Literasi

Menyikapi Fenomena Guru Di Indonesia

Oleh: Andrie Wawan Ms. Husen*

OPINI, EDUNEWS.ID – Tak akan ada penindasan ekonomi, perampasan tanah, Kesenjangan Sosial dan masalah-masalah bangsa lainnya jikalau suatu Negara bisa memahami sejarahnya dan mau belajar dari masa lalu bangsanya serta menjadikan guru sebagai pahlawan suatu bangsa karena tanpa mereka kita tidak ada disini (ucap Kimani Ng’ang’a Maruge ketika diruangan rapat kementrian) dan sekali lagi tanpa mereka anda tidak akan ada dikursi itu, sekali lagi anda-anda tak akan memakai pakaian serapi itu.

Begitulah kritik Kimani Ng’ang’a Maruge kepada mentri pendidikan Republik Kenya dan peserta rapat pada saat itu. Siapakah Kimani Ng’ang’a Maruge?

Pernahkah kita mendengar “Kekuatan ada pada pena”? kalimat tersebut digemakanolehKimani Ng’ang’a Maruge pada saat berpidato di hadapan peserta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia meraih rekor dunia sebagai murid tertua(87 tahun)yang memulai untuk bersekolah.

Pria tua Asal republic Kenya tersebut memiliki keingginan yang kuat untuk mengenyam dunia pendidikan (belajar baca – tulis). Keingginan tersebut didorong dengan adanya surat dari presiden Republik Kenya untuk dirinya atas ucapan penghargaanpengorbanan ke-pahlawanan-nya dalam membebaskan Negara Kenyadari penjajahan Inggris.

Perjuangan Kimani Ng’ang’a Maruge berujung pada Penahanan dirinyapada tahun 1951 sampai dengan 1959 (Kamp. Belanda 1951 – 1953, Kamp. Langata 1953 – 1955, Kamp. Menyani 1953 – 1957 dan Kamp. Empakasi 1975 – 1959) oleh pihak colonial Inggris karena penolakannya yang kuat untuk memutuskan sumpah keyakinan(Ikrar Leluhur).

“Aku berjanji sumpah suci ini aku akan berjuang untuk tanah dan kebebasan ………….. jika aku melanggar sumpah ini biarkan sumpah ini membunuhku”

Dan perjuangan Kimani Ng’ang’a Maruge (salah seorang pemuda disaat itu) membuahkan hasil kemenangan dalam mengusir colonial Inggris (Konflik Suku Mau Mau dan Kolonial Inggris) namun pemberontakan tersebut menyisahkan masalah yang tidak terselesaikan salah satunya ialah kurangnya tenaga pendidik (guru) dalam memberikan pendidikan kepada anak di Kenya.

Baca juga :  Agenda Umat Islam Pasca-Aksi Bela Islam

Cita-cita Kimani Ng’ang’a Maruge untuk dapat membaca dan menulis terwujudkan dengan kehadiran seorang guru yang bernama Jane Obinchu (Gadis berusia 26 tahun) yang mengajarianak-anak desa di salah satu sekolah di Kenya.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Kimani Ng’ang’a Maruge harus berhadapan dengan masalah social lainnyan termasuk amarah orang tua wali para siswa-siswi lainya yang keberatan atas kehadirannya di sekolah tersebut (Karena ia dianggap sebagai suku MauMau).

Kepedulian Jane Obinchu melihat semangat Kimani Ng’ang’a Marugemengubah rasa takutnya (berhadapan dengan orang tua wali) menjadi suatu keberanianuntuk menjelaskan kepada orang tua wali atas keberadaan Kimani Ng’ang’a Maruge. Usaha Jane Obinchu terbayarkan ketika pada akhirnya Kimani Ng’ang’a Maruge diterima oleh semua pihak.

Atas kerja keras serta keinginannya untuk harus bisa membaca, orang tua yang berusia 87 tersebut menjadi sorotan dunia dan surat presiden Kenya yang ditujukan kepadanya diberikan kepada Jane Obinchu (untuk dibacakan) sebagai bentuk penghormatannya kepada Guru.

