentalitas Tauhid dan Kepemimpinan Nasional

Jawaban Islam dalam mengatasi krisis kepemimpinan nasional yang berkepanjangan. Studi Keberhasilan Sultan Nuku dalam memimpin masyarakat multi budaya pada akhir abad ke-18

Oleh: Darmawijaya*

OPINI, EDUNEWS.ID – Indonesia merupakan negara kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas sampai Pulau Rote. Sebagai negara kepulauan, Indonesia merupakan negara yang multi budaya. Setiap budaya memiliki sejarah dan karakternya masing-masing. Membangun negara yang terbentuk dari masyarakat multi budaya bukanlah  sebuah pekerjaan yang mudah, semudah memutar-mutar lidah dalam beretorika atau semudah membalikkan telapak tangan.

Kepemimpin masyarakat multi budaya adalah kepemimpinan yang rumit dan sulit yang sangat membutuhkan kelurusan hati dan pikiran, serta pengorbanan energi yang luar biasa supaya masyarakat multi budaya bisa terhindar dari kepemimpinan yang serampangan dan kepemimpinan yang otoriter,dua model kepemimpinan yang cenderung melahirkan tatanan masyarakat yang bermasalah.

Supaya kepemimpinan tidak jatuh pada kepemimpinan yang serampangan dan kepemimpinan yang otoriter, maka kehadiran pemimpin yang memiliki  kemampuan mentalitas lintas budaya yang mumpuni  merupakan sebuah kebutuhan pokok bagi negara Indonesia.  Pemimpin yang memiliki mentalitas lintas budaya yang mumpuni adalah kepemimpinan yang  mampu memahami berbagai karakter masyarakat Indonesia yang terbentuk dari berbagai bentuk budaya.

Out put dari mentalitas kepemimpinan lintas budaya adalah lahirnya para pemimpin  nasional yang  mampu membuat sebuah kebijakan yang adil dan manusiawi sebagai kebijakan  perekat (penyatu) di antara kekuatan budaya yang ada sehingga mampu mengurangi konflik-konflik yang tidak perlu dalam upaya membangun negara Indonesia yang lebih bahagia, sejahtera dan berkemajuan di masa yang akan datang.

Sejarah adalah gudang informasi, karena sejarah menyimpan seluruh informasi yang pernah dilakukan oleh manusia di masa lalu. Sejarah adalah guru terbaik bagi manusia yang hidup di hari ini.  Manusia hari ini harus berguru pada sejarah sebagai guru terbaik mereka agar manusia hari ini tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dengan keslahan yang pernah ada di masa lalu.

Jika sejarah memberikan informasi negatif, maka tugas kita hari ini adalah bagaimana mengolah informasi negatif  tersebut menjadi informasi positip  untuk melahirkan perilaku positip pada hari ini dan di masa yang akan datang. Jika sejarah memberikan informasi positip, maka tugas kita hari ini adalah bagaimana mengolah dan mengembangkan informasi positip agar informasi positip itu semakin berkembang  untuk menambah kebahagiaan, kesejahteraan dan kemajuan kita di hari ini dan generasi kita di masa yang akan datang.

Sultan Nuku adalah pahlawan nasional dari kawasan Maluku Utara. Sultan Nuku diangkat menjadi Pahlawan Nasional, karena Sultan Nuku telah berjuang membela tanah air Indonesia dari kaum penjajah. Bila dibandingkan dengan Pahlawanan Nasional lainnya, Mentalitas Kepemimpinan Sultan Nuku amat menarik untuk diamati, karena kepemimpinan Sultan Nuku merupakan sebuah kepemimpinan yang sangat positip di masa lalu.

Dalam konteks informasi, maka informasi Kepemimpinan Sultan Nuku merupakan informasi sejarah yang positip. Jika demikian adanya, maka informasi Kepemimpinan Sultan Nuku   sangat relevan untuk dikembangkan dalam menjawab  masalah krisis kepemimpinan  nasional yang berkepanjangan.

Sejak Indonesia merdeka, sampai saat ini, rakyat  Indonesia yang terbentuk dari masyarakat multi budaya  belum menikmati kepemimpinan yang mampu memberikan rasa keadilan dan kemanusiaan.  Inilah yang membuat kepemimpinan Indonesia selalu berpotensi melahirkan kebijakan-kebijakan yang cenderung memicu terjadinya konflik sosial di kalangan masyarakat Indonesia yang hidup dengan multi budaya.

Kawasan Maluku Utara sudah lama dikenal sebagai kawasan multi budaya. Pada akhir abad ke-18, di kawasan ini lahirlah seorang pemimpin yang mampu mengolah  realitas masyarakat Maluku Utara yang multi budaya menjadi sebuah kekuatan yang tangguh dan solid untuk membebaskan wilayah kawasan Maluku Utara dari dominasi kaum kolonial Eropa. Sultan Nuku adalah pemimpin yang penulis maksud.

Sultan Nuku berhasil membangun kepemimpinan lintas budaya di Kawasan Maluku Utara dan Papua dan kemudian Sultan Nuku mampu mengolah kepemimpinan lintas budaya itu menjadi kekuatan yang kuat dan solid untuk membebaskan Kesultanan Tidore yang sudah didominasi oleh kaum kolonial Eropa.

