Literasi

Menyemai Pilu di Bulan Januari

Masihkah Kita Mendakui Akal Sehat?

Oleh: Feby Triadi*

OPINI, EDUNEWS.ID – Awal tahun adalah sambutan atas akhir tahun yang akan usang ditelan waktu, 2017 masih menyisahkan seuntai misteri. Serasa mistik, namun dibalut dengan hal-hal apik. Laku politik, sosial dan budaya berjalan beriringan tanpa menyisakan jeda. Semuanya hampir dilumat habis oleh mulut-mulut yang kian hari kian cerewet. Narasai dibangun tanpa pemilik, seolah bebas. Namun nampak kotor, berbekas meninggalkan keluh.

Masih terngiang jelas tentang penyakit disebabkan oleh pemakaian terompet secara bergantian, penyakit yang marak diperbincangkan adalah difteri, konon kataya dapat menular melalui berbagai benda yang telah digunakan oleh penderita penyakit ini. Nampaknya kotor dan menjijikkan. Jangan-jangan isu ini sengaja digulingkan untuk melihat seberapa selektifnya kita dalam memainkan informasi, atau sedang dilakukan survei atas seberapa besar pengaruh isu berbau kesehatan untuk masyarakat Indonesia.

Kita berbondong-bondong saling mengingatkan tentang penyakit ini. Hampir tidak menyisakan pembelaan bagi para pedagang yang menjajakan terompet. Sementara di lain pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara tegas memberikan penyadaran tentang ini, menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes RI, dr. Elizabeth Jane Soepardi dalam keterangan persnya telah menggaris bawahi, “Pada dasarnya seseorang yang telah diimunisasi secara lengkap, artinya memiliki kekebalan spesifik terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), salah satunya difteri,” ungkapnya.

Tak cukup waktu lama, dunia dalam jaringan digempur oleh pesan berantai yang cukup menimbulkan resah. Dimana pesan itu menafikkan sebuah pendakuan tentang akal sehat. Mereka beringas menyebarkan informasi, jiwa kemanusiaan terenggut oleh sebuah berita anti klimaks. Jangan salahkan laku media dengan ini, sebab mereka ditugaskan untuk membuat suatu terlihat eksotik. Salahkan nalar yang kau rawat dengan balutan titel.

Perempuan kelahiran Bandung yang juga lulusan Erasmus University ini menambahakan kalau perlu diadakan penelitian untuk dapat membuktikan apakah benar kuman difteri dapat menular dengan cepat dari semburan ujung terompet. “Penyebaran kuman difteri ini sangat mudah, bisa melalui bicara atau bersin yang tidak ditutup, bisa sejauh 7 meter. Tidak perlu bantuan terompet, ” itu tutur beliau yang disadur dalam sebuah media nasional.

Hal ini mengindikasikan jangan terlalu sadis membawa terompet dalam penyebaran penyakit ini. Sebab semuanya dapat terjadi, virus itu tidak serta merta ada pada terompet. Virus itu ada di dekatmu, sedang mengintai hidup yang kau jalani dengan menafikan nalar. Sekarang bagaimana dengan pencetus awal isu ini? Mungkin saja mereka telah ongkang kaki dengan data signifikan menurunnya penjualan terompet tahun baru 2017.

Atau mereka sedang menyusun siasah baru, untuk menggulirkan kembali sembari menggilir dari sisi mana dirinya mengolah isu. Sebuah ironi, katanya generasi yang dipenuhi oleh milenial-milenial emas Indonesia. Malah memilih untuk menampik kerja-kerja mantiq dalam mengolah informasi. Awal 2018 yang pilu!

Sudihkan dikau menyadari pilu yang dirasakan para penjajah terompet? Atau malah hatimu tertutup ego oleh aksi nalarmu? Dikau menyakiti mereka dengan pesan itu, maka terkutjklah engaku. Bukannya kebudayaan membentuk kita untuk selalu bertanya sebab dari sebuah kejadian, atau akar dari sebuah persoalan. Lidah-lidah lokal yang dimiliki membisu dengan isu kesehatan. Apa mungkin disebabkan karena kesehatan itu mahal, oleh anggapan mencegah lebih baik dari mengobati. Perlu ditinjau ulang!

Feby Triadi. Mahasiswa Prodi Antropologi pada Program Pascasarjana UGM. Staf Bidang Sosial Politik dan Otonomi Daerah Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Prov. Sulsel Masa Jihad 2014 – 2018.

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!