Kisah Kimani Ng’ang’a Marugeharuslah dibaca, didengar dan dipahami oleh orang tua wali terkait dengan fenomena guru di Indonesia yang akhir-akhir ini dihantui dengankejadian hukum yang hanya dikarenakan “Mencubit, Membentak bahkan menegur” anak disekolah yang mengakibatkan beberapa guru di Indonesia saat ini menjadi tersangka atas dugaan tindak kekerasan terhadap anak.

Baca juga :  Bahasa Universal

Sikap orang tua wali di Indonesia haruslah bijak dalam menanggapi pesan komunikasi anak (siswa-siswi) terkait permasalahan meraka (Anak dan Guru) dilingkungan sekolah, penulis tidak inggin mendalami atau mengajarkan kepada orang tua wali tentang kiat-kiat mendidik anak.

Jika kita bisa melihat pada skala yang lebih luas lagi bahwa Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan tidak terlepas dari peranan guru karena kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa yang lebih baik akan bisa capai jikalau Negara bisa menempatkan guru-guruuntuk mendidik generasi dalam rangka mempersiapkan kemajuan bangsa tersebut.

Dewasa ini, melihat perkembangan fenomena sikap orang tua wali juga tidak bisa dipisahkan dengan proses penegakan hukum dilingkungan pendidikan. Artinya, dalam menjamin peningkatan mutu guru dan akuntabilitas pendidikan di Indonesia dalam menghadapi tantangan global idealnya penegak hukum juga mampu melihat kasus per kasus dengan tidak menggunakan “Kaca Mata Kuda” dalam menetapkan status hukum kepada guru yang hanya “Mencubit, Membentak bahkan menegur” anak di lingkungan sekolah dengan alasan tertentu.

Jikalau pula kita  menyelami makna pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang dirumuskan oleh pendiri bangsa iniyang menegaskan, “Untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, Mencerdaskan Kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia….” maka kita sebagai warga yang baik (semua pihak)harus bisa memisahkan pelanggaran atau kejahatan guru kepada anak dan ketegasan atau perhatian guru kepada anak.

Baca juga :  UI Termasuk Universitas Terbaik di Asia Tahun 2016 Versi Times Higher Education

Atas dasar keprihatinan terhadap fenomenal guru di Indonesia maka seharusnya hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengembalikan kemulia-an sosok guru dalam mendidik serta mencerdaskan anak bangsa agar di hari esok tak akan ada lagi penindasan manusia atas manusia, tak akanada lagi sekatan social yang mengakibatkan kesenjangan, tak akan lagi penjajahan ekonomi terhadap kaum marginal dan meraka(anak saat ini)akan hidup damai serta saling bergotong royong dalam memajukan bangsa ini.

Tidak perlu adanya tambahan regulasi terkait dengan fenomena ini, tak perlu juga adanya strategi khusus dari lembaga yang terkait hingga menggelontorkan anggaran negara untuk menyelesaikan masalah guru di Indonesia cukup dengan mengembalikan kemulia-an sosok guru dan membebaskan beberapa guru yang telah ditahan (penjara) serta menyelesaikan kasus per kasus (pemidanaan Guru) secara kekeluargaan.

Tulisan ini dipersembahan atas terbentuknya Konsorsium Peduli Pendidikan di Sulawesi Tengah yang berkeinginan untuk mengembalikan kemulia-an sosok guru di Indonesia dengan mengkampanyekan hastag #AkuCintaGuru sebagai langkah untuk mendorong kembali semangat para guru yang akhir-akhir ini dihantui oleh fenomena hukum di Lingkungan pendidikan (Sekolah).

***Tulisan ini dikembangkan dari film berjudul The First Grader yang dirilis oleh BBC Films (yang mengangkat kisah nyata Kimani Ng’ang’a Maruge 1920 – 2009)dengan melihat fenomena guru di Indonesia.

Andrie Wawan Ms. Husen, Direktur Umum Lembaga Invesitasi dan Advokasi Rakyat dan Peserta Konsorsium Peduli Pendidikan Sulawesi Tengah

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!