Sejarah mencatat, Sultan Nuku memang berhasil mengolah kekuatan lintas budaya di Kawasan Maluku Utara – Papua menjadi sebuah kekuatan yang kuat dan solid. Kekuatan dan soliditas kepemimpinan Sultan Nuku itu dibuktikan dengan keberhasilan Sultan Nuku membebaskan Soa-Sio, Ibu Kota Kesultanan Tidore dari  dominasi kaum kolonial tanpa pertumpahan darah.  Sultan Nuku   berhasil pula membangun Kesultan Tidore meraih masa keemasannya di tengah-tengah didominasi kaum kolonial Eropa.

Sejarah mencatat, Sultan Nuku berhasil mengawal masa keemasan Kesultan Tidore  sampai ia wafat pada 14 November  1805.

 

Mentalitas Tauhid: Rahasia Keberhasilan Sultan Nuku Dalam Memimpin Masyarakat Multi Budaya Pada Akhir Abad ke-18 di Kawasan Maluku Utara.

Apa rahasia dari keberhasilan dari kepemimpinan Sultan Nuku dalam mengolah realitas masyarakat Maluku Utara yang multi budaya? Sejauh sumber sejarah yang sempat penulis baca tentang kehadiran kaum kolonial Eropa di Kawasan Asia Tenggara, Sultan Nuku merupakan satu-satunya Sultan di wilayah Asia Tenggara yang berhasil dengan gilang gemilang dalam mempermalukan kaum kolonial di kawasab Asia Tenggara.

Sultan Nuku tidak hanya mempermalukan kaum Kolonial, namun Sultan Nuku mampu menghadirkan sebuah cita rasa kepemimpinan yang begitu positip bagi rakyat multi budaya yang hidup di kawasan Maluku Utara pada akhir abad ke-18.

Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang ada, maka dapat disimpulkan, bahwa rahasia terbesar atas keberhasikan kepemimpinan Sultan Nuku  dalam  mengolah realitas masyarakat Maluku Utara-Papua yang multi budaya tidak bisa dilepaskan dari peran  “mentalitas tauhid”  yang begitu kuat di dalam pikirannnya.

Secara konseptual dan studi perbandingan realitas pergerakan dan kepemimpinan, bahwa “Mentalitas tauhid” adalah mentalitas pembebasan yang sempurna, arif  lagi bijakasana. Realiatas sejarah membuktikan, bahwa manusia-manusia yang memiliki Mentalitas Tauhid yang kuat dan baik, maka kepemimpinan mereka memang berhasil melahirkan kepemimpinan yang membebaskan, arif dan bijaksana.

Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu contoh terbaik dalam hal ini. Umar bin Abdul Aziz hanya sempat memerintah dalam waktu yang singkat, yaitu 2 ½ tahun (30 bulan), namun dalam waktu yang singkat itu, Umar bin Abdul Aziz berhasil melahirkan kepemimpinan yang membebaskan, arif lagi bijaksana. Apa rahasianya? Rahasinya adalah karena Umar bin Abdul Aziz memiliki mentalitas tauhid yang kuat dan baik.

Secara konseptual, Mentalitas Tauhid adalah mentalitas yang diinginkan oleh Allah untuk seluruh manusia. Tujuannya apa? Tujuannya adalah agar setiap manusia mampu ambil bagian untuk melahirkan kepemimpian yang membebaskan, arif dan bijaksana secara global.  Mengapa harus demikian? Jawabannya adalah karena kepemimpinan membebaskan, arif dan bijaksana  inilah yang mampu melahirkan tatanan masyarakat yang bahagia, sejahtera dan berkemajuan yang dinikmati secara bersama-sama secara adil dan manusiawi.

Itulah yang membuat Allah memilih manusia-manusia unggul dalam sejarah untuk menjadi nabi. Mereka yang dipilih menjadi nabi adalah manusia-manusia unggul yang memiliki Mentalitas Tauhid yang kuat dan baik. Manusia-manusia unggul seperti   inilah yang layak untuk memimpin masyarakat moderen yang hidup dengan multi budaya, bukan mentalitas sekuler dan marxis.

Sebagai perbandingan, mari kita dalami mentalitas kepemimpinan nasional Indonesia sejak Indonesia merdeka sampai hari ini. Setelah kita bandingkan, maka kita akan lebih paham, mengapa negara Indonesia yang begitu kaya dengan sumber daya alamnya ini, namun sebagian besar kaum pribuminya hidup menderita dan miskin yang berkepanjangan.

Jawabannya adalah karena kepemimpinan nasional kita belum memiliki mentalitas tauhid yang kuat dan baik. Bagi mereka yang memiliki mentalitas tauhid yang kuat dan baik selalu tersingkirkan, karena begitu kuatnya dominasi mentalitas sekuler dan marxis dalam kehidupan manusia moderen. Mari kembangkan Mentalitas Tauhid untuk hari ini dan masa depan  bersama yang lebih baik. Aamiin.

Darmawijaya, S.S. M.Si. Dosen Ilmu Sejarah Pada Universitas Khairun Ternate & Direktur Lembaga Study Ilmu Peradaban Islam (LSIPI).

Tulisan ini berjudul asli: Mentalitas Tauhid & Keberhasilan Sultan Nuku Dalam Memimpin Masyarakat Multi Budaya Pada Akhir Abad ke-18 (Jawaban Islam Dalam Mengatasi Krisis Kepemmimpinan Nasional yang Berkepanjangan)

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!