Kampus

Mudah Menjadi Ilmuwan, Tapi Tak Mudah Menjadi Cendekiawan

Oleh: Muhammad Syahid*

OPINI, EDUNEWS.ID – Ilmu pengetahuan barat akan mudah mengantarkan kita menjadi seorang yang profesional, menjadi spesialis di bidang tertentu semisal spesialis ahli mata kambing jantan, atau spesialis anggrek bulan warna ungu. Namun ilmu pengetahuan barat tidak mampu menuntun kita memahami persoalan-persoalan dalam kehidupan, apalagi menuntun kita pada kebijaksanaan.

Positivisme, yang menjadi tulang punggung ilmu pengetahuan modern memiliki sisi terang dan juga sisi gelap. Pohon ilmu pengetahuan dibuat bercabang-cabang sebagai upaya untuk lebih mendalami ilmu pengetahuan sampai sedalam-dalamnya telah berhasil membuka realitas dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Sejak jaman renaisance abad 17 sampai saat ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bergerak begitu cepat. Itulah sisi terang dari positivisme.

Baca juga :  Menyoal Kriminalisasi Ulama

Meski demikian, banyak juga kelemahan oleh positivisme ini. Salah satu di antaranya adalah produk ilmuwan yang dihasilkan terkadang hanya bisa melihat persoalan secara parsial sesuai bidangnya. Kebiasaan melihat persoalan dalam lingkup yang kecil membuatnya tak mampu melihat persoalan secara holistik dan interdisipliner. Dia bisa saja menguasai satu bidang ilmu tertentu, tapi tidak bisa berkontribusi besar dalam masyarakat karena kompleksitas persoalan yang lintas keilmuan. Makanya jangan heran, ketika seorang professor yang ahli di bidang tertentu gamang ketika menyelesaikan suatu masalah.

Itulah yang membedakan seorang ilmuwan dengan seorang cendikiawan. Seorang ilmuwan bisa saja menghasilkan publikasi ilmiah di bidangnya secara spektakuler, bereputasi internasional dengan H index yang tinggi. Dia mampu menghasilkan sejumlah paten yang berguna bagi masyarakat. Tapi belum tentu bisa menjadi seorang cendikiawan. Seorang cendikiawan memahami persoalan secara holistik, mampu menjembatani interdisipliner sehingga bisa menyelesaikan persoalan dalam masyarakat.

Baca juga :  Harry Azhar Azis Dikukuhkan jadi Guru Besar Ilmu Ekonomi UNAIR

Cendikiawan adalah guru bagi masyarakat, dengan ilmunya mampu menuntun pada kebijaksanaan. Ciri seorang cendikiawan adalah berkontribusi aktif dalam menyelesaikan persoalan dimasyarakat dengan pengetahuan dan kebijaksanaannya. Tentu lebih mudah menjadi ilmuwan daripada cendikiawan.

Wallahu a’lam bis shawwab.

Dr. Muhammad Syahid, S.T., M.T. Assistant Professor pada Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar, Wakil Ketua Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (MASIKA-ICMI) Sulsel 2019-2024.

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com